web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Dugaan Malpraktik RS Bekasi, Walkot Minta Dinkes Lakukan Penyelidikan

Selasa, 5 Maret 2019 15:45 WIB Ananda Muhammad Firdaus

Ira Puspita Rahayu, sopir bus Transjakarta yang diduga menjadi korban malpraktik sebuah rumah sakit di Bekasi. (Ananda M Firdaus/Ayo Media Network)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM -- Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan akan meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bekasi dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi untuk melakukan penyelidikan terkait dugaan malpraktik oleh salah satu rumah sakit di Bekasi terhadap Ira Puspita Rahayu (38). Rahmat mengaku tidak ingin peristiwa dahulu yang sempat mencuat atas dugaan malpraktik di salah satu rumah sakit swasta kembali terulang.

"Kita minta aja komisi medik IDI, kan dia ada bagiannya dengan Dinkes nanti, sampai sejauh mana (dugaan malpraktek). Jangan sampai seperti dulu pernah mencuat," ujar Rahmat, Selasa (5/3/2019).

Dia menambahkan, pihaknya mempunyai wewenang untuk melakukan penyelidikan meskipun rumah sakit terkait adalah rumah sakit swasta. Menurutnya, rumah sakit sebagai sarana berobat masyarakat harus bisa memberikan pelayanan dengan optimal, alih-alih telah mendapat izin praktek dari Dinkes Kota Bekasi.

AYO BACA : Diduga Jadi Korban Malpraktik RS Bekasi, Sopir Transjakarta Surati Menkes

"Dinkes punya kewenangan (menyelidiki) karena sebagai unit bertanggung jawab sebagai proses pelayanan kesehatan di Kota Bekasi, karena izin praktek rumah sakit atau dokter lewat Dinkes. Bisa saja bila diketemukan bukan saja soal urusan pidana, tapi SIP-nya bisa kita cabut," ungkapnya.

Ira Puspita Rahayu, yang berprofesi sebagai sopir bus Transjakarta, mengatakan awal mula dugaan malpraktik berkembang saat ia menjalani proses operasi usus buntu dengan menggunakan fasilitas BPJS pada 11 Januari lalu. Setelah operasi, ia kembali ke ruang perawatan dan menyadari adanya luka di bagian perut sebelah kiri seperti luka bakar, padahal operasi usus buntunya berada di perut sebelah kanan.

"Luka di kulit seperti melepuh dan rasanya panas seperti terbakar," kata Ira saat ditemui di rumahnya, Jalan Bonang Baru Blok A2, Jatiasih, Kota Bekasi, Selasa (5/3/2019).

AYO BACA : Dokter RSHS: Pembedahan Bariatrik Belum Ditanggung BPJS

Ira melanjutkan, usai luka operasi usus buntunya sembuh, luka pada perut kirinya justru semakin membesar dan memburuk. Dia mengaku sudah tiga kali berobat ke rumah sakit tersebut, namun lukanya tak kunjung membaik.

Setiap melakukan pengobatan ke rumah sakit itu, Ira selalu bertanya untuk mencari tahu penyebab lukanya. Akan tetapi, dia tidak pernah mendapatkan penjelasan.

Sebagai bahan perbandingan, ia kemudian mencoba berobat ke rumah sakit lain di daerah Galaxy dan di Bekasi Timur. Dokter bedah kedua rumah sakit tersebut menyimpulkan telah terjadi kerusakan jaringan kulit dan Ira disarankan untuk menjalani operasi plastik.

"Karena kondisi kesehatan yang memburuk akhirnya saya operasi tanggal 25 Februari kemarin," ungkapnya.

Atas kejadian yang dialaminya, Ira merasa sangat keberatan. Pasalnya setelah menjalani pengobatan dan operasi sejak Januari, Ira belum sama sekali kembali bekerja. Padahal ia harus menanggung biaya hidup ketiga anaknya dan kedua orangtuanya.

AYO BACA : RSHS Bantah Sunarti Pulang Akibat Kuota BPJS Habis

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers