web analytics
  

Berita Pilihan: Teras Sunda Cibiru & Catatan Terbang JT610

Jumat, 2 November 2018 00:46 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Raya - Bandung, Berita Pilihan: Teras Sunda Cibiru & Catatan Terbang JT610, Berita Pilihan, Air Asia Jatuh, Pesawat Jatuh, Lion Air JT610,

Teras Sunda Cibiru. (Irfan Al-Faritsi-Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Berikut berita pilihan yang dirangkum Ayobandung.com yang masih laik baca pada hari ini.

 

Teras Sunda Cibiru yang Kekinian

Kota Bandung tak pernah habis menghadirkan tempat wisata. Untuk menarik wisatawan ke Kota Bandung, pemerintah kembali membangun destinasi wisata baru di wilayah Bandung timur yaitu Teras Sunda Cibiru.

Teras Sunda Cibiru merupakan tempat wisata berbasis seni dan budaya di Kota Bandung yang terletak di Jalan AH. Nasution, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.

Bangunan yang dibangun tahun 2017 dan baru diresmikan pada Rabu (31/10/2018) oleh Wali Kota Bandung Oded M. Danial ini diperuntukkan sebagai laboratorium budaya kesenian dan seniman Kota Bandung, serta ruang promosi seni dan budaya Sunda ke mancanegara.

Berbagai fasilitas disediakan di tempat dengan luas 5.600 meter persegi ini. Sejumlah ruang disiapkan untuk menggelar acara seni seperti ruang pembuatan alat, galeri, tempat pentas seni, musala, dan tempat parkir bawah tanah. Pengunjung tidak dipungut biaya alias gratis ketika berkunjung ke Teras Sunda Cibiru.

Menurut Ketua Paguyuban Seni Calung kota Bandung (PSCKB) Wawan Wangsit, selain menjadi ruang berekspresi para seniman, Teras Sunda Cibiru juga bertujuan untuk menjadi daya tarik wisata.

“Tinggal pengemasan kita sebagai orang seniman bagaimana berkarya membuat seni supaya menarik wisatawan,” kata Wawan saat ditemui Ayobandung.com. Rabu (31/10/2018).

Setelah peresmian, Wawan berharap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung segera membentuk Unit Pelaksana Teknis khusus untuk mengelola tempat tersebut. Nantinya Teras Sunda Cibiru harus memiliki kalender tahunan yang di dalamnya terdapat agenda kegiatan seni dan budaya mulai dari harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.

“Jangan sampai ketika ada wisatawan atau turis datang di sini tidak ada yang mengisi kegiatan,” jelasnya.

 

Keanehan pada Pesawat Lion Air

AYO BACA : Teras Sunda Cibiru, Wisata Seni dan Budaya Baru Kota Bandung

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan PK-LQP yang jatuh di perairan Tanjung Karawang Senin (29/10/18) sebelumnya kerap mengalami penguluran jam keberangkatan.

Dalam tujuh hari terakhir sebelum kecelakaan terjadi, pesawat ini tercatat mengalami penundaan penerbangan di sebagian besar jadwal dengan durasi yang bervariasi. Hal tersebut didasarkan pada hasil pencarian rekam jejak penerbangan PK-LQP melalui situs pelacak penerbangan Flightradar24.

Ayobandung.com menelusuri catatan Scheduled Time Departure (STD), yakni waktu keberangkatan yang dijadwalkan dengan Actual Time Departure (ATD) yakni waktu keberangkatan sebenarnya. Dari sinilah penundaan keberangkatan pesawat dapat terlihat.

Hal tersebut juga memengaruhi Scheduled Time Arrival (STA) dan jam pendaratan pesawat di lapangan yang sebenarnya. Berikut catatan perjalanan Lion PK-LQP sepekan sebelum kecelakaan:

23 Oktober

Pada 23 Oktober 2018 PK-LQP memiliki enam jadwal penerbangan. Pada penerbangan Jakarta-Bandar Lampung-Jakarta, pesawat ini masing-masing mengalami penundaan selama 23 dan 28 menit.

Pada rute selanjutnya, yakni Jakarta-Balikpapan-Jakarta, PK-LQP mengalami penundaan namun total tidak sampai 1 jam. Berikutnya, pada penerbangan Jakarta-Denpasar terjadi penundaan selama 18 menit. Hal tersebut berulang pada rute Denpasar-Chongqing, dengan penundaan penerbangan 29 menit.

24 Oktober

Rute penerbangan PK-LQP pada 24 Oktober hanya 2 sesi. Pada rute pertama, Chongqing-Denpasar, terjadi delay selama 31 menit. Dari Denpasar kemudian berangkat menuju Tianjin pada pukul 16.36, hanya meleset 1 menit dari STD. 

25 Oktober

Dari Tianjin ke Denpasar hanya delay 3 menit, STD pukul 01.05 dan berangkat pukul 01.08. Pesawat tiba di Denpasar pukul 8.04. Pada rute berikutnya, Denpasar-Surabaya, terjadi delay selama 27 menit. 

Kemudian, dilanjut rute Surabaya-Denpasar dengan delay 40 menit. Dijadwalkan berangkat pada 11.05, pesawat baru berangkat pada 11.45, dan tiba di Denpasar pukul 13.24. 

Rute terakhir hari itu yaitu dari Denpasar menuju Shanghai dengan jeda waktu cukup lama dari penerbangan sebelumnya. keberangkatan pesawat dijadwalkan pada 19.20, pesawat baru berangkat 17 menit kemudian, dan tiba di Shanghai pada 01.39.

AYO BACA : Begini Catatan Terbang Lion PK-LQP Seminggu Sebelum Jatuh

26 Oktober

Rute pertama pada 26 Oktober 2018 yaitu Shanghari-Denpasar dengan STD pukul 02.55 waktu Tiongkok, dan berangkat 7 menit kemudian. Delay yang cukup lama, sekitar 2,5 jam, terjadi di rute selanjutnya, yaitu Denpasar-Manado. Dijadwalkan berangkat pada 09.55, namun pesawat baru lepas landas pukul 13.38. 

Penerbangan dilanjut rute Manado-Tianjin pada 16.55, namun pesawat baru berangkat 17.34 dan mendarat pukul 23.13.

27 Oktober

Pada 27 Oktober 2018, penerbangan mencapai 5 rute. Rute pertama yaitu dari Tianjin menuju Manado pada pukul 00.15, dan baru berangkat pada 00.54. 

Kemudian dilanjut Manado-Denpasar pada pukul 06.40. Pesawat mengalami delay mencapai 73 menit sehingga baru berangkat pada 07.53. Pesawat mendarat pukul 10.11 WITA. Dari Denpasar, seharusnya PK-LQP sudah terbang ke Manado kembali pada 09.55, namun karena sebelumnya delay, keberangkatan ditunda hingga pukul 14.34. 

Waktu delay yang lama tersebut dipakai PK-LQP melakukan rute PP Denpasar-Lombok-Denpasar. Rute ini pun tak luput dari keterlambatan. Keberangkatan dari Denpasar menuju Lombok seharusnya sudah berangkat pada 10.30. Namun kenyataannya, catatan waktu ATD menunjukkan pesawat berangkat pada 11.48.

Rute terakhir penerbangan ini dijadwalkan berangkat dari Lombok menuju Denpasar pada 11.40, namun baru berangkat pada 12.56. 

28 Oktober

Pada 28 Oktober 2018, PK-LQP memiliki jadwal terbang Manado-Denpasar, STD pukul 06.40, namun pesawat baru berangkat pukul 07:51. Pesawat kemudian tiba di Denpasar pukul 10.00, meleset 50 menit dari STA yang menjadwalkan pesawat ini untuk mendarat pukul 09.10.

Dari sana ada jeda waktu keberangkatan yang terbilang lama sebelum penerbangan selanjutnya, yakni Denpasar-Jakarta. PK-LQP baru dijadwalkan untuk terbang menuju Jakarta pada 19.30, atau 9.5 jam dari kedatangannya di Denpasar. Kenyataannya, pesawat kembali delay dan baru lepas landas pada pukul 22:21.

29 Oktober

Pada 29 Oktober 2018 menjadi akhir perjalanan PK-LQP. Pesawat ini dijadwalkan berangkat pukul 06.10 dari Jakarta dan tiba pada 07.20 di Pangkal Pinang. 

Namun, seusai lepas landas pada 06.20, pesawat Boeing 737 MAX 8 ini berakhir jatuh di periaran Tanjung Karawang dan menelan 189 korban yang hingga saat ini masih dalam masa pencarian. 

AYO BACA : Kejanggalan Lion Air JT-610 Sehari Sebelum Jatuh

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers