web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Pengamat: Gugatan BPN Prabowo-Sandi Berpotensi Ditolak MK

Selasa, 11 Juni 2019 14:00 WIB M. Naufal Hafizh

Petugas keamanan melintas di depan Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis (23/5/2019). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM—Pengamat bidang hukum lembaga The Indonesian Institute, Muhammad Aulia Y Guzasiah, menilai gugatan yang diajukan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi berpotensi ditolak Mahkamah Konstitusi apabila menitikberatkan pada dalil dugaan kecurangan pasangan lawan.

"Jika gugatan yang diajukan memang dikehendaki untuk lebih menitikberatkan dalil-dalil kecurangan paslon 01, maka dapat dikatakan bahwa gugatan tersebut telah salah dialamatkan dan oleh karenanya berpotensi untuk tidak dapat diterima oleh MK," kata Aulia dalam keterangan di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Menurut Aulia, gugatan kecurangan pemilu seharusnya diajukan kepada Bawaslu bukan kepada MK yang telah digariskan hanya memiliki kewenangan mengadili sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU).

AYO BACA : Keamanan 9 Hakim MK Diperketat

Namun, kata dia, apabila dihendaki untuk menguak kesalahan-kesalahan perhitungan KPU dengan cara membuktikan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) yang ada di balik kesalahan tersebut, gugatan yang telah diajukan masih memiliki peluang untuk dilanjutkan ke tahap persidangan.

Dia mengatakan, berdasarkan pemberitaan sejumlah media, alat bukti yang disodorkan BPN hingga saat ini masih belum dibeberkan secara resmi kepada publik.

Sebagaimana diterangkan dalam Pasal 75 huruf a Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, khususnya untuk sengketa PHPU, gugatan yang diajukan seharusnya lebih banyak mendalilkan dengan jelas letak kesalahan hasil penghitungan suara yang diumumkan oleh KPU.

AYO BACA : MK Registrasi Gugatan Sengketa Pemilu Prabowo-Sandi Hari Ini

Dia menilai, apabila gugatan lebih banyak menitikberatkan pada kecurangan yang dilakukan oleh paslon 01, dengan alat-alat bukti berupa pemberitaan media daring semata, maka hal tersebut dapat dikatakan cukup menggelitik.

Meski demikian, dia menyampaikan, keputusan BPN menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan ke MK patut di apresiasi.

Menurutnya, langkah menempuh jalur hukum lebih baik ketimbang merecoki nalar masyarakat dengan cara-cara membangun narasi kontra demokrasi dan supremasi hukum, serta yang tidak dapat ditanggungjawabkan kepada publik, seperti dengan pengerahan massa atau gerakan kedaulatan rakyat.

"Adapun kata akhir dari ujung perselisihan ini, tentu saja bergantung pada pembuktiannya di persidangan. Permasalahan ini, sudah sepatutnya dikawal bersama, dan didudukkan dalam bingkai nalar sehat yang berpihak pada demokrasi dan negara hukum," ujar dia.

AYO BACA : TKN Sebut Perbaikan Dalil Gugatan BPN ke MK Mengada-ngada

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers