web analytics
  

Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (7)

Selasa, 11 Desember 2018 02:29 WIB Rahim Asyik

Cuplikan tulisan di koran Sipatahoenan yang mengabarkan pengunduran diri inohong Sunda Bakrie Soeraatmadja dari Sipatahoenan (Sumber: Sipatahoenan, 2 September 1935).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Selama dipenjara, posisi inohong Sunda Bakrie Soeraatmadja sebagai pemimpin redaksi tetap dipertahankan. Hanya saja di belakang namanya ditambahi keterangan verlop (cuti).

Sementara yang bertanggung jawab (verantwoordelijk) atas tugas hariannya adalah Mohamad Koerdie. Bagaimana pun, penahanan Bakrie Soeraatmadja di penjara Sukamiskin membuat kesehatannya memburuk.

Bakrie harus berkali-kali beristirahat. Dengan demikian, tak bisa mengerjakan tugasnya dengan optimal lagi. Setelah beberapa bulan beristirahat, 3 Juni 1935 Bakrie Soeraatmadja kembali aktif memimpin Sipatahoenan.

Sekeluar dari tahanan, Bakrie memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin redaksi Sipatahoenan. Dalam Sipatahoenan edisi 30 Agustus 1935, Bakrie menulis surat perpisahan untuk terakhir kalinya sebagai pemimpin redaksi Sipatahoenan.

Bakrie Soeraatmadja Menulis Surat Pamit yang Menyayat Hati

Seperti terlihat dari judul tulisannya, ”Kapaksa Ségah”, perpisahannya dengan Sipatahoenan lebih merupakan suatu keterpaksaan ketimbang kesukarelaan. Ségah dalam bahasa Sunda berarti perpisahan yang dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak.

Ségah biasanya digunakan untuk perceraian yang dilakukan oleh suami-istri. Berikut tulisannya dengan penerjemahan tidak kata per kata, melainkan yang sudah disesuaikan dengan rasa bahasa Indonesia di banyak bagiannya yang tidak sepadan.

Berat hati

Jikalau ada waktu kita bertemu, tentu ada pula waktu kita berpisah.

Segala apa yang dialami sekarang, sejatinya sudah ditentukan Yang Mahakuasa. Takdir tak bisa dipungkir, kadar tak bisa dicegah.

Tak perlulah diungkapkan lebih dulu apa yang jadi sebab musababnya. Mulai hari ini, saya pribadi dengan ”berat hati” meninggalkan meja pemimpin redaksi Sipatahoenan.

Walau betapa demikian beratnya, berat menanggung rindu kepada Sipatahoenan, tapi ini terpaksa harus dilupakan saja, agar berbesar hati menyerahkan kemudi kepada pemimpin redaksi yang akan melanjutkan langkah memajukan Sipatahoenan.

Walau sekarang tidak di balik kemudi Sipatahoenan lagi, tak ada dalam pikiran saya untuk melupakannya begitu saja. Bagaimanapun saya yang ikut membesarkan dari kecil, rasa sayang terhadap Sipatahoenan tak beda jauh dengan rasa sayang bapak terhadap anaknya saja. Jadi oleh sebab itu, jangankan saat masih dekat, ketika sudah jauh juga, tak kuasa tetap ingin menyayanginya.

Kalau tak bisa diungkapkan dengan tenaga, lewat tulisan atau apa saja, sekurang-kurangnya lewat doa yang akan saya lakukan dengan tiada hentinya. Semoga setelah Sipatahoenan lepas dari tangan saya, tak ada aral melintang lagi di jalan yang ditujunya. Tak ada kendala, juga masalah, selamat dari marabahaya.

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (4)

Sekian doa saya!

Para langganan semoga tetap kesetiaannya, demikian juga dengan para pembantu agar jangan keluar dari kebiasaannya!

Khawatir tak ada waktu yang tepat lagi, hanya dengan jalan ini saja, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada para pembantu yang sudah membantu dengan berbagai macam karangan yang bermanfaat buat mengisi Sipatahoenan, dalam sekian tahun kemudi Sipatahoenan berada di dalam genggaman saya.

Untuk kesetiaan para langganan juga, saya pribadi tak lupa berterima kasih.

Terima kasih yang paling utama saya sampaikan terutama kepada jajaran pengurus besar Paguyuban Pasundan, kebesaran hati para anggota Pasundan yang memiliki koran Sipatahoenan karena sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengemudikan dan bertanggung jawab untuk mengatasi segala masalahnya.

Kepercayaan yang diberikan kepada saya, dalam perasaan saya, saya taruh di ubun-ubun dan dirawat dengan cermat, dengan tidak menyia-nyiakannya sepanjang yang sanggup saya terima.

Buah kepercayaan yang diberikan kepada saya membuat saya bahagia tiada tara. Bahagia karena Sipatahoenan dari asalnya kecil menjadi besar, hal yang sudah kita saksikan semua. Kemajuan Sipatahoenan yang seperti itu bukan karena tenaga saya saja, yang paling besar adalah pertolongan dari paramitra yang setia tanpa pamrih kepada Sipatahoenan.

Saya pribadi percaya dan yakin sekali, paramitra Sipatahoenan yang setia tanpa pamrih tak akan berhenti, tak akan berubah kesetiaannya terhadap Sipatahoenan, kendati saya pribadi sudah tak berada di meja pemimpin redaksi yang saya juga dengan berat hati meninggalkannya.

Berat, yang artinya masih rindu!

Mungkin ada yang bilang ”aneh”. Ada orang yang masih rindu kok memilih berpisah.

Nah, persis di situ pula bukti bahwa ”hidup di dunia, hanya sekadar menjadi wayang saja”.

Oleh karena itu, tak mustahil walau sekarang berat hati, pada awal dan akhirnya kita ditakdirkan untuk berjumpa lagi.

Bakrie Soeraatmadja

Bandoeng, 30 Augustus 1935

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (5)

Bakrie Soeraatmadja Mengakhiri Darma Baktinya di Sipatahoenan

Dengan surat itu pula, Bakrie Soeraatmadja mengakhiri darma baktinya di Sipatahoenan. Surat itu dengan jelas menunjukkan bahwa keluarnya Bakrie dari Sipatahoenan bukannya tanpa masalah.

Bakrie sebetulnya masih tetap ingin mengemudikan Sipatahoenan, tapi ada hal-hal yang membuatnya terpaksa pergi. Diselusuri di Sipatahoenan edisi-edisi sebelum dan setelahnya, tak ditemukan penjelasan apa-apa tentang kepergian Bakrie.

Hal-hal yang tak diceritakan itu pasti bukan soal sepele sampai tak bisa diselesaikan. Tidak muncul di Sipatahoenan mungkin karena masalahnya adalah masalah rumah tangga internal yang aib kalau diceritakan kepada pihak luar.

Akan tetapi bisa juga karena masalah eksternal, misalnya tekanan dari pemerintah terhadap Paguyuban Pasundan.

Baik disebabkan oleh masalah internal maupun eksternal, jelas tak terjembatani sehingga satu-satunya penyelesaian yang tersisa adalah keluarnya Bakrie Soeraatmadja dari Sipatahoenan, media yang dibesarkan dan membesarkannya.

Dengan surat itu pula, Bakrie pamit dari Sipatahoenan, koran yang diberinya nama dan dirawatnya dengan pengorbanan. Namun bukan pamit dari dunia jurnalistik yang dicintainya.

Buktinya, setahun kemudian, Bakrie Soeraatmadja mendirikan dan memimpin surat kabar Perbintjangan yang beberapa kali terlibat polemik dengan Sipatahoenan.

Setelah Ditinggalkan Anaknya, Bakrie Soeraatmadja Sakit Keras

Tiba-tiba anaknya meninggal dunia. Tak lama setelah anaknya meninggal, Bakrie yang sudah beberapa kali masuk keluar rumah sakit, kembali jatuh sakit. Kali ini adalah sakit paling parah yang dideritanya.

Bakrie Soeraatmadja sebetulnya terkena  pest. Mereka yang terkena penyakit ini umumnya dalam sepekan sudah sembuh. Entah karena apa, terhadap Bakrie rupanya tidak demikian.

Pingsannya saja sampai sembilan hari yang disebabkan oleh panas tubuhnya yang mencapai 41 derajat Celsius. Beruntung, nyawanya terselamatkan.

Bakrie dirawat dokter Dake di Rumah Sakit Sitoesauer selama 29 hari sebelum diperkenankan pulang pada 15 Mei 1936.

Ketika pulang, ”…badannya jadi demikian kecilnya, sampai membuat pangling yang melihatnya, apalagi kumisnya dibiarkan panjang sampai mirip Kaisar Haile Selassie.” Haile Selassie adalah kaisar Ethiopia dari tahun 1930 sampai tahun 1974. Dia merupakan figur penting dalam sejarah Ethiopia dan Afrika.

Demikianlah bagian ketujuh atau tulisan terakhir tentang sosok inohong Sunda Bakrie Soeraatmadja.

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (6)

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers