web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tiket Garuda tak Terpengaruh Tarif Batas Bawah Baru

Senin, 1 April 2019 13:12 WIB Fira Nursyabani

Petugas Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi GMF melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 6 milik Garuda Indonesia di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/3/2019). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Penetapan aturan tarif batas bawah (TBB) yang baru, yakni 35% dari tarif batas atas tidak mempengaruhi harga tiket penerbangan Garuda Indonesia. Aturan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2019 tentang Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri. 

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah kepada Antara di Jakarta, Senin (1/4/2019), menjelaskan hal itu disebabkan karena Garuda Indonesia tidak bermain di tarif batas bawah. “Enggak terpengaruh, enggak pernah jual di sekitar TBB juga, mungkin kalau LCC (penerbangan berbiaya murah),” kata Pikri.

Ia menuturkan maskapai dengan layanan lengkap (full service) seperti Garuda cenderung bermain di tarif batas atas (TBA). “Tapi, kita juga enggak pernah sampai mentok di batas atas, kita memenuhi aturan pemerintah sesuai koridor,” katanya.

AYO BACA : Penumpang Pesawat Domestik Turun Drastis

Dengan adanya peraturan tarif batas bawah yang baru, yakni 35% dari tarif batas atas untuk penerbangan domestik, Pikri menilai akan ada iklim bisnis transportasi yang sehat, bukan hanya transportasi udara melainkan juga transportasi moda lain.

Lebih lanjut dia menjelaskan apabila tiket penerbangan domestik terlampau murah, maka tidak tertutup kemungkinan akan mematikan moda transportasi lainnya karena harganya bersaing.

“Contoh lima tahun lalu, naik pesawat dari Tanjung Karang (Lampung)-Jakarta itu Rp180.000, sementara bus Rp250.000, orang lebih memilih naik pesawat, bus lama-lama mati, kalau mati lapangan pekerjaan berkurang karena hanya terfokus pada maskapai,” katanya.

AYO BACA : Ditanya Hasil Pertemuan dengan Boeing, Dirut Garuda Bungkam

Selain itu, lanjut dia, apabila maskapai berlomba-lomba untuk memasang tarif semurah-murahnya, maka akan terjadi perang harga. Peraturan terkait tarif ini, menurut Pikri juga sangat berimbas ke sektor lainnya, seperti pariwisata dan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM).

“Kalau pun peak atau low season, maskapai enggak boleh semena-mena pasang harga setinggi-tingginya atau serendah-rendahnya, meskipun tiket itu sangat diperlukan. ini juga berimbas ke pariwisata, perhotelandan UMKM, seperti pusat oleh-oleh. Kalau enggak ada penumpang pesawat, pariwisata juga akan berkurang, oleh-oleh juga enggak ada yang beli,” katanya.

Namun, Pikri mengatakan saat ini pihaknya membuka potongan harga hingga 50% ke semua rute dalam rangka online travel fair hingga 13 Mei mendatang. Namun tiket promo tersebut sangat terbatas, karena itu diperlukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kebijakan tersebut.

“Kita sudah menerapkan harga coret di online travel agent, jadi pembeli tahu harga aslinya dan sisa kuota tiket promo dan masyarakat perlu tahu kalau tiket promo ini terbatas dan cepat sekali dibeli, bukannya kita tidak memberikan promo,” katanya. 

AYO BACA : Lion Air Turunkan Harga Tiket Pesawat

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers