web analytics

Tantangan (Calon) Pemimpin Negeri

clockRabu, 19 Juni 2019 16:07 WIB user-groupNetizen Netizen
Netizen, Tantangan (Calon) Pemimpin Negeri, sidang sengketa mk,bps,pemimpin negeri,pilpres,pemilu

Logo BPS

Sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) terkait Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) masih berlanjut. Sempat terlontar ada drama dalam sidang. Aksi saling tuding pun  berlangsung, sejak dimulainya siding sengketa hasil Pilpres 2019 pada 14 Juni 2019 lalu. Proses pemeriksaan akan terus berlangsung hingga keputusan  dibacakan pada Jumat, 28 Juni 2019 mendatang.

Terlepas dari berbagai perdebatan dan tudingan yang muncul, semoga keputusannya nanti dapat diterima semua pihak. Semua perlu bersabar. Bersabar menanti presiden dan wakil presiden terpilih, pun menanti anggota legislatif yang baru.

Siapa pun yang terpilih, semua mesti bersiap. Bersiap menyongsong masa depan Indonesia. Ke depan, tantangan yang dihadapi bangsa ini semakin besar. Tantangan terkait isu kesejahteraan sosial dan jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) diantaranya. Kita pun telah mendengar gagasan dan strategi kedua calon pemimpin negeri terkait isu ini, dalam debat terakhir calon presiden beberapa waktu lalu.

Ide dan gagasan program yang disampaikan keduanya, pada hakikatnya bernapaskan “pemerataan ekonomi”. Pemerataan ekonomi, mengurangi ketimpangan sebagai upaya keluar dari middle income trap . Pun demikian pengamat ekonomi dan keuangan Anton Hermanto Gunawan dan beberapa pakar ekonomi lainnya, menyatakan bahwa  middle income trap menjadi tantangan utama yang dihadapi Indonesia.

Mengatasi tantangan ini, Indonesia sebetulnya memiliki modal sangat besar. Dengan penduduk lebih dari 266 juta jiwa (proyeksi penduduk hasil SUPAS 2015, BPS) ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,17% di tahun 2018. Lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan periode 2014-2017. Pendapatan per kapita masyarakat pun menunjukkan peningkatan, dimana mencapai 56 juta rupiah per kapita pada tahun 2018. Setara dengan US$3.927.

Walaupun beberapa pakar ekonomi menyatakan, jika ingin keluar dari middle income trap maka pertumbuhan Indonesia haruslah berada pada kisaran 6-7% dengan pendapatan per kapita US$12.000. Ini tentunya tantangan besar bagi pemerintahan baru ke depan. Bagaimana  pemerintah perlu berupaya keras memacu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita, di mana sejak 2013 perekonomian Indonesia selalu tumbuh pada kisaran 5%. Tak hanya pertumbuhan yang perlu dipacu, namun di sisi lain masalah ketimpangan juga perlu diperhatikan. Ya, ketimpangan ekonomi atau pemerataan pendapatan adalah isu krusial lain yang dihadapi Indonesia.

Pada tahun 2018, lebih dari 80,06% ekonomi Indonesia bersumber dari aktivitas ekonomi di Pulau Jawa dan Sumatera. Sepuluh tahun sebelumnya (2008) peranan PDRB kedua pulau ini mencapai 80,89%. Hal ini menunjukkan bagaimana ekonomi masih tersentralisasi di Indonesia bagian barat. Walaupun ada sedikit pergeseran pada beberapa tahun terakhir ke wilayah timur.

Berbagai pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia timur yang digenjot selama beberapa tahun terakhir, terlihat berdampak bagi peningkatan ekonomi rakyat. Angka pertumbuhan ekonomi Sulawesi dan Papua yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi mencapai 6,65% dan Papua sebesar 6,69%.

Namun sekali lagi, pertumbuhan tinggi tidaklah cukup. Permasalahan negeri ini masih dihantui yang namanya kemiskinan dan ketimpangan. Ya, walaupun sepanjang 2018 kemiskinan Indonesia mampu menembus level satu digit, namun dengan jumlah penduduk yang besar maka jumlah penduduk miskinnya pun masih tergolong signifikan.

 Ketimpangan pendapatan masyarakat antarwilayah maupun antarindividu di Indonesia masih cukup tinggi. Belum lagi jika memperhatikan antargender. Data BPS menunjukkan, sumbangan pendapatan perempuan 2017 baru mencapai 36,62%. Rata-rata upah buruh di Indonesia kondisi Agustus 2018 menggambarkan upah buruh laki-laki lebih tinggi 1,28 kali dibandingkan upah buruh perempuan.   Ini tentunya adalah tantangan lainnya negeri ini.

Setelah upaya pembangunan infratruktur digenjot beberapa tahun belakangan ini, kiranya fokus pada pembangunan manusia di tahun ini adalah langkah tepat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebuah urgensi. Berbagai hal terkait hal ini. Aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, pembangunan infrastruktur pun ditopang oleh kualitas SDM. Manusia berkualitas, menjadi  pintu masuk meningkatkan pendapatan dan pemerataannya.

Sebagaimana dirilis BPS pada 15 April 2019 lalu, di tahun 2018 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia meningkat menjadi 71,39.  DKI Jakarta adalah provinsi dengan capaian IPM tertinggi yaitu sebesar 80,47 dan Papua memiliki capaian terendah, yaitu sebesar 60,06. Pada level kabupaten/kota, IPM tertinggi dicapai Kota Yogyakarta sebesar 86,11 dan Kabupaten Nduga dengan capaian IPM terendah di Indonesia sebesar 29,42. Selisih cukup jauh ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam hal pembangunan manusia antarwilayah di Indonesia. Maka, tak hanya pembangunan ekonomi yang masih senjang, pembangunan manusiapun masih mengalami hal yang serupa.

Saling terkaitnya antara kualitas SDM dengan berbagai aspek pembangunan di negeri ini, maka kiranya upaya pembangunan SDM perlu mendapat prioritas di samping pembangunan infrastruktur yang terus berjalan. Efek berantai diberikan oleh adanya peningkatan kualitas SDM. Kualitas SDM menjadi kunci peningkatan serapan tenaga kerja.

Kondisinya saat ini, 58,78% penduduk Indonesia yang bekerja berpendidikan SMP ke bawah (Agustus 2018). Rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk Indonesia yang berusia 25 tahun ke atas baru mencapai 8,17 tahun atau setara kelas VIII SMP. Harapan lama sekolah (HLS) penduduk usia 7 tahun di tahun 2018 mencapai 12, 91 tahun atau lulus SMA. Dari dimensi kesehatan, usia harapan hidup bayi saat lahir di tahun 2018 mencapai 71,20 tahun. Namun demikian, umur panjang saja tidak cukup. Bagaimana derajat kesehatan masyarakat bisa ditingkatkan hingga setiap masyarakat bisa berumur panjang dengan memiliki kualitas hidup sehat yang tinggi.

Upaya peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan lingkungan masyarakat perlu terus digiatkan. Hingga pada akhirnya pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas ekonomi mampu tumbuh seiring untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pada akhirnya Indonesia dapat mengatasi middle income trap.

Selamat datang pemimpin negeri. Selamat memimpin negeri dengan strategi jitu agar Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju. Kualitas SDM Indonesia bisa terus meningkat dan berdaya saing, hingga siap bertarung dalam era revolusi industri 4.0 saat ini. Semakin bersiap, tantangan semakin besar.

Isti Larasati Widiastuty

Statistisi Madya di BPS Provinsi Jawa Barat

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

terbaru

510 Hari Minus Sentuhan

Netizen Jumat, 23 Juli 2021 | 21:35 WIB

Kesakralan sentuhan tak lagi ada selama masa pandemi Covid-19.

Netizen, 510 Hari Minus Sentuhan, sentuhan,Pandemi Covid-19,Jaga Jarak,Sosial,Dampak Pandemi Covid-19

Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan...

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:30 WIB

Di Cekungan Bandung, sedikitnya ada 8 nama geografi yang berhubungan dengan harimau.

Netizen, Ciharegem, Dungusmaung, Cimaung, Pamoyanan: Toponimi yang Berhubungan dengan Harimau, Toponimi,Harimau,cekungan bandung,Kota Bandung

Jangan Berhenti pada Kata Maaf

Netizen Kamis, 22 Juli 2021 | 22:00 WIB

Akhirnya ada perwakilan pemerintah yang menyampaikan permintaan maaf kepada publik terkait dengan penanganan pandemi Cov...

Netizen, Jangan Berhenti pada Kata Maaf, Kata Maaf,Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan,PPKM Jawa-Bali,pemerintah Indonesia

Mengatasi Over Kapasitas Lapas

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 21:15 WIB

Hukuman penjara, meskipun menjadi mekanisme yang penting untuk menghukum pelaku, bukanlah merupakan “obat”.

Netizen, Mengatasi Over Kapasitas Lapas, Over Kapasitas,Lapas,Hukuman Penjara,Masalah Kejahatan,Kriminalitas

Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyel...

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 20:00 WIB

Masyarakat dunia menghadapi dua masalah yang sangat menganggu.

Netizen, Di Tengah Pandemi: Apakah Politik Bebas Aktif Indonesia Menjadi Penyelamat?, Politik Bebas Aktif,Indonesia,Politik Luar Negeri,Ketergantungan,dependent

Kesehatan Anak Indonesia

Netizen Rabu, 21 Juli 2021 | 18:15 WIB

Mengkhawatirkan, 1 dari 8 pasien Covid-19 di Indonesia ternyata anak-anak.

Netizen, Kesehatan Anak Indonesia, Kesehatan,Anak,Indonesia,pasien Covid-19,Case fatality rate,Hari Anak Nasional

Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:30 WIB

Kata-kata “Memanusiakan Manusia” nampaknya sangat berkaitan erat dengan kondisi pandemic yang saat ini kita alami.

Netizen, Memaknai ‘Memanusiakan Manusia’ di Tengah Pandemi, Memanusiakan Manusia,Pandemi,Renungan,Sosial,Si tou timou tumou tou

Anak Punk Juga Manusia

Netizen Selasa, 20 Juli 2021 | 22:15 WIB

Anak punk merupakan fenomena sosial yang kerap kali masih kita temui di pinggir jalan.

Netizen, Anak Punk Juga Manusia, Anak Punk,Sosial,identitas bangsa,Krisis Identitas

artikel terkait

dewanpers
arrow-up