web analytics
  

Gunung Anak Krakatau Diprediksi Meletus Tahun 2040?

Rabu, 26 Desember 2018 14:52 WIB Rahim Asyik
Umum - Nasional, Gunung Anak Krakatau Diprediksi Meletus Tahun 2040?, Tsunami Selat Sunda, Letusan Katastrofis, Gunung Krakatau, Gunung Anak Krakatau, Igan Supriatman Sutawidjaja

Gunung Anak Krakatau.(Setkab.go.id)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Apakah benar Gunung Anak Krakatau akan meletus dengan letusan sedahsyat tahun 1883 pada tahun 2040?

Sebelum mulai tulisan ini perlu dijelaskan dua hal. Pertama, sampai saat ini tidak ada satu alat, teknologi atau pakar pun yang bisa memastikan kapan sebuah gunung akan meletus. Dengan demikian, bahwa Anak Krakatau akan meletus pada tahun 2040 tetaplah berupa prediksi, bukan kepastian.

Kedua, tulisan prediktif semacam ini tidak ditujukan untuk menakut-nakuti atau mengacaukan. Tulisan ini dibuat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan mitigasinya. Kapan atau di mana pun letusan/bencana alam terjadi, sudah selayaknya orang-orang yang tinggal di daerah cincin api seperti Indonesia ini waspada dan sigap menghadapinya.

Bahwa Gunung Anak Krakatau meletus, sebenarnya bukan perkara aneh. Yang dimaksud dengan letusan di sini adalah letusan yang setara dengan letusan Gunung Krakatau tahun 1883 yang menewaskan 36.417 orang.

Letusan setara 21.574x letusan bom atom di Hiroshima itu menimbulkan tsunami setinggi 36 meter di Merak, 24 meter di Teluk Betung, dan 15 meter di pantai selatan Bengkulu. Bandingkan dengan letusan Gunung Api St. Helens pada 1980 (1.000x bom atom), Gunung Agung pada 1963 (2.606x bom atom), dan Gunung Tambora di Sumbawa (171.428x bom atom atau hampir 8x letusan Gunung Krakatau).

Para Ahli Curahkan Perhatian pada Gunung Anak Krakatau

Sejak Krakatau meletus tahun 1883, banyak ahli gunung api dalam dan luar negeri yang mencurahkan perhatiannya pada Gunung Anak Krakatau. Salah satu kajian tentang Krakatau ditulis di volume pertama Jurnal Geologi Indonesia yang terbit 3 September 2006.

AYO BACA : Sejarah Mencatat 13 Kali Tsunami di Selat Sunda

Tulisan itu dibuat oleh Igan Supriatman Sutawidjaja dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Tulisan berjudul ”Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofis 1883” itu mengupas pertumbuhan cepat Gunung Anak Krakatau.

Kalau diibaratkan sebagai anak, Gunung Anak Krakatau adalah anak bongsor yang hiperaktif. Tubuhnya bertambah tinggi dengan cepat. Selama 75 tahun dari tahun 1930-2005, tinggi Gunung Anak Krakatau dari permukaan laut mencapai 315 meter atau bertambah tinggi rerata 4 meter per tahun.

Demikian halnya dengan volume tubuhnya. Pada 1981, volume tubuhnya mencapai 2,35 km3. Tahun 1983 menjadi 2,87 km3, tahun 1990 mencapai 3,25 km3, dan tahun 2000 mencapai 5,52 km3.

Pertumbuhan pesat itu wajar saja mengingat Gunung Anak Krakatau rajin meletus, bisa 1-6 kali dalam setahun. Dari 1927 tercatat hampir 100 erupsi eksplosif atau efusif dengan jeda rehat antara 1-8 tahun.

Pada 1993 dan 2001 letusan terjadi hampir setiap hari, bahkan disebut-sebut hampir setiap 15 menit. Dengan letusan itu, dalam rentang waktu 9 tahun, Gunung Anak Krakatau bertambah tinggi lebih dari 100 meter dan bertambah luas 378.527 m2.

Komposisi Kimiawi Magma Bisa Ramalkan Letusan

Kalau pertambahan tinggi dan volumenya berjalan konstan, volume Gunung Anak Krakatau pada 2020 ditaksir sudah melebihi volume Gunung Rakata, Danan, dan Perbuwatan (11,01 km3) menjelang letusan Krakatau tahun 1883. Sebagai catatan, tinggi Gunung Krakatau sebelum meletus adalah 813 meter di atas permukaan laut.

AYO BACA : Letusan Gunung Krakatau Tahun 535 Ciptakan Selat Sunda

Namun untuk meletus, tambah tinggi dan tambah luas saja tidak cukup. Letusan seperti tahun 1883 bisa terjadi apabila komposisi kimia batuan hasil erupsi, berubah dari basa (kadar SiO2 rendah) ke asam (kadar SiO2 tinggi).

Dalam buku Krakatau: Pembentuk Akhir Selat Sunda (2017), Oki Oktariadi menyebutkan bahwa letusan Krakatau pada tahun 416 terjadi saat komposisi magma riolitik mencapai kadar SiO2 70%. Demikian halnya dengan erupsi Gunung Krakatau pada 1883.

Bagaimana dengan kondisi kimiawi Gunung Anak Krakatau? Sejak kelahirannya pada tahun 1927, komposisi magma riolitik Gunung Anak Krakatau tak pernah lebih dari 65%. Saat meletus tahun 1930 pun, komposisinya pada level 62%.

Hasil analisis kimia atas batuan lava menunjukkan komposisi silika yang berbeda dengan persentase terus meningkat secara halus. Data November 1992 misalnya menunjukkan persentase silika 53,95%. Kemudian Februari 1993 (53,53), Juni 1993 (53,97), dan Juli 1996 (54,77).

”Kalau peningkatan presentase silika ini terjadi secara konsisten dan diasumsikan meningkat satu persen dalam sepuluh tahun, maka untuk mencapai 68% dibutuhkan waktu 140 tahun,” tulis Igan Supriatman Sutawidjaja.

Kalau dihitung dari 1883, 140 tahunnya berarti tahun 2023. Kalau dihitung peningkatan persentase silikanya meningkat 1% dalam 10 tahun, maka butuh 160 tahun lagi dari 1996 untuk mencapai persentase 70% yang memungkinkannya meletus. 

Walaupun demikian, Igan menyebut angka 2040 dengan diiringi pertanyaan retoris. ”Apakah kurang lebih tahun 2040 akan terjadi kembali malapetaka seperti tahun 1883? Hal tersebut tentunya perlu penelitian kebumian terpadu dari segala aspek dan analisis kimia batuan dari setiap kejadian erupsi-erupsi berikutnya,” tulis Igan.

Pendapat Igan berada dalam rentang yang disebutkan sejumlah ahli geologi yang menyebutkan bahwa letusan besar Gunung Anak Krakatau diprediksi terjadi antara 2015-2083. Ahli geologi lainnya menyebut minimal tiga abad lagi atau pada tahun 2325 Gunung Anak Krakatau akan meletus.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho malah menepis kemungkinan Gunung Anak Krakatau akan meletus sebesar orang tuanya.

”Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan ibunya yaitu Gunung Krakatau pada 1883. Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan,” kata Sutopo, Agustus 2018 lalu.

AYO BACA : Ini 4 Kemungkinan Penyebab Tsunami Banten Menurut Vulkanolog ITB

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers