web analytics
  

Semangat Menulis Lewat Sigeulis

Sabtu, 15 Desember 2018 16:05 WIB Fathia Uqimul Haq
Umum - Unik, Semangat Menulis Lewat Sigeulis, buku, cerpen, penulis cerpen, penulis muda

Dea Yurisha, Hasanah, dan Geita Safitri Lia dalam kegiatan Launching inovasi pendidikan dari Dinas Pendidikan Kota Bandung, Sabtu (15/12/2018). (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Dea Yurisha(15) dan Geita Safitri Lia (15) tidak menyangka mampu menulis cerpen yang bisa menjadi sebuah buku. Cerpen mereka terpilih untuk dibukukan bersama 20 teman lainnya dari SMPN 25. 

Buku bersampul biru itu berjudul "Perjanjian Sahabat". Seluruh cerita dari antologi buku itu mengenai persahabatan. 

Melalui program Sigeulis  yaitu Siswa dan Guru Menulis dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dea dan teman-teman lainnya didorong untuk menulis apapun. Mulai dari cerpen, puisi,  atau artikel. 

"Senang bisa menulis jadi buku karena minatnya ke sana," kata Geita, Sabtu (15/12/2018). 

Geita mengaku awalnya menulis karena tugas pelajaran Bahasa Indonesia sehingga mau tidak mau ia harus menulis cerpen. Setelah karyanya terpilih masuk ke dalam antologi, ia semakin semangat untuk menulis kembali. 

Begitu juga Dea, penulis cerpen dengan judul "Melupakanmu". Siswa kelas 9 itu merasa bangga saat tulisannya mampu masuk ke dalam buku tersebut. Namun sayang, sebentar lagi mereka menginjak bangku SMA sehingga tidak bisa turut serta untuk menulis di buku cerita anak-anak SMPN 25. 

AYO BACA : Kepiting Bisa Dimakan dengan Cangkangnya di Seafood Kiloan Bang Bopak

"Kendala kami sih susah merangkai kata-kata," ujarnya.  

Guru Bahasa Indonesia SMPN 25, Hasanah mengatakan pembuatan buku ini memakan waktu satu bulan. Sejak bulan November, siswa-siswi SMPN 25 mengumpulkan tulisannya melalui email. Setelah disaring, terpilih 20 siswa yang pantas masuk ke dalam buku antologi karya pertama SMPN 25. 

"Saya sekaligus penyunting mengumpulkan tulisan anak-anak.  Dipilih yang terbaik yang masuk 20 cerita," ucap Hasanah. 

Setelah melalui proses seleksi dan penyuntingan bahasa, kemudian naskah dikirim ke percetakan. Biaya yang dikeluarkan untuk dummy buku sebesar Rp 50.000. 

Menurutnya, Sigeulis ini tempat  yang bagus untuk mewadahi minat dan bakat anak-anak. 

"Karena jarang  ada aktivitas yang mendorong anak supaya berlatih menulis," ujarnya.  

Rencana ke depan tentu ada buat menulis buku lain baik dari guru maupun siswa. Harapannya, program ini mampu mendorong lebih banyak siswa dan guru untuk terus berkarya dan bergerak di bidang literasi. 

AYO BACA : 5 Makanan Ini Bisa Tingkatkan Rasa Bahagia

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers