web analytics
  

Letusan Gunung Krakatau Tahun 535 Ciptakan Selat Sunda

Senin, 24 Desember 2018 14:11 WIB Rahim Asyik
Umum - Nasional, Letusan Gunung Krakatau Tahun 535 Ciptakan Selat Sunda, Gunung Krakatau, Gunung Anak Krakatau, Letusan Gunung Krakatau, Selat Sunda, Tsunami, The Scream

Gunung Anak Krakatau.(Setkab)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Korban gelombang tsunami yang terjadi di Selat Sunda masih terus didata. Hingga Senin (24/12/2018) pukul 7.00, seperti disampaikan akun Twitter @Sutopo_PN (Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho), korban meninggal dunia mencapai 281 orang.

Sedangkan korban luka tercatat 1.016 orang, 57 orang hilang, dan 11.687 orang lainnya mengungsi. Sementara kerugian materi meliputi rusaknya 611 rumah, 69 hotel-vila, 60 warung-toko, dan 420 perahu.

Sejauh ini, pemicu utama tsunami di Selat Sunda itu masih terus diselidiki. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menduga, pemicunya adalah erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang tinggi akibat faktor cuaca.

Ahli gunung api lainnya menghubungkan terjadinya tsunami dengan kombinasi antara air pasang dengan letusan Gunung Anak Krakatau. Soalnya, baik letusan, longsoran maupun terjadinya aliran piroklastik di Gunung Anak Krakatau bisa memicu tsunami.

Memang, kata Sutopo Purwo Nugroho, erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi hampir setiap hari sejak Juni 2018. Walaupun demikian, erupsi yang terjadi sebelum tsunami bukan merupakan letusan terbesar. Terutama kalau dibandingkan dengan erupsi yang terjadi antara Oktober-November 2018.

AYO BACA : Gunung Anak Krakatau Diprediksi Meletus Tahun 2040?

Gunung Anak Krakatau Perlu Diwaspadai

Gunung Anak Krakatau yang baru muncul pada 1927 termasuk gunung yang patut diwaspadai. Letusan pendahulunya, Gunung Krakatau, yang terjadi pada 26-27 Agustus 1883, berdampak hampir di dua per tiga wilayah dunia.

Letusannya bahkan menciptakan tsunami setinggi sekitar 40 meter dan menelan korban jiwa total sebanyak 36.417 orang. Sementara abunya sampai ke Eropa dan membuat langit berwarna merah. Saksinya adalah seorang seniman Norwegia, Edvard Munch, yang sedang jalan-jalan sore di Ljabrochaussen Road, kota pesisir Christiania.

Munch melukis apa yang dilihatnya itu dalam sosok berkepala plontos dengan kedua tangan sedang memegang wajah, seolah terkesima. Di belakangnya langit berwarna kemerahan. Lukisan dibuat pada 1893 dan diberi judul “The Scream”. Warna langitnya kurang lebih sama dengan sketsa-sketsa yang dibuat oleh William Ascroft pada 20 Februari 1892.

Letusan tahun 1883 itu, menurut Oki Oktariadi dalam buku Krakatau Pembentuk Akhir Selat Sunda, sebetulnya letusan terbesar ketiga Krakatau. Mengutip R.D.M. Verbeek, Oki menyebutkan bahwa Krakatau purba meletus pertama kali kira-kira 150.000 tahun silam.

AYO BACA : Tsunami Setinggi 30 Meter Bisa Musnahkan Populasi Badak Sunda

Letusan itu melenyapkan Krakatau purba dan menyisakan Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang. Letusan besar berikutnya terjadi 60.000 tahun lalu.

Jejak letusan terlacak pada deposit sedimentasi di sekitar Selat Sunda. Studi yang dilakukan David Keys (arkeolog dan koresponden koran The Independent) menemukan bahwa Krakatau pernah meletus pada tahun 535. Jejak-jejak belerang Krakatau tahun itu ditemukan di lapisan es Antartika dan Greenland.

Letusan Gunung Krakatau Pisahkan Pulau Jawa dan Sumatera

Oki Oktariadi, mengutip David Keys, menyebut letusan tahun 535 itu adalah letusan terdahsyat Gunung Krakatau. Letusan itu diduga menjadi penyebab punahnya kebudayaan Pasemah (Lampung), Salakanagara (Banten), Beikhtano (Myanmar), peradaban pantai barat Malaya (Malaysia), dan peradaban Oc Eo (Kamboja). Juga dianggap berkaitan dengan munculnya istilah Abad Kegelapan di Eropa.

Disebut letusan terdahsyat karena melontarkan 200 km3 magma. Bandingkan dengan letusan tahun 1883 yang melontarkan 18 km3 magma. Dengan letusan setara 2 miliar kali bom atom Hiroshima atau 11,11 kali letusan Krakatau tahun 1883, tak heran kalau Selat Sunda terbentuk alias berpisahnya Pulau Jawa dan Sumatera.

Masih dalam buku yang sama disebutkan, letusan kedua terbesar terjadi pada 1215. Dampak letusan ini adalah muncul Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan. Sebelum letusan tahun 1883, ketiga gunung itu menyatu.

Sayangnya, letusan kedua ini belum diyakini betul secara keilmuan oleh para ahli gunung api. Selain itu juga tidak didukung oleh peristiwa sejarah dan budaya seperti yang terjadi pada letusan tahun 535.

AYO BACA : Sejarah Mencatat 13 Kali Tsunami di Selat Sunda

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers