web analytics
  

Optimisme Bahasa Sunda dan Media Sosial

Rabu, 10 April 2019 11:42 WIB Fira Nursyabani
Bandung Baheula - Baheula, Optimisme Bahasa Sunda dan Media Sosial, Bahasa Sunda, budaya Sunda, identitas kesundaan

Peneliti Literasi Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia. (Fathia Uqimul Haq/ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Peneliti Literasi Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia, melihat ada kecenderungan anak muda kembali menggunakan Bahasa Sunda. Meskipun beberapa tahun ke belakang ada orang yang menilai Bahasa Sunda akan punah di tahun sekian, nyatanya bahasa ini justru mengalami optimistis terus berkembang dan digunakan sebagai identitas kesundaan.

Salah satu indikatornya, kata Atep, adalah bobotoh Persib. Mereka yang kebanyakan terdiri atas anak- anak muda banyak yang menggunakan Bahasa Sunda. "Apalagi momentumnya itu sangat besar, dimungkinkan karena adanya internet, pengguna medsos. Kalau menurut saya itu sangat besar perannya sebagai wahana pengenalan kembali bahasa sunda," kata Atep, kepada ayobandung.com.

Hadirnya media sosial di era saat ini membangun optimisme kebangkitan penggunaan Bahasa Sunda. Kendati dari segi bahasa dan etika bahasa masih dinilai kurang, jika mereka  terus bisa menggali dan diperbaiki seiring dengan waktu, maka Bahasa Sunda kembali semarak.  

AYO BACA : Ada Pengaruh Budaya, Banyak Kata yang Sama Punya Makna Berbeda

Atep memaparkan bahasa itu hidup seiring dengan manusia, yang bersifat dinamis dan sesuai dengan kesepakatan antara manusia. Seperti halnya Bahasa Sunda di tahun 1500-1600 berbeda dengan tahun 800-1900. "Beda dengan sekarang juga," katanya.

Selain itu, bahasa juga dipengaruhi oleh sesuatu yang datang ke kebudayaan tersebut. Kalau kasusnya menutup diri seperti masyarakat Baduy, bisa jadi bahasanya tidak berubah. Karena mereka punya mekanisme untuk mengisolasi diri serta mengeluarkan pengaruh asing dari dalam dirinya. 

"Kemungkinan akan tetap begitu. Meski dalam kenyatannya tidak begitu. Baduy muda kan mulai ke luar, dagang madu dagang pakaian, aksesori," jelasnya. 

AYO BACA : Fenomena dan Arti di Balik Kata 'Tuman' dalam Bahasa Sunda

Bahkan, masyarakat Baduy sekarang bisa menggunakan gawai. Tetapi mereka tetap mempunyai mekanisme untuk melindungi diri dalam bentuk Baduy pada kasus Baduy luar.  

"Kalau saya pikir yang menjadi perisai dari pengaruh luar, beda dengan konteks kita di luar baduy yang tidak punya mekanisme untuk menangkal pengaruh luar itu," ujarnya.

Bahasa diibaratkan seperti cangkang dengan isi yang sama. Meski bungkusnya lain-lain, bahasa mempersatukan manusia dan mempengaruhi lingkungan budaya dan sosial suatu masyarakat. 

"Antara satu fase dengan fase lainnya pasti beda, tetapi intinya spirit Sunda mah sama," katanya. 

AYO BACA : Selasar GBS, Pusat Aktivitas Budaya Sunda

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers