web analytics
  

Ketika Bencana Menjadi Komodifikasi Media Massa

Kamis, 1 November 2018 07:46 WIB Fathia Uqimul Haq
Umum - Nasional, Ketika Bencana Menjadi Komodifikasi Media Massa, fikom unpad, jurnalisme bencana, bencana, gempa, lion air jatuh

Kuliah umum terkait Komodifikasi Bencana di Media Massa oleh Wartawan Harian Umum Kompas, Ahmad Arif di Aula Pascasarjana Fikom Unpad, Rabu (31/10/2018). (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

SUMEDANGAYOBANDUNG.COM--Berita bencana sering menjadi momok bagi pembaca. Baik melalui televisi, koran, atau media daring, bencana menjadi isu seksi yang dapat menaikkan rating dan klik sebuah media. 

Ketakutan itu timbul ketika media mengemas isu bencana dengan berbagai sudut, cara, dan menadah pernyataan narasumber yang tidak kredibel.

Wartawan Kompas, Ahmad Arif, menjelaskan, Indonesia semestinya belajar dari media luar. Misalnya pemberitaan 12 orang anak yang terjebak di gua Tham Luang Nang Non, Thailand. Media luar tidak mengungkapkan nama anak atau tetangga yang diwawancara. 

Media di Indonesia, kata wartawan spesialis bencana itu, menghadapi berita buruk adalah berita baik buat mereka. Mereka mengejar rating dan klik di atas segalanya. Politisi, paranormal, ustaz, bahkan dukun diminta berkomentar. Keluarga malah ditanya perasaan dan firasat sebelumnya.  

"Bencana menjadi headline setelah terjadi. Media di Indonesia masih banyak mengejar sensasi klenik, mitos, dibandingkan substansi. Mitigasi bencana dan disaster risk reduction (DRR) minim diberitakan," katanya dalam kuliah umum Komodifikasi Bencana di Fikom Unpad, Rabu (31/10/2018). 

Wartawan meninggalkan korban, dan media gagal mengonstruksi mitigasi. Menurutnya, jurnalisme bencana ini dimulai saat tsunami Aceh. 

Beberapa media luar, menurutnya, justru memberitakan media Indonesia yang membuat berita bencana sebagai komodifikasi. Terlebih saat peristiwa jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 yang menampilkan tubuh manusia mengambang dengan hanya berpakaian dalam. Beberapa media menyoroti tubuh korban. Padahal hal tersebut sudah melanggar etika. 

"Media tidak pernah mengungkap sebenarnya apa yang terjadi dan persoalannya apa dengan pesawat Indonesia yang jatuh ini. Mereka terlalu sibuk sama persoalan enggak penting," ujarnya. 

Media membingkai hasil riset menjadi gosip. Mereka telah menyebarkan kepanikan untuk sebuah klik tinggi yang menjanjikan. Namun, di sisi lain, dampak sosial tidak diperhitungkan. 

Komoditi ini mencakup ketakutan yang disebarkan, informasi ilmiah yang ambigu, dan konflik antaraktor. Dari sana, media mendapatkan klik sebagai pendapatan yang menjanjikan.

"Terjadilah bias kepentingan media. Berita media identik dengan suara pemilik modal, CSR terselubung dalam bantuan kemanusiaan dana, dan bias sentralisasi seperti pemberitaan merapi dan mentawai. 

Wartawan yang pernah ditempatkan selama tiga tahun di Aceh usai tsunami ini mengatakan, media harus memberitakan mitigasi sebagai info publik yang mengedukasi. Nahas, media saat ini terlalu banyak bicara soal bencana atau pantas disebut jurnalisme kejadian bencana.

Jurnalisme bencana ini setidaknya dapat dibuat dengan tiga tahap. Pemberitaan prabencana seperti mengingatkan warga terhadap ancaman untuk mendorong kesiapsiagaan.

Kedua, saat bencana seharusnya fokus pada korban selamat, korban terentan seperti anak-anak dan wanita, serta membangkitkan semangat korban.

AYO BACA : 3 Berita Populer 1 November

Ketiga, setelah bencana, wartawan mesti mengawal proses rekonstruksi dan rehabilitasi agar tidak menjadi bencana baru. Pengawalan dana kemanusiaan kepada korban dan elite pemangku kebijakan. 

"Biasanya setelah 45 hari, media sudah melupakan bencana tersebut. Misal seperti gempa Lombok, kemudian Palu, sekarang Lion Air," jelasnya. 

Seharusnya, media membuat pelajaran di setiap kejadian. Media juga bisa membantu memastikan keamanan dan keadaan korban, mengikuti kebutuhan korban, dan membangkitkan semangat. Namun yang muncul, korban justru dieksploitasi. 

Jurnalisme pascabencana adalah memastikan keadaan supaya lebih baik. Ketika tahu ada tsunami dan gempa, warga seharusnya sadar untuk berubah lebih baik.

Ketika mengetahui riwayat bencana, warga mengetahui tempat mana yang harus dihindari supaya meminimalisasi bencana selanjutnya.

Realitasnya, seperti tsunami Aceh, banyak warga yang kembali hidup di tempat rawan tsunami. 

"Bencana tidak mengubah warganya sejak bencana sampai sekarang," kata lelaki yang memulai kewartawanannya sejak 2003.

Menurutnya, momentum bencana ini menjadi momen terbaik untuk mengingat pentingnya mitigasi dan risiko. Untuk mewujudkan masyarakat tangguh menghadapi bencana, media menjadi jembatan antara publik, saintis, dan pemangku kebijakan. 

Kekurangan dari wartawan di Indonesia adalah terlalu cepatnya perputaran desk. Wartawan yang terlalu general berdampak pada tidak mendalamnya berita. Seharusnya setiap wartawan memiliki spesialisasi masing-masing supaya memahami dan mengemas berita menjadi informasi yang sehat. 

"Bukan info tangisan korban. Biasanya bencana menjadi sarana perpeloncoan wartawan baru supaya lebih kuat mental katanya. Meliput kebencanaan seharusnya ada pemahaman dasar," jelasnya. 

Di luar negeri, wartawan dan akademisi melakukan pertemuan rutin tiap bulan untuk merumuskan apa yang bisa dilakukan. Wartawan menjadi bagian dari pihak yang berisiko dalam diskusi peran. Sayang, di Indonesia hal itu tidak terjadi dan sulit untuk menemuka wartawan spesialis. 

Arif menjelaskan, media harus lebih rasional untuk berperan ke masyarakat agar bencana itu bisa dimitigasi. Tidak perlu mengkaitkan dosa, azab, dan eksploitasi firasat. 

Indonesia mesti belajar pada media Jepang. Di sana pemberitaan tidak ada tampilan mayat dan orang-orang yang menangis. Iklan komersial dihentikan. Pemerintah membeli kolom iklan untuk menjadi iklan layanan sosial terkait membantu sesama.

Jepang mengemas bencana tsunami menjadi titik balik agar lebih baik. Mereka memberitakan korban dengan ketidakpastian akan kekurangan, namun di akhir wartawan menulis secercah harapan baru supaya korban tidak perlu khawatir.

AYO BACA : Gempa Guncang Sukabumi dan Bogor

Editor: Rizma Riyandi

artikel terkait

dewanpers