web analytics
  

Curhat Penggemar PUBG Soal Wacana Fatwa Haram MUI Jabar

Sabtu, 23 Maret 2019 19:26 WIB Nur Khansa Ranawati

Game PUBG

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM---Wacana pengharaman game daring pubg oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat belakangan mencuat di media sosial. Meskipun saat ini masih berada dalam pengkajian, namun pro-kontra sudah bermunculan.

Salah satu hal yang menjadi pertimbangan bagi MUI Jabar dalam mengeluarkan fatwa tersebut adalah karena unsur kekerasan yang dikandung dalam pubg, yang diduga menjadi inspirsi pelaku teror penembakan Muslim di Selandia Baru.
"Teroris yang di Selandia Baru terinspirasi oleh game, dan game kan enggak cuma satu, tapi yang menginspirasi betul teroris tersebut adalah pubg. Kalau satu orang sudah terinspirasi, nanti khawatir ditiru orang lain," jelas Sekretaris MUI Jabar kepada Ayobandung.com, Kamis (21/3/2019).

Salah satu penyuka game bergenre battle royale tersebut, Ferdian (25) mengatakan dirinya tidak setuju dengan wacana tersebut. Dia menilai, pubg tidak akan memiliki dampak buruk apabila dimainkan oleh orang yang cukup umur.

"Selain itu bagi sebagian orang dan termasuk saya, pubg merupakan game untuk melepas penat. Kita juga bisa menemukan teman baru di game ini," jelasnya ketika dihubungi Ayobandung.com, Sabtu (23/3/2019).

Dia mengkhawatirkan, apabila fatwa haram jadi diturunkan, hal tersebut berujung pada pelarangan peredaran game pubg oleh pemerintah. 

"Apabila sampai dilarang, hal ini bisa berdampak buruk di dunia internasional, bahwa Indonesia melarang peredaran sebuah game. Bahkan bisa saja developer game ogah meliris gamenya di Indonesia," ungkapnya.

Menanggapi soal alasan dikajinya fatwa tersebut dan hubungannya dengan aksi terorisme di Selandia Baru, Ferdian menilai hal tersebut sebenanrya tidak ada hubungannya dengan pubg.

"Adapaun jika dikaitkan dengan kasus penembakan kemarin, seharusnya jangan menyalahkan gamenya. Sama seperti pisau, game bisa bermanfaatan jika digunakancoleh orang yang tepat dan peruntukan yang benar," pungkasnya.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan Yudistira (28). Dia menilai, seharunya bukan game-nya yang dilarang, melainkan edukasi sejak dini untuk menghindari hal serupa terorisme kembali terjadi.

"Kalau memang menjadi ketakutan MUI bahwa anak-anak akan mencontoh pubg, seharusnya tidak mengharamkan game nya, tapi memberi edukasi apapun yang berhubungan dengan penanaman moral sejak dini, yang nantinya dikaitkan dengan game.

Jadi mengarahkan, dan mengontrol. Bukan mengharamkan," jelasnya.

Lagipula, Yudistira menilai, apabila diharamkan, dirinya akan tetap memainkan game tersebut. Dia menyayangkan wacana fatwa haram tersebut karena saat ini pubg tengah berkembang di ajang kompetisi resmi internasional.

"Dampak diharamkan, secara langsung buat saya tidak ada, tetep main saja. Tapi mungkin orang yang menganggap serius tidak akan main pubg lagi. Padahal sekarang pubg termasuk kategori E-Sport, dan bisa ada orang yang berprestasi lewat kompetisi resmi. Bila diharamkan, mungkin cabang game pubg dari Indonesia tidak bisa berkembang di E-Sport," pungkasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers