web analytics
  

Bandoeng Baheula: Bandoengsche Melk Centrale, Pusat Pengolahan Susu Termodern Hindia-Belanda

Jumat, 8 Maret 2019 13:02 WIB Anya Dellanita
Bandung Baheula - Baheula, Bandoeng Baheula: Bandoengsche Melk Centrale, Pusat Pengolahan Susu Termodern Hindia-Belanda, Bandoengsche Melk Centrale, bangunan bersejarah Bandung

Bandoengsche Melk Centrale di Jalan Aceh. (Anya Dellanita/ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Saat melewati Jalan Aceh, Anda akan melihat sebuah restoran bertuliskan "BMC". Nama restoran tersebut sebenarnya kepanjangan dari Bandoengsche Melk Centrale yang dalam bahasa Indonesia artinya Pusat Susu Bandung.

Mendengar namanya yang terkesan Belanda banget, pasti langsung terlintas di pikiran jika bangunan ini merupakan bangunan zaman dulu. Memang benar, BMC ini sudah berdiri sejak 1928.

Dikutip dari buku Produsen Ontbitjt Walanda Bandoeng, Kamis (7/3/2019), awalnya BMC dibangun karena adanya peningkatan produksi susu dari peternakan-peternakan sapi perah di daerah Bandung. Hal ini tentunya menjadi masalah, mengingat susu tidak dapat bertahan lama karena rentan terhadap bakteri.

Sayangnya, para peternak sapi perah dan pengusaha susu tidak memiliki peralatan yang memadai untuk mengawetkan susu. Hal ini mendorong timbulnya gagasan di antara para peternak sapi perah dan pengusaha susu untuk mendirikan Melk Centrale (pusat pengolahan susu).

Pembangunan Melk Centrale ini sempat menuai pro dan kontra di kalangan para peternak dan produsen susu berskala besar dan kecil, karena dikhawatirkan akan merugikan pihak peternak dan produsen susu kecil, tetapi akhirnya masalah dapat terselesaikan dengan baik. Setelah itu, terbentuklah sebuah Pusat Pengolahan Susu yang berbentuk koperasi di Kota Bandung yang dinamai Bandoengsche Melk Centrale pada akhir 1928.

Sejak berdiri, BMC dikenal sebagai satu-satunya koperasi pusat pengolahan susu di Hindia Belanda dengan peralatan pabrik pengolahan susu yang berteknologi tinggi dan termodern pada zamannya. Pabrik ini sudah melakukan pengolahan susu dengan sistem pasteurisasi.

Lahan di Kebon Sirihweg No.58 (sekarang Jalan Aceh No.30) dipilih sebagai lokasi bangunan BMC karena dianggap strategis. Kebon Sirihweg bermuara di dua jalan utama (Logeweg, sekarang Jl. Wastukencana dan Tjitjendoweg, sekarang Jl. Cicendo) sehingga memudahkan tahap pengangkutan susu dari peternakan ke BMC dan tahap pengantaran susu ke para pelanggan susu, baik yang bermukim di kawasan Bandung utara maupun selatan. 

Selain itu, pemilihan lokasi juga didasarkan pada kedekatan letak dan kemudahan akses ke lapangan terbang Andir dan stasiun kereta api. Lahan yang dipergunakan untuk bangunan BMC adalah milik Louis Hirschland dan van Zijl, pemilik peternakan Generaal de wet Hoevedi di Cisarua.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Gereja Bethel dan Loncengnya yang Berdentang Hampir Seabad Lalu

Bangunan BMC rampung pada 1929 dengan gaya arsitektur Art Deco Geometric. Bagian depan bangunan difungsikan sebagai kedai susu, sementara kantor dan instalasi pengolahan susu terletak di belakang kedai susu. 

Instalasi pengolahan susu dilayani oleh pekerja pribumi di bawah pengawasan orang Belanda. Demi menjaga kualitasnya, tempat ini diawasi oleh Veterinair-Hygienischen en Burgerlijken Volksgezondheids Dienst (Dinas Kesehatan dan Kebersihan Hewan dan Kesehatan Masyarakat).

Untuk pendistribusian, BMC menerima dua kali kiriman susu tiap hari dari para peternak yang diangkut di dalam bejana antikarat (Stainless steel) berukuran 10-50 liter. Bejana itu kemudian ditutup rapat dan disegel.

Susu dari setiap peternakan diambil sampelnya dan diberi nomor kode sesuai nomor setiap peternakan. Sampel tersebut akan dianalisis di laboratorium untuk diteliti sifat dan kadar susunya, dan akan dipasteurisasi jika memenuhi syarat. Susu yang telah dipasteurisasi akan dikirimkan ke para konsumen atau dijual oleh pedagang eceran di kota Bandung dan ke luar kota Bandung.

Selain susu murni hasil pasteurisasi, BMC juga menjual susu murni tanpa lemak, susu coklat, mentega, keju, es krim, susu cair untuk bayi, dan susu bubuk untuk bayi. Semua produk itu dijual di kedai susu di bagian depan gedung BMC.

Dulu, kedai susu BMC sering dijadikan tempat pertemuan dan bersantai orang-orang Belanda. Selain dijual di BMC langsung, pengiriman susu juga dilakukan oleh seorang kurir dengan menggunakan sepeda yang dilengkapi tas besar dari kain terpal atau goni di bagian belakang sepeda. 

Tas besar tersebut memilki kantung-kantung kecil untuk penempatan botol-botol susu sehingga botol-botol itu tidak berbenturan. Pengantar susu akan meletakkan botol susu di dekat pintu masuk rumah konsumen, sekalian mengambil botol kosong bekas kiriman susu sebelumnya.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: 8 Banjir Besar yang Pernah Terjadi di Cikapundung

Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942-1945), BMC diambil alih dan dikelola oleh Bandung Tiku Seimubu (Pemerintahan Militer Kota Bandung) dan nama BMC diganti menjadi Koperasi Soesoe Bandoeng. Pada masa pendudukan Jepang, koperasi tersebut tidak beroperasi secara maksimal akibat banyaknya pengusaha dan pegawai berkebangsaan Belanda dijebloskan kedalam kamp internir.

Pada masa perang kemerdekaan, nama Koperasi Soesoe Bandoeng diubah kembali menjadi Bandoengsche Melk Centrale karena dikelola kembali oleh orang Belanda. BMC dikelola oleh Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, yaitu NICA dengan AMACAB pada pasukan sekutu. Namun, BMC tidak berproduksi secara maksimal karena pasokan susu tidak memadai.

Setelah perang kemerdekaan berakhir pada 1950, BMC dikelola kembali oleh pihak koperasi. Pengelolaan BMC dilakukan oleh orang Belanda pegawai BMC yang tidak kembali ke negaranya dan para pekerja pribumi yang telah bekerja di BMC sejak masa Hindia Belanda.

BMC mencoba berproduksi kembali untuk melayani para konsumen dengan jumlah produksi terbatas mengingat jumlah sapi perah yang tersisa di peternakan sapi perah di Bandung dan sekitarnya masih sedikit.

Pada 1958, BMC dinasionalisasi pemerintah Indonesia. Hal ini brrdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958 tentang pengambilalihan modal perusahaan-perusahaan dan badan usaha milik Belanda dan UU No. 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda. Akhirnya, Penguasan Perang Daerah Jawa Barat mengambilalih BMC, oleh Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi dan dikelola oleh Kesdam (Bagian Kesehatan Daerah Komando Militer) III Siliwangi.

Peternakan sapi perah diaktifkan kembali, dokter hewan juga disediakan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan sapi perah. Tak hanya itu, pegawai BMC yang kembali dari pengungsian dipekerjakan lagi, sehingga BMC dan peternakan sapi perah dapat beroperasi dan beproduksi kembali dengan jumlah yang sama seperti pada masa Hindia Belanda.

Pada 1961, Penguasa Perang Daerah Jawa Barat menyerahkan BMC kepada Pemerintah Daerah Tk. I Jawa Barat, yaitu kepada Departemen Peternakan Jawa Barat. Nama BMC diubah menjadi Pusat Susu Bandung (PSB). 

Pada 2002, status Perusahaan Daerah Industri Provinsi Jawa Barat berubah dan namanya menjadi PT. Agronesia. Nama PSB dikembalikan menjadi Bandoengsche Melk Centrale (BMC) hingga saat ini.

AYO BACA : Bandoeng Baheula: Asal-usul Julukan Parijs van Java untuk Bandung

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers