web analytics
  

Sejarah Mencatat 13 Kali Tsunami di Selat Sunda

Senin, 24 Desember 2018 16:22 WIB Rahim Asyik
Umum - Nasional, Sejarah Mencatat 13 Kali Tsunami di Selat Sunda, Tsunami Selat Sunda, Gunung Krakatau, Erupsi Gunung Api, Tsunami, Oki Oktariadi

Reruntuhan bangunan akibat tsunami di Banten, Sabtu (22/12/2018).(Antara)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM–Tsunami yang menimpa kawasan Banten sebetulnya bukan baru sekali dua kali terjadi. Dari tahun 416, kawasan itu sudah 11 atau 12 kali diterjang tsunami. Bila ditambah tsunami terakhir menjadi 13 kali.

Menurut Oki Oktariadi dalam bukunya Krakatau: Pembentuk Akhir Selat Sunda (Badan Geologi, 2017),  Bila ditotal dengan tsunami terakhir, tercatat 12 kali tsunami yang menimpa kawasan di Selat Sunda.

Lima kali di antaranya dipicu erupsi gunung api, yakni pada tahun 416 (535), 1215, 1680, 1883, dan 1884. Empat tsunami dipicu oleh gempa bumi yang berpusat di dasar laut. Tsunami semacam ini terjadi pada tahun 1722, 1757, 1852, dan 1958.

Sedangkan tiga lainnya dipicu adanya kenaikan muka air laut yang diduga sebagai tsunami kecil bersifat lokal. Penyebab tsunami semacam ini masih belum diketahui. Namun waktunya terjadi pada tahun 1851, 1883 (dua bulan setelah erupsi Gunung Krakatau), dan 1889.

Yudhicara dan Budiono Mencatat 11 Kali Tsunami di Selat Sunda

Data berbeda disampaikan Yudhicara dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan K. Budiono dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan. Dalam tulisannya ”Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian terhadap katalog Tsunami Soloviev” di Jurnal Geologi Indonesia (Vol. 3 No. 4 Desember 2008), Yudhicara dan K. Budiono menyebut terjadi 11 kali tsunami di Selat Sunda.

AYO BACA : Letusan Gunung Krakatau Tahun 535 Ciptakan Selat Sunda

Data dari A Catalogue of Tsunamis on the Western Shore of the Pacific Ocean yang disusun S.L. Soloviev dan Ch. N. Go pada 1974 itu seperti berikut:

  1. Tahun 416 (535): Kitab Jawa yang berjudul “Book of Kings” (Pustaka Radja), mencatat adanya beberapa kali erupsi dari Gunung Kapi yang menyebabkan naiknya gelombang laut dan menggenangi daratan, dan memisahkan Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa. Gunung Kapi ini diyakini sebagai Gunung api Krakatau saat ini.

  2. Oktober 1722: Terjadi gempa bumi kuat di laut yang dirasakan di Jakarta dan menyebabkan air laut naik seperti air mendidih.

  3. 24 Agustus 1757: Gempa bumi yang kuat dirasakan di Jakarta kurang lebih selama 5 menit. Air sungai Ciliwung meluap naik hingga 0,5 meter dan membanjiri Kota Jakarta.

  4. 4 Mei 1851: Di Teluk Betung, di dalam Teluk Lampung di pantai selatan pulau Sumatera, teramati gelombang pasang naik 1,5 m di atas air pasang biasanya.

  5. 9 Januari 1852: Gempa bumi di bagian barat Jawa hingga bagian selatan Sumatera, terasa juga di Jakarta, dan gempa-gempa susulannya dirasakan pula di Bogor dan Serang. Pada malam harinya terjadi fluktuasi air laut yang tidak seperti biasanya.

  6. AYO BACA : Ini 4 Kemungkinan Penyebab Tsunami Banten Menurut Vulkanolog ITB

    27 Agustus 1883: Terjadi erupsi yang sangat dahsyat dari Gunung Krakatau yang diikuti oleh gelombang tsunami. Ketinggian tsunami maksimum teramati di Selat Sunda hingga 30 meter di atas permukaan laut, 4 meter di pantai selatan Sumatera, 2-2,5 m di pantai utara dan selatan Jawa, 1,5-1 m di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan. Di Indonesia sebanyak 36.000 orang meninggal dunia.

  7. 10 Oktober 1883: Di Cikawung di pantai Teluk Selamat Datang, teramati gelombang laut yang membanjiri pantai sejauh 75 m.

  8. Februari 1884: Lima bulan setelah kejadian erupsi Gunung api Krakatau, tsunami kecil teramati di sekitar Selat Sunda, diakibatkan oleh suatu erupsi gunung api.

  9. Agustus 1889: Teramati kenaikan permukaan air laut yang tidak wajar di Anyer, Jawa Barat.

  10. 26 Maret 1928: Kejadian erupsi gunung api Krakatau diiringi oleh kenaikan gelombang laut yang teramati di beberapa tempat di sekitar wilayah gunung api.

  11. 22 April 1958: Dirasakan gempa bumi di Bengkulu, Palembang, Teluk Banten dan Banten yang diiringi dengan kenaikan permukaan air laut yang meningkat secara berangsur.

Bila dibedah, merujuk pada Yudhicara dan K. Budiono, tsunami di Selat Sunda disebabkan tiga fenomena tsunamigenik. Tsunamigenik adalah suatu kejadian di alam yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Pertama, tsunami yang disebabkan oleh terjadinya erupsi gunung api bawah laut Krakatau yang terjadi tahun 416, 1883, dan 1928. Kedua, tsunami yang dipicu gempa bumi pada tahun 1722, 1852, dan 1958. Ketiga, tsunami yang diduga terjadi akibat longsoran baik di kawasan pantai maupun di dasar laut pada tahun 1851, 1883, dan 1889.

AYO BACA : Tsunami Selat Sunda: Jaringan Telekomunikasi Masih Normal

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers