web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Sejarah Pabrik Kina di Jalan Pajajaran

Senin, 25 Maret 2019 12:44 WIB Adi Ginanjar Maulana

Bangunan pabrik kina di Jalan Pajajaran, Bandung. (Anya Dellanita/ayobandung) (ist)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM -- Sebagai kota yang sempat direncanakan sebagai ibu kota Hindia-Belanda, Bandung tentunya memiliki banyak gedung peninggalan Belanda. Walaupun banyak yang fungsinya sudah berubah, banyak gedung yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Salah satunya, gedung yang terletak di Jalan Pajajaran ini.

Gedung ini memang kini dipakai oleh perusahaan farmasi Kimia Farma. Namun, tahukah kamu kalau gedung tersebut dulunya adalah sebuah pabrik?\

Dikutip dari tulisan pegiat sejarah Vecco Suryahadi dalam situs milik Komunitas Aleut, Senin (25/3/2019), gedung ini dibangun karena pada abad ke-19, tersebar sebuah penyakit mematikan di Batavia (sekarang Jakarta) yang membuat orang-orang Eropa menjadi korban. Saking banyaknya korban berjatuhan, dulu Batavia sempat dijuluki Het Graf van Het Oosten atau kuburan di negeri timur.

AYO BACA : Bandung Baheula: Kisah di Balik Patung Pastor Taman Maluku

Penyakit tersebut adalah malaria. Saat itu, diketahui kalau kulit pohon kina adalah obat terampuh untuk menyembuhkan penyakit itu. Karena itu, pada tahun 1851, Ch. F. Pahud yang menjabat sebagai Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda mengusulkan Franz Wilhelm Junghuhn untuk membudidayakan kina di Jawa. Di tahun yang sama, Prof. de Vriese mendapatkan biji Kina paling baik dari Perancis dan mulai menanam di Kebun Raya Bogor.

Namun, itu semua tak cukup. Untuk menghasilkan obat kina yang banyak, pemerintah Hindia Belanda membutuhkan sebuah pabrik pengelolaan kina. Oleh karena itu, pemerintah Hindia Belanda mendirikan pabrik kina bernama Bandoengsche Kinine Fabriek N.V pada tanggal 28 Juli 1896, berlokasi di batas barat Bandung.

Dari sinilah pabrik ini mulai berjalan dan dipindah-pindahkan urus kepengelolaaanya.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Bandoengsche Melk Centrale, Pusat Pengolahan Susu Termodern Hindia-Belanda

"Pada awalnya, pemerintah kolonial yang mengelola pabrik ini. Lalu, pada tahun 1939, pengelolaan pabrik diserahkan kepada Indische Combinatie Voor Chemische Industrie (Inschen)," kata Vecco dalam tulisannya.

Tiga tahun setelahnya, saat perang dunia kedua meletus, Jepang mengambil alih pabrik itu, namanya pun diubah menjadi  Rikuyun Kinine Seizoshyo.  Selama Jepang berkuasa, pembuatan pil dan tablet kina masih dilakukan.

Sayangnya, pil-pil ini segera diangkut ke Jepang dan tempat-tempat lain untuk kepentingan Jepang dalam perang Pasifik. Untuk keperluan dalam negeri, Jepang hanya menyediakan hasil yang disebut tota kina, yaitu kina yang belum dipisahkan dari alkaloid lainnya.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945, pabrik kina diambil alih oleh perusahaan swasta bernama Bandoengsche Fabriek N.V. Setelah 10 tahun beroperasi, pabrik ini diserah kepada Combinatie Voor Chemische Industrie dengan akte Mr. R. Soewardi tertanggal 3 November 1954.

Setelah pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi perusahan-perusahaan Belanda di Indonesia pada tahun 1958, pabrik ini jatuh ke tangan Indonesia. Nama pabrik ini pun dirubah lagi menjadi Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma berdasarkan SP Menkes tertanggal 18 Juli 1960.

Pada tahun 1971, pabrik ini berubah nama lagi menjadi PT. Kimia Farma. Walaupun tak lagi membuat obat kina, pabrik ini masih beroperasi hingga sekarang, kadang terdengar bunyi mesinnya yang melengking.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Gereja Bethel dan Loncengnya yang Berdentang Hampir Seabad Lalu

Editor: Andres Fatubun

artikel lainnya

dewanpers