web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Mengupas Pendidikan Lampau dan Masa Depan di Museum Pendidikan Nasional

Selasa, 12 Februari 2019 08:36 WIB Fathia Uqimul Haq

Museum Pendidikan Nasional menyajikan sejarah pendidikan masa lampau hingga kemungkinan pendidikan di masa depan. (Fathia Uqimul Haq/ayobandung.com)

SUKASARI, AYOBANDUNG.COM -- Tak ada salahnya melihat sejarah pendidikan dari masa ke masa khususnya di Indonesia. Bagaimana pertama kali manusia diajarkan, hadirnya lembaga pembelajaran sampai menjadi sebuah sekolah, para tokoh pejuang pendidikan, hingga barang-barang kuno dan antik yang menjadi jejak sejarah pendidikan. 

Semua itu dikupas dalam Museum Pendidikan Nasional yang terdiri atas empat lantai. Bangunan yang berada di kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu nampak gagah berdiri tepat di depan Terminal Ledeng di Jalan Setiabudhi menuju Lembang.

Museum ini selalu tampak ramai dikunjungi rombongan pelajar dari berbagai kota. Hanya dengan membayar tiket masuk seharga Rp 5.000, pengunjung dapat melihat ragam pengetahuan mulai dari bagaimana manusia mengenal pendidikan, pendidikan dari sisi agama, pendidikan zaman kolonial, serta berbagai bangunan bersejarah yang sempat dipakai sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan. Semua disajikan secara apik di lantai pertama. 

Misalnya, pendidikan pada awal masa perkembangan agama Hindu dan Buddha di Indonesia identik dengan proses Indianisasi pada abad ke-14. Proses ini adalah perkenalan budaya India oleh para pendatang India sampai pengiriman pelajar Indonesia ke India untuk menuntut ilmu langsung di sana.

Metode pembelajaran yang disebut "Guru-Kula" ini dalam pendidikan Hinduistis, kepercayaan terhadap para dewa, menjadi salah satu pelajaran utama. Mereka meyakini akan adanya dewa pendidikan yaitu Ganesha dan Dewi Saraswati. 

Untuk para muslim, masjid juga dikenal sebagai pusat pendidikan. Masjid menjadi wahana utama pendidikan agama Islam untuk mengkader peserta didik dengan ilmu-ilmu agama. Beberapa masjid dibangun oleh para penguasa atau Wali Songo. Di antaranya Masjid Agung Banten, Masjid Demak, atau Masjid Menara Kudus. 

Pendidikan bercorak islam juga terjadi selain di masjid, misalnya di surau, langgar, pesantren, dan madrasah. Biasanya metode yang dikembangkan adalah Sorogan atau Bandungan.

Gereja-gereja juga dibangun sebagai tempat pendidikan. Dari Gereja Bethel dan Katedral semua sama-sama menyelenggarakan pendidikan bagi kaumnya. Sehingga pendidikan di Indonesia tak luput dari genggaman sejarah setiap kepercayaan.

Pendidikan zaman kolonial juga memiliki sistemnya masing-masing. Mulai dari Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Perguruan Tinggi. Biasanya setiap sekolah ada jalurnya masing-masing sesuai ras. Misalnya, ada jalur sekolah khusus Belanda, Bumiputera, dan sekolah keturunan Tionghoa.

Pendidikan di zaman kolonial Belanda ini memiliki empat karakter, yang pertama yaitu diskriminatif. Mereka membedakan sekolah untuk pribumi, Belanda, dan Tionghoa.

Mereka juga gradualis yang artinya sistem sekolah dikembangkan sangat lamban sehingga perlu 100 tahun lebih bagi Indonesia untuk mempunyai sistem pendidikan yang lengkap dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi.

Selain itu ada juga konkordansi, yakni kurikulum dan sistem ujian disamakan dengan sekolah di Belanda. Serta pengawasan yang tetap menjadikan pendidikan ini cenderung tidak adil. 

Pencetus Museum Pendidikan Nasional, Sunaryo Kartadinata, mengatakan sejak awal museum ini tidak hanya sekadar menyajikan informasi masa lalu tentang pendidikan, tetapi juga menyajikan pikiran-pikiran masa depan.

"Museum ini menyajikan kemungkinan masa depan tentang pendidikan Indonesia , baik itu pendidikan dalam arti umum maupun sistem pendidikan," katanya, Senin (11/2/2019). 

Sejak diresmikan pada 2 Mei 2015 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ahmad Heryawan, Museum Pendidikan Nasional menjadi lembaga upaya konservasi pendidikan dan perencanaan masa datang untuk mengelola dan mengembangkan pendidikan di era ini. 

"Koleksi menarik mengenai pendidikan masa lampau, masa kini, dan masa depan menjadi empat lantai, ada audiovisual dan ruang pameran juga," ujarnya. 

Beralih ke lantai dua, pengunjung dapat menikmati pendidikan masa klasik di awal kemerdekaan. Gambaran audiovisual menjadi fasilitas di setiap pojoknya. Pengunjung dapat menggunakan layar sentuh untuk melihat berbagai koleksi arsip yang menunjukkan banyak cerita dan sejarah. 

Berbagai etalase menyajikan buku-buku lama, alat tulis seperti pensil dan peraut, serta pendidikan yang dibangun oleh  beberapa tokoh seperti Douwes Dekker. Meski keturunan Belanda, penggagas Indische Partij ini telah mendirikan Ksatriaan Institut untuk kelangsungan pendidikan.

Bung Karno pernah menjadi guru ilmu alam di sekolah itu. Setelah menyelesaikan studinya d Sekolah Tinggi Teknik Bandung (sekarang ITB), ia mulai mengajar di sana pada 1926. 

Istri Douwes Dekker, Johanna Petronella, pernah menasihati Bung Karno untuk terjun ke dunia politik ketimbang mengajar karena kemampuan Bung Karno lebih cocok di dunia politik. Akhirnya, pada 1927 Bung Karno mengundurkan diri sebagai guru dan mengarungi dunia politik. 

Berpindah ke lantai tiga, Museum Pendidikan Nasional menyajikan sejarah pendidikan guru. Mulai dari perkembangan kurikulum di Indonesia hingga macam-macam ijazah dan sertifikat berharga lainnya.

Patung-patung pahlawan pendidikan pun disusun rapi di sana, seperti Ki Hajar Dewantara, Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, RA Kartini, dan lainnya. Bahkan, di satu tempat, terdapat pojok Dewi Sartika dengan sejarah lengkapnya saat mendirikan Sekolah Kautamaan Istri (SKI).

SKI didirikan pada 1904 yang berawal dari nama Sakola Istri. SKI diambil dari nama bentukan Residen Priangan yang turut mendukung pengembangan dan pembangunan sekolah perempuan Bumi Putera pada masa Hindia Belanda.

Pada masa penjajahan Jepang, Dewi tak mau terlibat sekolah bentukan Jepang lantaran kurikulumnya yang mengalami perubahan dan tidak dikhususkan untuk perempuan.

Di lantai empat, pengunjung disuguhkan materi mengenai sejarah berdirinya Kampus UPI. Mulai dari UPI yang tidak terlepas dari para tokoh pendidikan seperti Menteri Pendidkan, Pengajaran, dan Kebudayaan (Mendikbud) Indonesia 1954, Muhammad Yamin.

Kala itu Yamin tertarik menjadi ketua jurusan pendidikan Sejarah-Budaya, salah satu departemen di Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) cikal bakal UPI. 
Mulai dari sana, tokoh-tokoh nasional silih berganti mengunjungi kampus UPI, sehingga hal itu menjadi bukti bahwa UPI merupakan lembaga penting dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Presiden RI kedua Soeharto, ibu negara Tien Soeharto, Mendikbud Fuad Hassan, sampai Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pun pernah mengunjungi kampus ini. Tak lupa rekam jejak itu ditempel di dinding bersebalahan dengan layar besar interaktif mengenai Isola 360 derajat.

Di lantai ini terdapat ruang kuliah PTPG zaman dulu, yang dilengkapi dengan kursi mahasiswa dengan model berundak yang terbuat dari bahan kayu jati. Mimbar kuliah dan papan tulis serta meja dosen juga ditata sedemikian rupa.

Koleksi kursi ini ternyata adadi Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), meja dosen dari kemahasiswaan, dan papan tulis dari Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA). Kelas aslinya memuat 60 orang mahasiswa, yang menjadi cikal bakal UPI sebagai lembaga pertama pada jenjang perguruan tinggi pada 1954.

Sudut lantai ini tak lupa juga dihiasi dengan puluhan wajah Menteri Pendidikan RI dari awal hingga saat ini. Semua ditaruh dalam warna hitam putih dengan disertai penjelasannya.

Setiap menteri memiliki gagasan masing-masing yang pernah dilakukan untuk kemajuan pendidikan. Misalnya menteri yang membuat aturan kurikulum 2013 atau menteri yang mengembalikan kurikulum menjadi KTSP.

Pada lantai terakhir, Museum menggambarkan proyeksi pendidikan masa depan. Di sudut kanan terdapat tab android dilengkapi headphone untuk mendengarkan pembelajaran interaktif dari teori Kimia atau Fisika.

Gambaran audiovisual tentang pendidikan masa depan dideskripsikan penuh dengan kemajuan teknologi. Juga sejumlah layar datar yang memiliki aplikasi permainan dari tangan manusia melalui teknologi sinar. Seakan-akan tangan manusia berada di dalam layar untuk menyelesaikan sejumlah permainan yang disajikan. 

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers