web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tradisi Warga Kota Bandung Menyambut Ramadan di Tahun 1920-an

Sabtu, 4 Mei 2019 15:55 WIB Adi Ginanjar Maulana

Suasana Jalan Naripan di tahun 1913. (@pinterest) (Ist)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Kota Bandung di tahun 1920-an pernah dijuluki dengan nama kinder kerkhof atau kuburan balita. 

Sejarawan Haryoto Kunto dalam bukunya Ramadhan di Priangan menuliskan saat itu Kota Bandung merupakan kota dengan angka kematian tertinggi di Indonesia dan penduduk memiliki kebiasaan memakamkan jenazah bayi di pekarangan rumah atau kebun.

Tak heran jika komplek pekuburan tersebar dimana-mana. Misalnya di belakang Masjid Agung, Kalipah Apo, Sentiong, Siti Munigar, Jl Banceuy, Kebon Kawung, Cicendo, Kebon Jahe, hingga Cipaganti.  

AYO BACA : Pawai Obor, Ajak Anak Gembira Sambut Ramadan

Pendek kata, setiap babakan atau kampung memiliki kabuyutan atau makam tua sendiri-sendiri. Maka sebulan sebelum Ramadan, secara gotong royong warga menata dan membersihkan pekuburan sekaligus melakukan kegiatan ziarah.

Kegiatan bersih makam ini dikenal juga dengan nama nyekar. Tradisi nyekar atau berziarah ke makam sanak saudara ini acapkali membuat kompleks pemakaman mendadak penuh setiap satu kali dalam setahun.

Lama kelamaan kegiatan bersih makam ini merembet menjadi gotong royong membersihkan desa. Kegiatan yang dilakukan berupa perbaikan jalan kampung, membersihkan selokan, mengapur pagar dan bangunan, hingga bebersih lingkungan kampung.

AYO BACA : 8 Tempat Ngabuburit Asyik dan Gratis di Kota Bandung

Tradisi bebersih ini masih berlangsung hingga sekarang. Pada Jumat (3/5/2019), sekitar 3500-an warga kota Bandung melakukan 'Beresih Bandung' di kawasan Alun-alun Kota Bandung. 

Sayangnya tradisi yang lahir dari kampung dan guyub ini sudah jarang dilakukan oleh warga kampung sendiri.

Tradisi menyambut bulan puasa lainnya yang dilakukan pada seabad silam adalah "munggah". 

Menurut Haryoto Kunto, "munggah" yang diartikan warga kala itu adalah waktu untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Yang Maha Kuasa dengan cara melakukan ibadah sebaik-baiknya selama Ramadan.

Ciri khas yang dilakukan oleh warga ketika menjalani munggah adalah dengan makan bersama. 

Bedanya dengan zaman sekarang, makan bersama saat itu dilakukan dengan cara botram di tempat wisata, alam terbuka, hingga kebun milik pribadi. Sedangkan di era kekinian, acara makan bersama ini dilakukan di restoran tradisional, modern, dan cepat saji. 

AYO BACA : Sekda Jabar: Ramadan Harus Jadi Sarana Peningkatan Ibadah dan Kerja Keras

Editor: Andres Fatubun

artikel lainnya

dewanpers