web analytics
  

Cegah Investasi Bodong, Satgas Waspada Investasi OJK Terus Sosialisasi

Selasa, 26 Februari 2019 16:30 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, Cegah Investasi Bodong, Satgas Waspada Investasi OJK Terus Sosialisasi, ojk, investasi bodong, investasi bodong online, invesitasi bodong online bandung,

ilustrasi : Sertijab Kepala OJK Regional 2 Jabar. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM—Potensi praktik investasi bodong yang menyasar berbagai kalangan masyarakat perlu diwaspadai. Mengantisipasi hal tersebut, Satuan Tugas Waspada Investasi Jawa Barat yang terdiri atas Otoritas Jasa Keuangan, kepolisian, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika terus melakukan sosialisasi.

Staf Informasi dan Dokumentasi Kantor Regional 2 Jabar OJK, Mudo Laksito, mengatakan, sosialisasi untuk membentuk sikap waspada terhadap investasi bodong telah dilakukan di berbagai daerah di Jawa Barat. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui karakteristik dari praktik investasi bodong.

"Kita sudah melakukan sosialisasi di beberapa tempat. Di Kabupaten Sumedang, Purwakarta dan beberapa tempat lain, targetnya itu dari aparat desa supaya memberitahukan kepada masyarakatnya bahwa terdapat investasi investasi ilegal," ujar Mudo kepada Ayobandung.com, Selasa (26/2/2018).

Dia menyebut, aparatur desa dipilih sebagai target sosialisasi sebab mereka memiliki peranan dominan di lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, pesan yang diberikan oleh satgas bisa kembali disampaikan kepada warga.

AYO BACA : Koperasi Kerap Jadi Payung Investasi Ilegal

Selain kepada aparatur desa, sosialisasi juga disampaikan kepada para mahasiswa di berbagai kampus. Para mahasiswa ini nantinya juga diharapkan bisa menyampaikan materi sosialisasi ihwal ciri-ciri investasi bodong kepada warga.

Terkait ciri investasi ilegal, Mudo menyebut hal tersebut bisa dilihat dari dua hal, pertama dari aspek legalitas dan logis atau tidaknya investasi. 

Legalitas investasi bisa dilihat dari sudah terdaftar atau belumnya penyedia jasa investasi di OJK, sedangkan kelogisan bisa dilihat dari masuk akal atau tidaknya janji-janji yang diuraikan.

"Logisnya itu mislanya investasi Rp1 juta tapi setiap bulan dia memberi kepastian feedback 30%. Nah, itu udah mulai ke ranah enggak logis. Padahal yang namanya investasi kan ada risikonya, apalagi yang online-online itu ada risikonya," katanya.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers