web analytics
  

Panitia Reuni 212 Minta Doa Jokowi

Minggu, 2 Desember 2018 10:38 WIB Dadi Haryadi
Umum - Nasional, Panitia Reuni 212 Minta Doa Jokowi, Reuni 212, Jokowi, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab,

Massa reuni 212 memadati kawasan Monas. (Antara News)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM--Persaudaraan Alumni (PA) 212 memutuskan tidak mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Reuni Akbar Alumni 212 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (2/12/2018). Keputusan ini diambil dengan sejumlah pertimbangan, termasuk arahan dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

"Jadi sekali lagi panitia memutuskan untuk tidak mengundang Jokowi," kata Ketua PA 212 Slamet Ma'arif seperti dikutip dari JPNN.

AYO BACA : Panitia Reuni 212: Lebih 3 Juta Orang Hadir

Meski tak mengundang, Slamet mengatakan, pihaknya meminta doa saja dari Presiden Jokowi agar reuni yang diprediksi dihadiri satu juta peserta itu berjalan aman dan lancar. "Karena panitia tidak mengundang maka kami sarankan doakan kami Pak Jokowi, mudah-mudahan acaranya sukses aman dan tetap dalam koordidor kebersihan," papar Slamet.

Slamet juga memastikan pihaknya juga tidak mengundang Prabowo Subianto secara tertulis. Namun, dia mempersilakan jika Prabowo mau datang. "Artinya posisi sebagai tamu kehormatan. Sama dengan ketua DPR, ketua MPR, sama dengan tokoh lainnya," jelas Slamet.

AYO BACA : Sulit Mempersepsikan Reuni 212 Tak Bermuatan Politis

Lebih lanjut dia mengatakan, jika memang nanti Jokowi pengin hadir, maka pihaknya harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). "Supaya tadi, kita harus jaga kehormatan beliau. Kita harus jaga perasaan beliau. Itu jadi pertimbangan, kita sangat menghormati presiden sebagai simbol negara," katanya.

Sebab, ujar Slamet, tidak bisa dipisahkan Jokowi sebagai presiden dan capres. Karena presiden, maka harus dijaga dengan standar pengamanan orang nomor satu di Indonesia. "Kalau Pak Prabowo kan bukan presiden, hanya capres saja. Kalau ini (Jokowi) simbol negara, sehingga kalau terjadi sesuatu sama Pak Jokowi ini menyangkut negara, ini yang menjadi pertimbangan kami," jelasnya.

Menurut dia, kalau Prabowo tidak menyangkut dengan negara, karena cuma capres. Tapi, ujar dia, kalau presiden merupakan simbol negara, harus dijaga nama baik dan perasaannya. "Ini pertimbangan utama kami," pungkasnya.

AYO BACA : MUI Jabar Imbau Warga Jabar Tidak Ikut Reuni 212

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers