web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Penyandang Dana Pembunuh Bayaran pada 22 Mei dari Papan Atas

Rabu, 29 Mei 2019 08:19 WIB Andres Fatubun

Sejumlah massa Aksi 22 Mei terlibat kericuhan di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Polisi menangkap kelompok penyusup aksi damai di Jakarta berakhir rusuh pada 21-22 Mei yang berakhir rusuh. Enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka jual beli senjata api (senpi) ilegal. Hasil penyidikan, mereka berniat membunuh tokoh nasional dan pimpinan lembaga survei.

Melansir dari Liputan6, menurut penelusuran pihak Kepolisian, untuk membeli senpi ilegal para tersangka menghabiskan dana Rp 150 juta. Ternyata ini dikonversikan dari dolar Singapura.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Karopenmas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, enam tersangka ada aktor intelektualnya yang mendesain. Kemudian ada pendananya juga yang memberikan dana dalam bentuk dolar Singapura.

"Enam kan ada leader-nya, di situ kan ada aktor intelektual yang mendesain semua itu. Di atas ada pendana, juga yang kasih uang Rp 150 juta tapi dalam bentuk dolar Singapura. Kasih ke aktor intelektual, kasih kan ke ini (para tersangka)," kata Dedi di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Dia menegaskan, dana tersebut bukanlah honor mereka. Setelah melakukan eksekusi pembunuhan baru akan diberikan honornya, yang kini masih didalami berapa nilai upahnya jika berhasil mengesekusi.

AYO BACA : Dampak Aksi 22 Mei, Kapolri Larang Unjuk Rasa Sampai Malam

"Honor untuk aksi dikasih lagi. Dan ada janji juga. Pokoknya kalau berhasil mengeksekusi satu, yang apa namanya empat, tapi satu dulu yang harus dieksekusi, yang lembaga survei itu. Kalau misalnya kamu dapat itu, hajar dulu yang lembaga survei, nanti baru dikasih uang dan seluruh keluarganya ditanggung," ungkap Dedi.

Menurut dia, semua dana tersebut berbentuk tunai. "Cash, langsung dikasih cash. Kemudian dicairkan di money changer, Rp 150 juta langsung dia pakai itu," jelas Dedi.

Dia tak menepis bahwa pemberi dana ini adalah papan atas, lantaran bisa memberikan dana dalam bentuk dolar Singapura.

"Iya, pendananya iya. Pendananya kasih ke aktor intelektual, aktor intelektual ngasih kan ke koordinator lapangan. Koordinator lapangan dia mencari senjata, mencari eksekutor, dia me-mapping dimana tempat eksekusinya. Itu semua," kata Dedi.

Menurutnya, para tersangka ini semuanya motif ekonomi semata. 

"Ada order (pembunuhan) dari aktor intelektual. larinya ke ekonomi," Dedi memungkasi.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers