web analytics
  

Ada Apa dengan Media Mainstream Indonesia?

Senin, 10 Desember 2018 05:42 WIB Netizen Netizen
Netizen, Ada Apa dengan Media Mainstream Indonesia?, media massa, muslim, reuni 212, wartawan, berita

Reuni 212 di Monas

Belum move on dari peristiwa reuni 212 di Jakarta pada 2 desember 2018 yang lalu. Sehingga pemberitaan itu masih tetap banyak diperbincangkan di media sosial pribadi maupun fanpage. Bisa dpastikan hamper semua beranda media sosial kita terdapat pemberitaan tentang aksi damai 212 kemarin. Terlebih lagi jika kita sendiri yang merasakan berada di tengah-tengah jutaan ummat islam saat itu, maka rasanya tak ingin berhenti membahas hal itu kepada siapapun dan akan terus menuliskan pengalaman berharga itu pada laman media sosial yang kita miliki.

Tetapi peristiwa yang melibatkan jutaan ummat muslim itu tak mendapat sorotan oleh banyaknya media-media mainstream yang ada di Indonesia, bahkan hanya Tv One yang berani menayangkan live pada aksi reuni 212 kemarin dan juga hanya beberapa surat kabar yang memberitakannya itupun dalam pemberitaannya tidak dijadikan sebagai headline. Hal ini tentu mengagetkan masyarakat yang berharap mendapatkan sajian berita berimbang dari peristiwa monumental itu.

Bahkan menurut hemat saya yang hanya seorang mahasiswa jurnalistik yang masih awam, peristiwa tersebut sangat memiliki nilai berita, saya masih ingat dengan jelas bagaimana dosen saya menjelaskan tentang nilai berita diantaranya : (1) Keluarbiasaan. Dalam pandangan jurnalistik, berita adalah sesuatu hal atau peristiwa yang luar biasa. Dengan demikian, sesuatu yang tidak luar biasa tidak dapat disebut berita. (2) Kebaruan /Aktual. Suatu peristiwa disebut sebagai berita jika merupakan peristiwa yang baru terjadi. Keaktualan berita erat kaitannya dengan waktu, semakin aktual berita yang disajikan, semakin tinggi nilai berita tersebut. (3) Kedekatan. Semakin dekat peristiwa itu dengan khalayak maka semakin menarik berita tersebut untuk dinikmati khalayak. (4) Menimbulkan ketertarikan manusiawi (Human Interest). Dalam peristiwa 212 tentu hal ini sangat menarik bagi khalayak bahkan menjadi peristiwa yang sangat luar biasa yang terjadi di Indonesia. Karena hal ini dapat membangkitkan emosi siapapun yang mendengar atau menyaksikannya. (5) Menimbulkan dampak bagi masyarakat. Sebuah peristiwa disebut sebagai berita apabila peristiwa tesebut mempunyai dampak yang signifikan bagi kepentingan orang banyak. Dan peristiwa 212 saya rasa banyak menimbulkan dampak positif bagi masyarakat, salah satunya adalah persatuan ummat yang selama ini dirindukan, kemudian saling berlomba dalam mempersembahkan yang terbaik, ada yang mengorbankan hartnya untuk aksi tersebut, ada yang memberikan perlengkapan secara gratis, dan banyak juga yang menyediakan logistik selengkap mungkin ditambah lagi posko-posko medis yang bisa digunakan secara Cuma-Cuma. Hal ini membuktikan bahwa dalam aksi tersebut memiliki dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat . (6) Informatif. Dalam kehidupan bermasyarakat, informasi menjadi kebutuhan pokok. Oleh sebab itu, media berusaha mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Melalui penjelasan diatas, apakah peristiwa besar 212 di Jakarta kemarin tak cukup memiliki nilai berita? Saya rasa semuanya setuju bahwa peristiwa 212 sangat memenuuhi syarat untuk dijadikan sebuah berita karena termasuk dalam kejadian luar biasa. Permasalahannya adalah, mengapa tidak banyak media mainstream yang memberitakannya. Menurut pendapat saya media mainstream saat ini sudah melupakan teori pers yang dianut oleh Indonesia itu sendiri, yaitu teori pers bebas bertanggung jawab. Bahkan jika kita melihat faktanya saat ini pers Indonesia seolah-olah menganut pers otoritarian. Pers Indonesia seperti ada dalam belenggu, karena pers saat ini sangat didukung oleh penguasa dan pengusaha. Mereka lupa bahwa ada hal yang lebih penting dibandingkan hanya mendapatkan sebuah materi semata. Mereka lupa kewajiban mereka sebagai mediator untuk memberikan informasi yang akurat dan berimbang. Meda mainstream kita kalah dengan surat kabar di Jepang yang memberitakan peristiwa 212 kemarin. Apakah tidak malu dengan Negara lain yang jauh disana bisa memberitakan peristiwa 212.

Saya berharap sebagai calon insan jurnalis, kembalikan idealisme kita, jadikan kode etik jurnalistik sebagai pegangan kita, dan jadikan nurani sebagai tameng kita agar tidak mudah dibutakan oleh materi semata. Yakinlah bahwa apa yang kita beritakan kelak akan diminta pertanggung jawaban di akhirat. Apalagi peristiwa kemarin melibatkan jutaan ummat muslim dan kita sebagai insan jurnalis muslim harus dengan bangga memberitakan aksi super damai yang terjadi dua desember lalu.

Ai Sani Nuraini

Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Rizma Riyandi

terbaru

Urgensi Integrasi Data

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 15:52 WIB

“Kita harus ngomong apa adanya, ini tidak efektif”. Kegundahan Presiden Joko Widodo atas progres Pemberlakuan Pembatasan...

Netizen, Urgensi Integrasi Data, PPKM,Integrasi data,BPS Jabar

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen Jumat, 26 Februari 2021 | 09:29 WIB

Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran

Netizen, Acara Hiburan di Situ Aksan Tahun 1950-an dalam Iklan Koran, Situ Aksan,Sejarah Situ Aksan,Sin Ming,Iklan Situ Aksan,Sin Ming Hui Bandung

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

artikel terkait

dewanpers