web analytics
  

3 Tradisi Unik Memperingati Maulid Nabi di Jawa Barat

Selasa, 20 November 2018 02:00 WIB Mildan Abdalloh
Umum - Unik, 3 Tradisi Unik Memperingati Maulid Nabi di Jawa Barat, Maulid Nabi, Kelahiran Nabi, 12 Rabiul Awal, Tradisi, Nabi Muhammad SAW,

(Attia/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Setiap daerah mempunyai cara unik dalam memperingati maulid nabi SAW. Sebagian besar, memperingati kelahiran nabi dilakukan dengan cara melantunkan shalawat atau marhaba.

Namun, ada beberapa daerah yang mempunyai cara unik dalam memperingati maulid nabi. Ayobandung merangkum 3 tradisi unik memperingati maulid nabi SAW di Jawa Barat yang diolah dari pelbagai sumber, Selasa (20/11/2018).

1. Tradisi Panjang Jimat (Cirebon)
Panjang Jimat merupakan tradisi yang dilakukan di Keraton Corebon dalam memperingati maulid Nabi SAW. tradisi ini telah dilakukian sejak zaman khalifah Al Ayubi.

Tujuan dari tradisi ini adalah untuk mengenang dan selalu meneladani nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dilakukan di seluruh keraton Cirebon (Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan dan Kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan Cirebon).

Tradisi Panjang jimat dilakukan tiap malam 12 rabiul awal atau bertepatan dengan maulid nabi Muhammad SAW.

Sebutan Panjang Jimat sendiri adalah berasal dari dua kata yaitu Panjang dan Jimat. Panjang yang artinya lestari dan Jimat yang berarti pusaka. Jadi, secara etimologi, panjang jimat berarti upaya untuk melestarikan pusaka paling berharga milik umat Islam selaku umat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat syahadat. 

AYO BACA : Ribuan Santri Padati Lapangan Gasibu

Pada puncak malam 12 Rabiul Awal, diadakan ritual seremonal Panjang Jimat dengan mengarak pelbagai macam barang yang sarat akan makna filosofis, diantaranya barisan orang yang mengarak nasi tujuh rupa atau nasi jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan tempat sultan bertahta ke masjid atau mushala keraton, yang memiliki makna filosofis sebagai hari kelahiran nabi yang suci yang dilambangkan melalui nasi jimat ini.

Nasi jimat sendiri konon berasal dari beras yang disisil (proses mengupas beras dengan tangan dan mulut) selama setahun oleh abdi keraton perempuan yang sepanjang hidupnya memutuskan untuk tidak pernah menikah atau disebut juga dengan perawan sunti.

Nasi jimat diarak dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang masing-masing dari mereka membawa barang-barang yang memiliki simbol-simbol tertentu seperti lilin yang bermakna sebagai penerang, kemudian nadaran, manggar, dan jantungan yang merupakan simbol dari betapa agung dan besarnya orang yang dilahirkan pada saat itu, yakni Nabi Muhammad SAW.

Iring-iringan yang berawal dari Bangsal Prabayaksa tersebut akan menuju satu tempat yakni Langgar Agung dan akan di sambut oleh pengawal pembawa obor yang yang bisa dimaknai sebagai sosok Abu Thalib, sang paman nabi ketika beliau menyambut kelahiran keponakannya lahir yang pada saatnya kemudian tumbuh menjadi manusia agung pengemban amanat dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam.

Sesampainya di sana langgar agung itu, nasi jimat tujuh rupa itu kemudian dibuka berikut sajian makanan lain termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam.

2. Ngalungsur Pusaka (Garut)
Masyarakata Kampung Makam Godog, Karangpawitan Kabupaten Garut mempunyai cara sendiri dalam memperingati maulid Nabi SAW.

AYO BACA : Menjaga Tradisi Leluhur Sunda ala Kampung Adat Cikondang

Di kampung yang terdapat makam Kiansantang tersebut mepunyai tradisi Ngalungsur Pusaka sebagai peringatan maulid Nabi SAW.

Tradisi tersebut digelar dalam bentuk membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Syekh Rohmat Suci atau Prabu Kiansantang yang diyakini sebagai prutra dari Prabu Siliwangi.

Selain sebagai rangakaian peringatan maulid nabi, ngalungsur pusaka juga dilakukan sebagai penghormatan kepada Prabu Kiansantang yang telah menyebarkan ajaran Islam di tatar pasundan.

3. Ngumbah Pusaka (Sumedang)
Yayasan Pengeran Sumedang mempunyai cara unik dalam memperingati maulid nabi SAW. Di Museum Prabu Geusan Ulum biasa menggelar rituan ngumbah pusaka setiap awal rabiul awal atau bulan kelahiran Rasulullah.

Ritual pencucian benda-benda pusaka koleksi MPGU ini, merupakan salah satu tradisi turun temurun yang selalu dilakukan pihak YPS setiap awal bulan Mulud. Tradisi ini biasanya diawali denga mengarak pusaka koleksi MPGU.

Selanjutnya, semua pusaka tersebut diarak oleh keturunan YPS mengelilingi komplek museum dan gedung negara dengan dikawal oleh pasukan abdi kerajaan beserta masyarakat adat.

Sesampainya di Gedung Srimanganti, semua pusaka yang telah diarak itu langsung diserahkan kepada Bupati Sumedang yang dianggap sebagai simbol Raja Sumedang.

Adapun beberapa pusaka unggulan MPGU yang diarak tersebut, antara lain, Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tadjimalela, Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung, Keris Panunggul Naga peninggalan Prabu Geusan Ulun, Keris Naga Sasra I peninggalan Prabu Panembahan, Keris Naga Sasra II peninggalan Pangeran Kornel, Badik Curuk Aul 1 dan Badik Curuk Aul II peninggalan Mbah Jaya Perkosa.

Semua pusaka itu, satu persatu dicuci oleh Bupati dan pengurus MPGU dan dipandu olej abdi kerajaan yang bertugas memelihara semua benda pusaka tersebut. Semua benda pusaka itu konon dicuci dengan air yang berasal dari tujuh sumber air yang telah ditaburi bunga tujuh rupa.

AYO BACA : Mengenal Lakse Kuah: Makanan Langka Khas Kepulauan Riau

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers