web analytics
  

Batalkan Pesanan Grab Bakal Kena Denda, Ini Tanggapan Konsumen

Rabu, 19 Juni 2019 19:51 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Nasional, Batalkan Pesanan Grab Bakal Kena Denda, Ini Tanggapan Konsumen, Grab Indonesia, Denda Grab, Batalkan Pesanan Grab,

Calon penumpang menunjukan tarif ojek daring. (Antara)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Mulai Senin (17/6/2019), Grab Indonesia mulai melakukan ujicoba denda pada penumpang yang membatalkan pesananannya. Ujicoba ini diberlakukan di Kota Lampung dan Palembang dalam satu bulan ke depan.

Tak hanya berlaku bagi penumpang, uang denda pembatalan atau cancelation fee ini juga berlaku bagi pengemudi Grab itu sendiri. Denda berlaku apabila pengguna membatalkan pesanan di atas 5 menit setelah memesan, atau 5 menit setelah mengambil pesanan bagi pengemudi.

Nominalnya berbeda-beda, yakni Rp1.000 untuk pesanan GrabBike dan Rp3.000 untuk GrabCar. Bagi pengguna OVO, biaya tersebut akan diambil dari saldo yang dimiliki. 

Kebijakan tersebut tentu berpotensi menimbulkan pro dan kontra. Untuk itu, Ayobandung.com mencoba bertanya pada beberapa pengguna reguler Grab sehari-hari. 

Levi Rachmalia (23) misalnya. Pekerja swasta ini mengatakan, cancelation fee tersebut dianggap wajar diterapkan agar kedua belah pihak lebih bertanggung jawab dalam memesan dan menerima pesanan berkendara.

AYO BACA : Promo Grab Bisa Picu Monopoli dan Beratkan Mitra Driver

"Aku setuju kalau dikenakan denda ke penumpang atau driver. Karena, pihak yang cancel bisa lebih bertanggung jawab sama pilihan cancel-nya. Kalau gratis-gratis saja ketika mau cancel, keduanya bisa seenaknya tanpa mikirin kerugian di salah satu pihak," ungkapnya saat ditemui, Rabu (19/6/2019).

Selain Levi, salah satu pengguna Grab yang juga setuju atas rencana kebijakan tersebut adalah Astari Chikita (27). Menurutnya, denda tersebut dianggap wajar terutama bila dilakukan 5 menit setelah memesan atau menerima pesanan.

"Jadi enggak buang-buang waktu untuk nunggu, soalnya pengalaman saya sering banget sudah nunggu lama malah enggak ada kabar dari driver tanpa alasan yang jelas," ujarnya.

Dengan denda tersebut, dirinya yang sehari-hari berdomisili di Arcamanik tersebut berharap kejadian serupa tidak akan sering terulang.

Sementara itu, pendapat kontra diungkapkan warga Kiaracondong, Siti Fathonah (23). Dia mengatakan, sebagai penumpang, dirinya merasa dirugikan atas adanya kebijakan tersebut.

AYO BACA : Kerja Sama dengan Grab, Yamaha Gelontorkan Rp2,1 Triliun

"Namanya penumpang mah enggak mau sih ada denda-denda begitu, intinya merugikan. Apalagi kita enggak pakai jasanya, masa iya harus bayar. 
Terlebih kita cancel pasti ada alasan yang enggak bisa diceritain sama driver-nya," ungkapnya.

"Pengguna OVO langsung dipotong seribu-tiga ribu, dan kalau yang cash dibebankan ke pemesanan berikutnya. Lah ini ngarang, yang pesan tidak tahu apa-apa, malah merugi," tambahnya.

Raydinda Ramadhani (25) di sisi lain menilai bahwa denda yang diperuntukkan bagi kedua belah pihak adalah sesuatu yang adil. Pasalnya, pembatalan pesanan selama ini kerap berimbas pada meruginya salah satu pihak.

"Aku sih enggak masalah soalnya kan kasihan juga kalau pengemudinya udah jalan, terus tiba-tiba di-cancel, jadinya rugi. Terlebih kebijakan ini berlaku untuk keduanya, jadi adil-adil aja," ungkapnya yang merupakan warga bilangan Cikutra.

Meski demikian, dirinya berpendapat bahwa aturan tersebut perlu mempertimbangkan alasan-alasan lain dibalik pembatalan pesanan yang kadangkala tidak dapat dihindari.

"Gimana ketika misalnya lokasi driver jauh dengan pemesan? Kadang driver-nya juga yang enggak mau dan minta si pemesan itu meng-cancel. Ini peru diperhatikan terutama soal GPS-nya. Atau, driver-nya terebak macet dan meminta pengguna untuk cancel. Jadi perlu dipertimbangkan lagi," pungkasnya.

AYO BACA : Heboh Pelecehan Seksual Driver Grab, Komnas Perempuan: Perlindungan Aplikator Lemah

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers