web analytics
  

Bahasa Cinta Untuk Anak Ala MI Sekolah Cinta Ilmu Baleendah

Rabu, 6 Februari 2019 20:13 WIB Dadi Haryadi
Bandung Raya - Bandung, Bahasa Cinta Untuk Anak Ala MI Sekolah Cinta Ilmu Baleendah, MI Sekolah Cinta Ilmu Baleendah, Bahasa Cinta Untuk Anak, Parenting,

Nurahman, Guru Berprestasi tingkat Asia smemberikan materi Parenting bertema Bahasa Cinta Untuk Anak, pada Selasa (5/2/2019) di MI Sekolah Cinta Ilmu Baleendah. (istimewa)

BALEENDAH, AYOBANDUNG.COM--Kuambil segumpal tanah liat hidup. Kubentuk dengan lembut hari demi hari. Hati seorang anak yang lembut dan mudah dibentuk. Beberapa tahun kemudian ketika ku datang lagi, kulihat seorang dewasa. Banyak yang ku buat masih tampak. Namun ku tak dapat mengubahnya lagi.

Potongan bait puisi yang dibacakan Nurahman, guru berprestasi tingkat Asia sebagai pembuka ketika memberikan materi Parenting bertema Bahasa Cinta Untuk Anak, Selasa (5/2/2019) di MI Sekolah Cinta Ilmu Baleendah.

Nurachman menyebutkan komunikasi yang baik pada anak adalah kunci dalam pola asuh yang perlu diterapkan. Komunikasi yang baik tersebut berbentuk bahasa positif, bahasa cinta untuk anak. “Ada 8 bahasa cinta yang bisa membentuk karakter anak, yaitu salam, dzikir, tolong, terima kasih, maaf, iya/baik, izin/permisi, aku bisa," ujarnya.

AYO BACA : Pentingnya Menumbuhkan Pola Asuh yang Bahagia untuk Anak

Bentuk komunikasi bukan hanya dari perkataan namun juga perbuatan. “Karena anak belajar dengan melihat bukan dengan ceramah,” ucap Nurachman.

Sehingga diharapkan orang tua bisa menjadi role model bagi sang anak. Selain itu orang tua juga perlu memperhatikan untuk tidak menggunakan kekerasan pada anak dan jangan pula membandingkan anak dengan orang lain sekalipun tujuannya untuk kebaikan sang anak. “Bangun komunikasi yang dapat memberdayakan, bukan dengan kekerasan,” jelas Nurachman. 

Di samping bahasa dan komunikasi orang tua pada anak, Nurachman juga menyampaikan perlunya menanamkan habit (kebiasaan) yang positif pada anak, sejak anak masih bayi. Memperlihatkan dan mengajarkan hal-hal kecil seperti mencuci tangan, membereskan piring kotor setelah makan, merapihkan barang sendiri. Agar terbentuk kebiasaan positif pada anak yang terbawa hingga besar nanti.

AYO BACA : Yuk Belajar Parenting, Karena Setiap Anak Itu Spesial

“Selama ini kita hanya fokus kepada kesalahan yang dibuat anak. Cobalah menanamkan habit yang mengubah anak sejak ia kecil,” kata Nurachman.

“Di Eropa, tidak membiarkan anak usia 0-6 tahun belajar, memang dibawa ke sekolah tapi bukan untuk belajar. Namun membiarkan anak-anak bermain bersosialisasi dan membiasakan diri  dengan lingkungan. Baru di usia 7 tahun anak-anak belajar menulis dan membaca,” tambahnya.

Hal ini juga dapat membantu anak-anak ketika dewasa dan masuk dunia kerja, mereka tidak akan kaget dan mengalami kendala sosial. Karena sejak kecil sudah terbiasa bertemu dengan banyak orang yang usia dan latar belakangnya berbeda-beda. “Selama bersekolah anak-anak punya teman yang seusia, tapi saat nanti bekerja kan tidak semua seusia, yang terjadi apa? Anak-anak kesulitan bersosialisasi,” pungkasnya. 

Parenting ini sekaligus menjadi pembuka (opening) acara tahunan Sekolah Cinta Ilmu yang bertajuk Gebyar Cinta Ilmu (GCI) 2019, acara tahunan Sekolah Cinta Ilmu yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Falah. Seperti tahun sebelumnya, GCI termasuk parenting ini menjadi ajang silaturahim pihak sekolah dengan orang tua dan masyarakat umum. Sesuai dengan program Triangle pendidikan  yang diterapkan, dimana pendidikan anak merupakan tanggung jawab 3 pihak. Orang tua, Siswa, dan Guru.

Pada hari yang sama juga diadakan perlombaan untuk tingkat RA/TK seperti lomba Adzan, Tahfiz, mewarnai dan fashion show serta bazaar dari para siswa. Gelaran GCI 2019 masih akan berlangsung sampai tanggal 25 Februari diantaranya, perlombaan tingkat MI/SD, MTs/SMP, workshop, science exhibition dan Tabligh Akbar yang akan diisi Ustazah Mamah Dedeh.

AYO BACA : Berbagi Soal Parenting Bersama Komunitas Modern Mom

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers