web analytics
  

Bubur Ayam, Menu Sarapan Kampret dan Cebong

Minggu, 17 Februari 2019 17:06 WIB Netizen Netizen
Netizen, Bubur Ayam, Menu Sarapan Kampret dan Cebong, Cerpen bubur ayam,bubur ayam,matdon,gim

Kumpulan cerpen Matdon 'Bubur Ayam'

Matdon seorang wartawan. Suatu pagi, bertemu Prabowo dan Jokowi. Lagi akrab di warung kopi. Jelang siang, dia pun menyaksikan orasi 10 menit Prabowo dan Jokowi tanpa penonton, di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Kaget atas kejadian itu, lalu dia membuntuti aktivitas Prabowo dan Jokowi. Lagi-lagi keanehan terjadi. Prabowo dan Jokowi bertamu ke rumah temannya untuk membahas kampanye Pilpres.

Matdon enggan bergabung, dia pun memutuskan pergi. Tiba di depan Gedung Sate, Matdon dikagetkan dengan acara performance art: aktor utamanya Prabowo dan Jokowi.

Keanehan semakin menggila, ketika Matdon pulang, di sepanjang jalan disambut dan dielu-elukan ribuan orang berwajah Prabowo dan Jokowi.

Setiba di rumah, dia kembali kaget karena wajahnya berubah: sebelah mirip Prabowo dan sebelah mirip Jokowi. Sadar ada keanehan, Matdon pun bergegas wudhu. Setelah itu, wajahnya normal sedia kala.

Peristiwa di atas fiktif. Hanya cerita pada cerpen “Prabowo dan Jokowi” yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Bubur Ayam karya Matdon. Saya mendapat kiriman buku ini, langsung dari penulisnya.

Antologi Bubur Ayam terdiri dari 11 cerpen karya Matdon. Tidak ada titimangsa cetakan, Nomor ISBN, dan alamat penerbit. Pada sampul dalam, hanya tertulis Majelis Sastra Bandung (MSB).

Dugaan saya, antologi ini diterbitkan secara indie oleh MSB, sebab Matdon sendiri sejak 2009 hingga kini masih aktif menjabat Rois’AmMSB. Dalam dunia virtual, Matdon menyebut dirinya dengan sebutan Kyai Matdon.  

Kita simpan Matdon sang penulis. Membicarakan Matdon sebagai tokoh dalam cerpen “Prabowo dan Jokowi”, rasanya lebih menarik.

Meski ngalieurkeun,  karena baik penulis maupun tokoh cerita bernama sama. Cerpen absurd ini cukup renyah dibaca. Isinya semacam ungkapan kegelisahan penulis atas hiruk-pikuk kontenstasi politik saat itu.

Baca saja, cerpen ini pernah dimuat di Tribun Jabar, 23 Juni 2014, bertepatan dengan masa kampanye Pilpres 2014.

Waktu itu, masyarakat Indonesia sempat terpolarisasi menjadi dua kubu: Pendukung Prabowo dan Jokowi.

Itu cerpen “Prabowo dan Jokowi”, lain lagi dengan berjudul “Bubur Ayam”. Menariknya, cerpen ini dijadikan judul antologi. Dugaan saya dua saja. Pertama, frasa bubur ayam dianggap dekat dengan telinga pembaca.

Bukankah bubur ayam jenis makanan yang sohor untuk sarapan. Bahkan pedangdut Alam pernah mengeluarkan lagu “Sabu-Sabu” (2002). Bukan narkotik, “sabu” di sana akronim “sarapan bubur”.

Lagunya sukses di pasaran, melengkapi popularitas lagu “Mbah Dukun”. Semoga saja dengan Bubur Ayam ini, Matdon bisa mengulang kesuksesan Alam.

Dugaan kedua, isi cerpen ini mengangkat tema sepele, tetapi isinya jero_meminjam quote penyair gelo Gusjur Mahesa. Alur dan karakter tokoh lebih terjaga ketimbang cerpen “Prabowo dan Jokowi.”

Cerpen ini, isinya menceritakan perseteruan dua bersaudara, Ohit dan Opit. Mereka dibawa ke rumah sakit gara-gara berkelahi berbeda pendapat soal bubur ayam kesukaannya.

Menurut Ohit, bubur ayam paling enak ada di Ciroyom. Beda Opit, pilihannya bubur ayam Andir. Konfliknya sepele: mereka berdebat sengit soal bubur, lalu berkelahi menghunus golok. Dari perkelahian seimbang, keduanya ambruk. Dibawalah mereka ke rumah sakit oleh warga. Tiba di rumah sakit, bukannya sadar, mereka tetep gétréng. Cerpen ini realis.

Temanya terasa ringan, tapi menyimpan makna sampingan. Karakter tokoh lebih dieksplor, hilangnya rasa duduluran akibat ego mempertahankan pilihan.

Kedua cerpen ini, ditulis 8 tahun silam. Tapi kegelisahan Matdon dalam cerpen “Prabowo dan Jokowi” dan “Bubur Ayam”, rasanya aktual ditautkan dengan gejala patologi sosial pada konstestasi Pilpres sekarang.

Hiruk-pikuk Pilpres 2014 dan 2019 yang kembali mengusung Prabowo-Jokowi, kembali menghadapkan dua kubu seteru abadi: kampret dan cebong sejati. Bagi Kampret, capres pilihannya mengusung perubahan.

Sebaliknya bagi cebong, justru capresnya yang memberi bukti bukan janji. Kerja nyata bukan fiksi. Gejala ini berhasil digambarkan oleh konflik Ohit dan Opit. Bedanya hanya pada latar saja.

Konflik Ohit-Opit golok diabar, Kampret-Cebong perang virtual. Setiap hari, medsos perang tagar. Saling hardik, mengaku calonnya paling baik. Semua serasa ahli politik, tidak peduli hoaks membelit. Kaum intelek kehilangan nalar, rasa sejawat tak lagi terawat. Di medsos saling unfriend dan blokir, gara-gara beda pilihan dan pola pikir.

Bagi saya, kedua cerpen ini telah berhasil mengkritisi realitas hari ini. Pembaca diajak mengikis kedunguan, melalui tokoh-tokoh fiktif yang dihidupkan.

Di tengah mewabahnya penyakit di alam virtual, kehadiran Bubur Ayam menjadi obat peneguh di alam faktual.  Hanya, catatannya dua saja. Pertama, pada cerpen “Bubur Ayam”, beberapa ungkapan bahasa Sunda kurang merenah  penempatannya dalam dialog antar tokoh. Kedua, pada cerpen “Prabowo dan Jokowi” alurnya kurang terjaga, sehingga ending terkesan tergesa-gesa.

Penegasan amanat bahwa penulis netral dalam Pilpres, menjadi terasa vulgar. Padahal nilai literer inilah yang harusnya menjadi taruhan Matdon dalam kedua cerpennya. Secara keseluruhan, antologi Bubur Ayam sangat layak diapresiasi bersama, termasuk oleh kampret dan cebong. Agar lebih nikmat, coba nikmati setelah sarapan pagi. 

Deni Hadiansah

Penulis, tinggal di Bandung. Meraih Hadiah Sastra LBSS (2010)d an Juara Menulis Esai Kritik Sastra dari Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan (2004)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers