web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Kopi Sunda Buhun Palintang, Cita Rasa Khas Disukai Pasar Internasional

Minggu, 4 November 2018 13:47 WIB Adi Ginanjar Maulana

Kopi Palintang asal Kampung Palintang Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung

AYO BACA : Innovation Expo 2018, Ekshibisi Produk Binaan Bisnis Unpad

CILENGKRANG, AYOBANDUNG.COM--Kopi saat ini sudah menjadi minuman primadona bagi sebagian besar masyarakat. Terutama kopi arabika asal Jawa Barat yang sudah menjadi gaya hidup tersendiri bagi banyak orang.

Adalah kopi palintang asal Kampung Palintang Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung yang sudah malang melintang di sektor kopi nasional maupun internasional.

Kopi palintang sendiri sudah menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Korea Selatan, Bangladesh, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara di Asia lainnya.

Sunda buhun, begitu petani menyebut varietas kopi asli Palintang ini. Untuk menghasilkan cita rasa khas, petani menanam pohon pisang sebagai pendamping tanaman kopi.

Sekretaris Lembaga Masyarakat Dalam Hutan (LMDH) Cipanjalu Jajang Oceng mengatakan pisang sebagai pendamping karena kopi memerlukan pohon lain sebagai pohon pelindung guna mengurangi intensitas sinar matahari.

"Idealnya pohon naungan tidak menjadi saingan tanaman kopi dalam penyerapan nutrisi atau unsur hara dalam tanah," ujarnya saat ditemui Ayobandung.com, Minggu (4/11/2018).

Pohon pisang ditanam berjajar di sela-sela tanaman kopi. Selain itu pohon pisang bisa menjaga kelelembapan tanah di saat musim kemarau.

Soal rasa, kopi palintang tidak kalah dengan kopi asal Malabar Pangalengan.

"Makanya banyak masyarakat yang mencari kopi palintang karena rasa lebih kuat dan asam," ujarnya.

Adapun proses pengolahan kopi ada empat cara antara lain natural, wash, honey, dan wine. Petani di Palintang sudah terbiasa dengan membuat kopi seperti itu.

Saat ini terdapat sekitar 600 kepala keluarga di Palintang yang berprofesi sebagai petani kopi. Produksi produksi cherry di sana mencapai 700 ton setiap musim dari lahan seluas 350 hektare.

Selanjutnya, 700 ton buah cherry menghasilkan 70 ton green bean yang siap dipasarkan. Untuk harga 1 kilogram green bean tergantung kualitas mulai Rp120.000 sampai Rp300.000.

"Kami biasanya jual green bean untuk memenuhi kebutuhan pasar selama ini," katanya.

Buka Pasar Sendiri

Selama ini petani kopi di Palintang memasarkan kopi secara mandiri. Sebab, bila melalui tengkulak keuntungan yang didapat sangat tipis.

Bahkan, kata dia, keuntungan tersebut tidak sebanding dengan ongkos produksi dari mulai musim tanam hingga panen.

"Sebagian besar masyarakat sudah memasarkan sendiri kopi baik lewat kelompok tani maupun jaringan sendiri," katanya yang juga pemilik kedai kopi Sunda Buhun.

Dia mengaku, dalam sebulan, serapan produksi pasar ekspor bisa mencapai 4 ton. Hal ini konsisten terus berlanjut hingga produksi kopi habis di tingkat petani.

AYO BACA : Gomez Didenda Rp50 Juta, Kenapa?

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers