web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Yuk Belajar Parenting, Karena Setiap Anak Itu Spesial

Minggu, 9 Desember 2018 13:23 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Festival Keluarga “silih asah, asih & asuh”, Modern Mom Bandung menghadirkan mini talkshow dan sharing session dengan tema “Karena Setiap Anak Spesial”, Minggu (9/12/2018). (Eneng Reni N Jamil/ayobandung).

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Seorang anak, dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya adalah unik. Mereka terlahir sempurna dengan talenta dan kemampuan masing-masing yang memukau.
 
Namun kadang sebagian orang tua lupa dan kerap membandingkan anaknya dengan anak yang lain. Hal seperti ini, di satu sisi bisa menjadi kebanggaan yang tinggi. Namun di lain hal dapat menjadi sesuatu yang salah dalam pola asuh orang tua kepada anak-anak.
 
Terinspirasi dari hari disabilitas Internasional, komunitas Modern Mom Bandung berbagi kebahagiaan dengan anak-anak spesial dalam acara syukuran ulang tahun yang ke-2. Mengangkat tajuk kegiatan Festival Keluarga “silih asah, asih & asuh”, Modern Mom Bandung menghadirkan mini talkshow dan sharing session dengan tema “Karena Setiap Anak Spesial”, Minggu (9/12/2018).
 
Salah satu pembicara talkshow, psikolog dan konsultan, Fitri Ariyanti Abidin menyampaikan setiap anak berkembang di jalannya sendiri dengan cara sendiri. Alhasil perkembangan anak-anak memiliki kadar yang berbeda-beda. 
 
"Setiap anak spesial karena mereka bisa terlahir ke dunia setelah mengalahkan 60 juta pesaing untuk bisa sampai di sel telur. Anak, pasti dia memiliki kemampuan berpikir hingga keaktifan yang beda," ungkap Fitri dalam sesi diskusi.
 
Meski itu berbeda namun dalam perjalanannya mereka sudah menentukan pijakan yang dapat diprediksi untuk masa depan. oleh sebab itu, Fitri menyebut hal tersebut adalah normal. 
 
"Tapi kalau pun dia ada kekurangan maka kelebihannya lah yang bisa mengatasi kekurangannya," lanjut Fitri.
 
Alhasil, setiap anak, kata Fitri memiliki kekuatan dan kerapuhan yang berbeda. Semisal, beberapa jago dalam berolahraga, yang lainnya malah ahli dalam musik. 
 
Ada lagi yang pintar secara akademik, yang lain biasa saja. Beberapa anak memiliki rasa gugup yang sulit, anak-anak lain tampak tenang menghadapi tantangan. 
 
Ada lagi anak yang mudah sekali tertidur di sudut lain, ada juga anak yang sulit memejamkan mata setiap hari selama bertahun-tahun, dan sebagainya.
 
Beragam keunikan dan kespesialan mereka menurut Fitri pun harus dinikmati oleh orang tua. Adapun cara menghargai mereka, kata Fitri yakni dengan memberikan contoh pada anak.
 
“Orang tua merupakan model pertama dan satu-satunya yang ditiru anak. Maka orang tua juga yang menentukan masa depan anak,” ucapnya.
 
Upaya memberi contoh, lanjutnya, bisa dilakukan ketika melatih disiplin secara konsisten, memberikan ganjaran jika benar dan hukuman bila salah. Tapi sebelumnya, diskusikan dengan anak bentuk ganjaran atau hukuman sesuai kemampuannya. 
 
"Ganjaran tidak harus selalu barang, hal atau kegiatan yang dia sukai juga bisa. Sementara untuk hukuman, tentu saja dengan sesuatu yang anak tidak suka," lanjutnya.
 
Begitu pun, kata Fitri bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka juga memiliki kecerdasan dan bakat yang berbeda dari anak-anak kebanyakan. Fitri menjelaskan lebih lanjut bahwa anak merupakan individu unik yang memiliki kelebihan atau keistimewaan masing-masing. 
 
Oleh sebab itu, langkah selanjutnya untuk mencintai anak, kata dia, orang tua harus mendukung mereka sesuai kemampuan dan keistimewaannya.
 
“Setiap anak spesial, setiap anak cerdas, dan setiap anak berbakat. Tentu saja spesial, kecerdasan dan bakatnya berbeda-beda tergantung masing-masing anak dan pola asuh orang tuanya,” ucapnya.
 
Fitri menjelaskan, orang tua sangat berperan untuk membuat anak sadar bahwa sepanjang hidupnya adalah seseorang yang spesial. Caranya dengan membangun kepercayaan diri mereka lewat komunikasi.
 
Fitri menyebut, kepercayaan diri dan rasa spesial itu bisa ditumbuhkan salah satunya lewat komunikasi nonverbal. Sarana berkomunikasi noverbal ini bisa melalui mata, telinga, dan kontak sentuhan atau tangan.
 
"Gunakan panca indera mata untuk membuat anak merasa kehadirannya disadari. Telinga agar merasa didengerin, sentuhan atau diberikan pelukan dan kasih sayang. Kalau kita sudah tebisa mendengarkan dan melihat anak, maka anak bisa menerapkannya di masa remaja atau dewasanya nanti,” tandasnya.
Editor: Andri Ridwan Fauzi

artikel lainnya

dewanpers