web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (4)

Kamis, 29 November 2018 14:30 WIB Rahim Asyik

Cuplikan berita Kongres Perdi di Societeit Habiprojo, Solo. Kongres yang diikuti sekitar 500 orang itu berlangsung tanggal 25 dan 26 Juni 1934. Beritanya dimuat di koran Sipatahoenan tanggal 28 Juni 1934.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM–Bakrie Soeraatmadja juga aktif di organisasi kewartawanan. Bakrie adalah salah seorang pendiri Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) yang merupakan cikal-bakal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sekaligus pendiri PWI.

Sebenarnya, Perdi bukan asosiasi jurnalis bumiputra pertama di Hindia Belanda. Pada tahun 1914, sebuah organisasi kewartawanan bernama Inlandsche Journalisten Bond (IJB) didirikan di Surakarta.

IJB didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo, djempolan kominis sekaligus journalist kawakan. Mas Marco Kartodikromo lahir dari keluarga priyayi rendahan. Dia adalah paman dari Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

Marco lahir di Bojonegoro, Cepu, sekitar tahun 1887. Ilmu jurnalistik diperolehnya dari Raden Mas Tirto Adhi Soerjo saat Marco jadi wartawan magang di Medan Prijaji di Bandung pada tahun 1909 atau 1911.

Selain di Medan Prijaji, Marco pernah bekerja di Doenia Bergerak, Sarotomo, Sinar Djawa, Sinar Hindia, Medan Moeslimin, dan Hidoep. Tulisan dan kritikannya yang pedas membuatnya keluar masuk penjara. IJB mati begitu Marco dihukum 7 bulan penjara pada 1 Juli 1915.

Pada 21 Juni 1927, sebagai buntut dari pemberontakan PKI tahun 1926, Marco dibuang ke Digul dan meninggal di tempat itu pada tahun 1931.

Perbedaan Perdi dengan IJB menurut Nobuto Yamamoto

Soal IJB dengan Perdi pernah dibahas oleh Nobuto Yamamoto lewat tulisannya di Jurnal Keio Communication Review No 36 tahun 2014. Dalam tulisannya, ”The Dynamics of Contentious Politics in The Indies: Inlandsche Journalisten Bond and Persatoean Djoernalis Indonesia”, menurut Yamamoto, kedua asosiasi jurnalis itu sama-sama memiliki aspirasi politik.

Bedanya terletak pada bagaimana IJB dan Perdi mengekspresikan dan menjalankan aspirasi politik mereka. Ekspresi berbeda itu merupakan respons dari apa yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap mereka khususnya dan pergerakan nasional umumnya.

Menurut Yamamoto, IJB bukan organisasi besar. Penyokongnya hanyalah teman dekat Marco, aktivis, wartawan, dan beberapa bangsawan di Surakarta. Memang ada nama Tjipto Mangoenkoesoemo, mantan pemimpin Indische Partij yang baru pulang dari pengasingannya di Belanda, ke dalam IJB.

Akan tetapi perannya tak banyak. IJB lebih merupakan proyek personal Marco untuk berkonfrontasi dengan otoritas kolonial ketimbang alat organisasi dengan Doenia Bergerak sebagai senjatanya.

Organisasi kewartawanan sebelum Persatuan Wartawan Indonesia

Sebelum dan setelah IJB, sebetulnya ada juga wadah wartawan lain. Sebutlah Perhimpunan Pengarang Soerat Kabar Melajoe di Hindia Nederland (Maleisch Journalisten Bond), Inlandsche-Chineesche Journalisten Bond, Indische Journalisten Bond, Journalistenbond Azia (Ikatan Wartawan Asia), Perserikatan Journalisten Asia, Perkoempoelan Kaoem Journalist (PKJ).

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (1)

Sementara itu, Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) didirikan Sabtu, 23 Desember 1933.    Nama Perdi merupakan usulan J.D. Sjaranamual, pemimpin redaksi Soeara Oemoem di Surabaya.

Perdi didirikan di Solo. Pemrakarsa pertemuannya Badan Permoesjawaratan Djoernalis Indonesia yang diketuai oleh Soetopo Wonobojo (pemimpin redaksi Koemandang Rakjat di Solo).

Dua hari sebelum kongres digelar, Residen Solo membatalkannya. Alasannya, Partindo (Partai Indonesia Raya) yang sedang terkena vergader-verbod (larangan ikut pertemuan), ikut hadir.

Namun para wartawan meneruskan rencananya. Saat rapat mau dibuka pukul 20.00 WIB, Soetopo Wonobojo masih belum ada. Soetopo ternyata sedang diinterogasi Politieke Inlichtingen Dienst (Dinas Intelijen Politik).

Beruntung, pemeriksaan terhadap Soetopo tak sampai membatalkan pertemuan wartawan.  Pertemuan baru terselenggara pukul 21.30 WIB setelah Soetopo beres diperiksa PID. Dalam sambutan yang kurang dari satu menit, Soetopo mengungkapkan kekesalannya, ”Kita belon merdika.”

Tak kurang dari 37 wartawan dari 10 harian, 7 mingguan, dan 9 majalah hadir dalam pertemuan itu.

Mereka berasal dari Soeara Oemoem, Oetoesan Indonesia, Darmo Kondo, Sikap, Sedio Tomo, Adil, Bahagia, Sin Tit Po, Djawa Tengah, Penjebar Semangat, Koemandang Rakjat, Tekad, Swara Tama, Al Jaum, Soeara Timoer, Soeloh Hoekoem, Kawroeh, Pengetahoean, Soeara PBI, Koemandang Garap, Penyedar, Panggoegah Ra’jat, Ksatrya, Narpowandowo, Berdjoang, Bidjaksana, Sedio Tomo, dan Sipatahoenan.

Perdi disebut sebagai klub eksklusif untuk editor koran pribumi

Melihat jumlah media yang menjadi anggotanya, Perdi jelas beberapa kali lipat lebih besar dari IJB. Bakrie Soeraatmadja datang dalam rapat pembentukan Perdi mewakili Sipatahoenan.

Tak urung suara-suara negatif masih terdengar. Nobuto Yamamoto menyebut Perdi sebagai klub eksklusif untuk editor surat kabar pribumi ternama. Tak heran kalau Perdi kesulitan menambah jumlah anggotanya.

Namun perlu diingat, mengurus koran pada masa itu bukan perkara mudah. Boro-boro mengurus organisasinya.

Djawoto menguraikan setidaknya empat kesukaran dalam mengurus koran pada masa Hindia Belanda. Pertama, kesukaran ekonomis (tiadanya permodalan dan sulitnya mendapatkan iklan).

Kedua, kesukaran teknis (sedikit sekali perusahaan media yang punya percetakan sendiri).

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (2)

Ketiga, kesukaran politis (terancamnya keselamatan) dan psikologis (kaum intelek lebih menyukai koran Belanda ketimbang koran bumiputra).

Keempat, kesukaran hukum (randjau dan brangus). Bisa jadi karena masing-masing pengurus sibuk mengurus korannya sendiri, tugas membesarkan organisasi agak terabaikan.

6 Azas Persatoean Djoernalis Indonesia

Lepas dari kesukaran-kesukaran itu, Perdi sudah dengan gamblang membuka diri seperti tecermin dalam asasnya. Jadi, siapa pun yang bekerja di bidang tulis-menulis untuk surat kabar, tanpa memandang agama dan keyakinan politiknya, asalkan dia jurnalis bumiputra, dia berhak menjadi anggota Perdi. Tinggal institusi media yang proaktif, apakah mau bergabung dengan Perdi atau tidak.

Berikut Azas Perdi, dikutip dalam ejaan aslinya…

  1. Djoernalis itoe pada hakekatnja jalah orang jang bekerdja toelis-menoelis goena soerat-soerat kabar.
  2. Djoernalis berkedoedoekan sebagai penjoeloeh dan pemimpin pikiran oemoem. Oleh karenanja, pada hakekatnja djoernalis itoe haroes menghamba kepada oemoem, dengan selaloe mengemoekakan keadilan, kebenaran dan kesopan-santoenan.
  3. Soenggoehpoen begitoe, djoernalis tidak dapat melepaskan sifatnja sebagai kaoem boeroeh, walau perboeroehan ini tidak hanja sebagai oemoemnja perboeroehan, jaitoe tidak hanja mempoenjai tanggoeng-djawab jang tertentoe pada fihak madjikan sadja, akan tetapi djoega mempoenjai tanggoeng-djawab terhadap oemoem.
  4. Oleh karena itoe, maka perhimpoenan kaoem djoernalis jang dengan sendirinja mesti memperhatikan kepentingan djoernalis dan pekerdjaannja (djoernalistik), haroes poela memperhatikan kepentingan oemoem adanja. Disebabkan sama beratnja, maka kedoea soal ini ta’ dapatlah dipisahkan antara satoe dengan lainnja.
  5. Soesoenan pergaoelan hidoep negeri kita jang merdeka, memberi tambah beratnja kewadjiban djoernalis, baik sebagai vakman, maoepoen sebagai poetera bangsa tidak merdeka, jang mempoenjai kewadjiban soetji terhadap Tanah-air dan Bangsa. Tiap-tiap orang djoernalis mesti merasai ini, oleh karenanja wadjib mengakoeinja.
  6. Dalam keadaan jang loear biasa itoe, maka paham ”oemoem” jang kita pakai, adalah jang teroetama mengenai kebangsaan kita. Maka perhimpoenan inipoen hanja teroentoek bagi djoernalis Indonesia sadja. Sebab paham bangsa ini mempoenjai pengertian satoe, dan paham kebangsaan itoe mempoenjai arti persatoean dari segenap bagian bangsa, maka oleh karenanja, perhimpoenan ini dalam pekerdjaannja selaloe menoedjoe dan mengingati persatoean bangsa, tidak memboeat pemisahan golongan dalam kebangsaan. Perhimpoenan ini tidak mempersoalkan haloean politiek djoernalis, sehingga semoea kaoem djoernalis Indonesia, dengan tidak menjinggoeng keagamaan dan kejakinan politieknja, dapat mendjadi anggota.

Berdasarkan atas keterangan-keterangan diatas itoe, maka perhimpoenan ini mempoenjai toedjoean:

  1. Memperhatikan, memperlindoengi dan mempertahankan kepentingan djoernalis dan pekerdjaannja (djoernalistik) dan semoea jang berhoeboengan.
  2. Mengoeatkan dan mempertinggi deradjad Pers Indonesia, oentoek menjempoernakan dia sebagai alat jang terpenting bagai tertjapainja segala tjabang (bagian) dari kemadjoean bangsa dan tanah air. (Sip, 1934: 6 dan Said, 1988: 42).

Dalam asas itu terlihat, jurnalis berbeda dengan buruh pada umumnya kendati penghasilannya bisa jadi jauh di bawah buruh pada umumnya. Perbedaannya terletak pada tanggung jawabnya terhadap kepentingan umum, bangsa dan negaranya.

Tujuan mulia jurnalis memajukan bangsa dan tanah airnya

Di tengah berbagai keterbatasannya, jurnalis punya tujuan mulia yakni memajukan bangsa dan tanah airnya. Corak nasionalistik tampak dalam asas Perdi.

Corak ini menandai kembalinya jurnalis ke khittahnya, yakni medan politik. Sepuluh tahun sebelum Perdi terbentuk, istilah pers netral mulai diperkenalkan Parada Harahap. Menurut Yamamoto, netral berarti apolitis.

Media yang netral adalah media yang bukan merupakan bagian dari berbagai organisasi politik. Terbukti, media apolitis mampu bertahan dan bahkan berkembang setelah pemberontakan PKI 1926.

Kata netral bisa juga dimaknai independen secara finansial atau sehat secara bisnis. Media harus mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa dukungan atau sumbangan dari organisasinya.

Tak ada yang salah dengan pilihan netral kecuali kalau dengan netral media jadi terlalu sibuk dengan bagaimana mempertahankan bisnisnya dan melupakan publik yang harus dibelanya. Padahal saat itu perjuangan meraih kemerdekaan sama pentingnya --kalau tak bisa dikatakan jauh lebih penting-- dari membesarkan koran.

Asas Perdi kembali menggaribawahi mana yang perlu didahulukan.

Walaupun lemah dari sisi kemampuan meluaskan keanggotaannya, Perdi tetap lebih terorganisasi dan memiliki anggota yang lebih banyak dari asosiasi kewartawanan lain sebelumnya.

AYO BACA : Inohong Sunda: Perintis Pers Indonesia Bakrie Soeraatmadja (3)

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers