web analytics
  

Lipkhas KPPS: Pembuluh Darah Petugas Pemilu Pecah Sebelum Pencoblosan

Rabu, 15 Mei 2019 14:03 WIB Anya Dellanita

Ilustrasi.

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Tewasnya ratusan petugas pemilu 2019 dalam menjalankan tugasnya membuat masyarakat gempar. Menurut data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan penyebab utama kematian akibat gagal jantung.

Namun, ada beberapa petugas KPPS yang dikabarkan meninggal bukan karena gagal jantung. Salah satunya almarhum Dedi Julianto, seorang petugas KPPS di wilayah Babakan Ciamis, Bandung.

Almarhum Dedi dikabarkan meninggal karena pecah pembuluh darah. 

"Almarhum meninggal karena pecah pembuluh darah, bukan karena gagal jantung," ujar ibu almarhum, Hartinem, saat ditemui di rumahnya, Rabu (15/4/2019)

AYO BACA : Lipkhas KPPS: Ketua MK Mengaku Ikut Berdosa atas Jatuhnya Korban Jiwa Petugas Pemilu

Hartinem mengatakan semasa hidupnya almarhum tidak memiliki riwayat penyakit berat. Dia mengungkapkan almarhum memang memiliki riwayat penyakit darah tinggi. Namun, menjelang bertugas, almarhum dalam keadaan sehat.

"Anak saya memang punya darah tinggi. Tapi pas mau kerja sehat, jagjag," kata Hartinem.

Menurut Hartinem, almarhum Dedi Julianto sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sedang sakit. Dia juga tidak pernah mengatakan merasa tak enak badan saat itu.

"Enggak, nggak ada tanda-tanda penyakit sama sekali. Tau-tau drop aja. Anaknya juga nggak pernah bilang apa-apa," kata dia.

AYO BACA : Lipkhas KPPS: Curhat Petugas Pemilu, Sakit Dada hingga Darah Tinggi

Hal tersebut dibenarkan kakak korban, Dini Indriani. Menurut Dini, adiknya itu memang agak pendiam, sehingga tidak pernah membicarakan apapun jika dia merasa sakit.

"Iya, anaknya pendiam sih ya. Jadi ada apa-apa teh gak ngomong. Cuma memang nggak kelihatan kayak orang sakit," kata Dini.

Meskipun tidak mengalami gejala-gejala sakit, Hartinem mengatakan dia dan almarhum sempat mengalami kejadian mistis sebulan sebelum almarhum meninggal. Dia mengaku mencium bau beberapa kembang yang sering ada di wilayah kuburan.

"Sebulan sebelum meninggal, saya sama anak saya nyium bau kembang. Anak saya juga bilang 'asa bau jurig ya Mah,' katanya. Anehnya cuma saya sama dia yang nyium," kata Hartinem.

"Seminggu sebelum meninggal baunya hilang," tambah Hartinem.

Almarhum Dedi Julianto Julianto meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin pada tanggal 16 April 2019, tepat sehari sebelum pemilu dimulai. Sebelum meninggal, almarhum sempat berpindah-pindah rumah sakit, setelah ambruk dia dilarikan ke RS Kebonjati, lalu dipindahkan ke RS Santosa dan terakhir RSHS.

Alasan dipindahkan tersebut menurut keluarga korban dan ketua PPK Sumur Bandung, Nanang Supriyatna, adalah karena fasilitas tidak memadai.

AYO BACA : Lipkhas KPPS: Pemilu 2019, Amanat Negara dan Beban yang Tak Manusiawi

Editor: Andres Fatubun

artikel lainnya

dewanpers