web analytics
  

Sari Kunyit Gantikan Tinta Ungu di Kampung Tradisional Kota Cirebon

Rabu, 17 April 2019 14:12 WIB Erika Lia

Seorang warga di TPS 57 Kampung Bendakerep, RW 11 Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menunjukkan ujung jarinya yang telah dicelup ke dalam sari kunyit sebagai tanda telah mencoblos, Rabu (17/4/2019). (Erika Lia/ayobandung.com)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Sari kunyit sebagai pengganti tinta ungu bagi warga Kampung Bendakerep dan Kampung Lebakngok di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, telah dilegalkan otoritas penyelenggara pemilu. Penggunaan tinta ungu sebelumnya mengundang keengganan warga setempat menyalurkan hak pilihnya.

Penggunaan sari kunyit digunakan empat TPS yang berada di dua kampung di RW 11 Kelurahan Argasunya. Keempat TPS itu masing-masing TPS 57, 58, 59, dan 60.

"Sebelumnya warga di dua kampung ini selalu menolak ikut pemilu. Alasannya tinta yang dipakai sebagai penanda," ungkap seorang warga yang juga tokoh masyarakat setempat, Agung, seusai menggunakan hak pilihnya di TPS 57, Rabu (17/4/2019).

Tinta ungu yang dipakai pada umumnya, lanjut dia, dikhawatirkan menutupi pori-pori dan menghalangi syarat sahnya wudhu, sehingga warga tak bisa melaksanakan ibadah salat. Penolakan terhadap tinta ungu disampaikan para pemuka agama atau kyai setempat.

AYO BACA : Via Vallen Rela Mudik Demi Nyoblos

Warga di dua kampung yang dikenal masih lekat dengan nuansa keislamannya pun memilih mematuhi para kyai tersebut. Imbasnya, tingkat partisipasi pemilu di dua kampung itu sempat sangat rendah, bahkan KPU harus jemput bola.

Penggunaan sari kunyit pun kemudian disepakati sebagai pengganti tinta ungu sebagai bentuk kompromi. Akhirnya, pemanfaatan sari kunyit mentradisi di dua kampung itu setiap pesta demokrasi digelar.

"Warga sini masih manut kata kyai," ujarnya.

Penggunaan kunyit justru dirasa lebih baik. Menurutnya, model partisipasi pemilu merupakan tradisi baru masyarakat setempat. 

AYO BACA : Kaki Sakit Tertimpa Lemari, Syahrini Tetap Semangat ke TPS

Senada, Petugas pengawas TPS di TPS 57, Iis Agung Uswatun Hasanah mengatakan, penggunaan kunyit sebagai tanda telah memilih bukanlah masalah. Terlebih, alasannya berkaitan dengan peribadatan.

"Sudah ada kesepakatan dengan kyai sini untuk pakai kunyit. Ini lebih sebagai bentuk kearifan lokal yang kini telah menjadi budaya setiap pemilu di kampung ini," tuturnya.

Ketua KPU Kota Cirebon, Didi Nursidi memastikan, penggunaan sari kunyit di kampung tradisional Cirebon tetap sah. KPU di tingkat provinsi dan pusat telah pula mengetahui dan melegalkan penggunaan sari kunyit.

"Dalam peraturan KPU dan Undang Undang memang tidak mengharuskan tinta. Hanya menyebutkan harus ada penandaan setelah mencoblos," jelasnya.

TPS di Kampung Bendakerep dan Lebakngok, diakuinya sebagai TPS terjauh dari pusat kota. Pemilu 2019 ini menjadi pemilu kelima yang diikuti warga setempat, dimulai Pilpres 2009, berlanjut pada Pilkada Kota Cirebon 2013, Pilpres 2014, Pilkada Serentak 2018, dan Pemilu 2019.

KPU Kota Cirebon sendiri telah menyiapkan sari kunyit sebagai bagian dari logistik pemilu untuk keempat TPS itu. Pihaknya pun mencantumkan penggunaan sari kunyit itu dalam berita acara pelaksanaan pemilu.

Sejauh ini, tegasnya, hanya di kampung itu yang menggunakan sari kunyit sebagai pengganti tinta ungu. "Tradisi ini hanya ada di Kota Cirebon, di tempat lain tidak ada," tandas Didi.

AYO BACA : Ketua KPPS di Purwakarta Meninggal di Tengah Pemungutan Suara

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers