web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Daftar Organisasi Kewartawanan Sebelum PWI

Selasa, 29 Januari 2019 13:18 WIB Rahim Asyik

Logo PWI

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Di Indonesia, tanggal 9 Februari diperingati sebagai hari pers nasional. Pada tanggal itu, tepatnya 9 Februari 1946, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) didirikan.

AYO BACA : Sejarah Berdirinya Perdi, Organisasi Kewartawanan Cikal-bakal PWI (1)

Pada era Orde Baru, organisasi yang diikhtiarkan untuk menaungi seluruh wartawan di Indonesia ini merupakan satu-satunya organisasi kewartawanan legal. Disebut legal karena pada 7 Agustus 1994 berdiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen) yang dalam kacamata pemerintah bisa dikategorikan ilegal.

AYO BACA : Soeara Merdeka, Koran Pertama Setelah Proklamasi, Terbit di Bandung (1)

Kini, seiring terbukanya kebebasan berserikat dan berorganisasi, PWI bukan lagi satu-satunya organisasi kewartawanan kendati tetap yang tertua dan terbesar.

Jauh sebelum PWI didirikan, wartawan sudah berupaya mengorganisasi dirinya. Berikut daftarnya yang disusun dari berbagai sumber. Di antaranya dari koran Sipatahoenan, Tribuana Said (Sejarah Pers Nasional dan Pembangunan Pers Pancasila), dan Mirjam Maters (Dari Perintah Halus ke Tindakan Keras: Pers Zaman Kolonial antara Kebebasan dan Pemberangusan 1906-1942).

Juga dari Ahmat Adam (Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesian) dan tulisan Nobuto Yamamoto,”The Dynamics of Contentious Politics in The Indies: Inlandsche Journalisten Bond and Persatoean Djoernalis Indonesia” di Keio Communication Review No. 36 tahun 2014.

  1. 1906: Perhimpunan Pengarang Soerat Kabar Melajoe di Hindia Nederland (Maleisch Journalisten Bond) didirikan di Batavia (Jakarta). Tak ada informasi mencukupi tentang organisasi yang didirikan pada 1906.
  2. 1914: Inlandsche Journalisten Bond (IJB) didirikan di Surakarta. Pendirinya, Mas Marco Kartodikromo, murid Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, jurnalis kawakan pendiri surat kabar Medan Prijaji. Menurut Nobuto Yamamoto, IJB mati menyusul dihukumnya Marco 9 bulan penjara pada 1 Juli 1915 karena delik pers.
  3. 1919: Inlandsche-Chineesche Journalisten Bond. Tak ada informasi tentang organisasi ini.
  4. 1919: Indische Journalisten Bond yang dipimpin Tjipto Mangoenkoesoemo. Kalau melihat kepanjangannya, IJB Tjipto ini jelas berbeda dari IJB Marco.
  5. 1925: Journalistenbond Asia (Ikatan Wartawan Asia) yang didirikan 6 Oktober 1925. Asosiasi ini, menurut Mirjam Maters, cukup moderat dan menyatakan tidak menerima anggota komunis.
  6. 1928: Perserikatan Journalisten Asia didirikan di Yogyakarta pada Agustus 1928. Organisasi ini membuka keanggotaannya bagi jurnalis pribumi maupun Tionghoa. Perserikatan ini bertujuan membentuk fron kulit cokelat untuk melawan pers kulit putih. Ketua perserikatan ini adalah Mr. R. Soejoedi, anggota Partai Nasional Indonesia.
  7. 1931: Perkoempoelan Kaoem Journalist (PKJ) didirikan di Semarang. Pendirinya adalah Saeroen, bekas pengurus Sarekat Islam dan Perhimpunan Personel Kereta Api dan Trem (Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, VSTP). Bakrie Soeraatmadja tercatat sebagai salah seorang tokoh PKJ bersama Parada Harahap, Kusumosudirdjo, Sujitno, dan Mohammad Yunus.
  8. 1933 (?): Journalistenbond Azia. Rencana mendirikan organisasi untuk jurnalis Tionghoa ini disampaikan koran Siang Po. Menurut Sipatahoenan edisi 12 Desember 1933 (”Journalistenbond Azia”), rencana itu tampaknya tak pernah terealisasi. Tak diketahui apakah organisasi ini merupakan organisasi yang sama dengan Journalistenbond Asia (Ikatan Wartawan Asia) yang didirikan pada tahun 1925 atau bukan.
  9. 1933: Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) didirikan Sabtu, 23 Desember 1933 di Solo. Pendirian Perdi merupakan prakarsa Badan Permoesjawaratan Djoernalis Indonesia yang diketuai oleh Soetopo Wonobojo (pemimpin redaksi Koemandang Rakjat di Solo). Anggota Perdi adalah media dari Soeara Oemoem, Oetoesan Indonesia, Darmo Kondo, Sikap, Sedio Tomo, Adil, Bahagia, Sin Tit Po, Djawa Tengah, Penjebar Semangat, Koemandang Rakjat, Tekad, Swara Tama, Al Jaum, Soeara Timoer, Soeloh Hoekoem, Kawroeh, Pengetahoean, Soeara PBI, Koemandang Garap, Penyedar, Panggoegah Ra’jat, Ksatrya, Narpowandowo, Berdjoang, Bidjaksana, Sedio Tomo, dan Sipatahoenan. Walaupun demikian, Perdi relatif gagal menambah jumlah anggotanya. Perdi termasuk berumur paling panjang. Kongres terakhirnya atau ketujuh digelar di Yogyakarta pada 23 Februari 1941.
  10. 1941: Persatoean Wartawan Indonesia. Sebanyak 18 pengurus Perdi cabang Bandung yang menganggap hasil kongres ketujuh Perdi itu adalah pembubaran Perdi, menggelar pertemuan di Perguruan Taman Siswa di Poengkoerweg (kini Jalan Pungkur). Pertemuan berlangsung akhir Februari 1941. Dalam pertemuan yang berakhir pukul 23.00 malam itu, para peserta sepakat untuk keluar dari Perdi dan mendirikan organisasi bernama sementara “Persatoean Wartawan Indonesia” per 1 Maret 1941. Pengurus sementara organisasi ini adalah Bratanata (ketua dari Nicork Expres), Tjokromanggolo (sekretaris dari Pemandangan), Bakrie Soeraatmadja (Sinar Pasoendan), Santikabrata (Sipatahoenan), dan Wangsawidjaja (Priangan).

AYO BACA : Koran Belanda di Bandung: Algemeen Indische Dagblad de Preangerbode

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers