web analytics
  

Berburu Milky Way ke Ciwidey

Rabu, 31 Oktober 2018 03:17 WIB Netizen Netizen
Netizen, Berburu Milky Way ke Ciwidey, Milky Way, Galaksi Bimasakti, Gugusan Bintang, Ciwidey, Ranca Upas, Situ Patenggang,

Milky Way. (Dok Herry P.)

Istilah Milky Way menarik perhatian saya. Istilah itu digunakan untuk menyebut galaksi Bimasakti yang berisikan gugusan bintang-gemintang membentuk pola spiral dengan diameter 100.000 tahun cahaya.

Berburu foto milky way memang tak semudah yang dibayangkan. Fenomena alam yang keindahannya telah mendunia itu ternyata hanya bisa ditemukan di tempat dan waktu yang tepat. Butuh dari sekedar persiapan alat dan perlengkapan yang mumpuni, namun faktor keberuntungan juga berperan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan milky way.

Pertama, kita harus mencari lokasi terbuka yang bebas dari berbagai polusi, baik polusi udara maupun polusi cahaya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena tempat-tempat tersebut seringkali jauh dari tempat tinggal kita. Pegunungan atau pantai yang masih sepi menjadi pilihan terbaik.

Di Jawa Barat, salah satu tempat berburu milky way terbaik berada di kawasan wisata Ciwidey Kabupaten Bandung. Selain karena lokasinya yang tinggi, keasrian suasana serta landscape-nya yang memukau, polusi disini cukup rendah. Selain itu, kawasan ini mempunyai banyak spot menarik yang bisa dijadikan tempat berburu milky way, seperti Ranca Upas, Situ Patenggang, dan perkebunan teh.

Ranca Upas menjadi pilihan berburu milky way kami, Sabtu (13/10/2018) dua minggu lalu. Selain karena memenuhi syarat lokasi untuk memperoleh milky way, Ranca upas atau Kampung Cai Ranca Upas merupakan kawasan wisata alam dan bumi perkemahan terpopuler bagi traveller untuk melihat keindahan alam lebih dekat.

Kawasan ini juga merupakan hutan lindung dan tempat konservasi berbagai macam flora dan fauna, misalnya tanaman langka seperti jamuju dan kihujan (trembesi), serta fauna dilindungi seperti rusa.

Kawasan yang berada di ketingggian 1700 mdpl ini memiliki luas area 215 hektar. Tentu saja, suhu udara disini cukup dingin. Saat kami datang ke lokasi sekitar pukul 17.15 WIB, udara mencapai 17 derajat Celcius.

AYO BACA : Merekam Apa yang Dilihat Bintang Angkasa di Puncak Bintang

Kabut sedang turun menutupi pandangan. Bisa dibayangkan ketika dini hari, suhu udara bisa sangat ekstrim. Oleh karena itu bagi yang akan bermalam disini, sangat dianjurkan membawa jaket, baju, penutup kepala, sarung tangan, dan kaus kaki yang tebal.

Saking dinginnya, di dalam tenda pun berembun. Api unggun menjadi satu-satunya penghalau udara dingin yang efektif, meskipun asapnya yang masuk ke tenda dapat membuat bangun para penghuninya.

Selain syarat lokasi, peralatan yang digunakan memegang peranan yang sangat vital. Harris Rinaldi, ketua rombongan kami mengatakan selain kamera (DSLR/Mirrorles), gear wajib adalah tripod dan lensa wide. "Lensa kit 18 mm juga bisa, lebih bagus lagi kalau punya lensa wide dengan f besar, misalnya 12 mm f/2 samyang," ujarnya.

Ketika malam semakin larut, Harris mulai meminta kami untuk mengatur kamera. "Intinya, pakai lensa paling wide yang kita punya, gunakan diafragma (f) paling besar, iso coba paling besar di 3200, Sutter Speed 30 detik, jangan lupa setting White Balance untuk mendapatkan efek warna yang lain dari biasanya," katanya.
Kami pun mulai mencoba-coba settingan sampai mendapatkan settingan yang pas sesuai keinginan (selera) masing-masing.

Saya penasaran kenapa sutter speed di set pada 30 detik? “Karena menurut pengalaman para photographer, 30 detik itu adalah waktu maksimum agar bintang tetap seperti titik, bukan sebuah garis. Kalau lebih dari 30 detik, maka bintang akan ‘berjalan’ dan nampak seperti apa yang kita sebut sebagai light painting, kecuali, memang efek seperti itu yang ingin didapatkan,” jelasnya.

Dalam dunia photography, ada aturan dasar yang disebut sebagai rule-600. Jadi shutter speed maksimum yang diperbolehkan agar bintang tak bergerak adalah 600 dibagi dengan focal length of lens.

Sebagai contoh, jika menggunakan lensa 18 mm, maka waktu maksimum adalah 600/18 = 33 detik. Meski tidak selalu seakurat ini karena tergantung dari posisi kita di bumi, tapi rumus itulah yang digunakan sebagai permulaan untuk camera setting-nya.

Hal lain yang kami lupa adalah faktor keberuntungan. Langit masih tertutup kabut dan berawan sejak sore tadi. Kami memutuskan untuk menyimpan baterai dan energi kami, siapa tahu cuaca cerah kami dapatkan menjelang malam hingga dini hari nanti.

AYO BACA : Rayakan Malam Tahun Baru, Ribuan Wisatawan Padati Puncak Bintang

Oh ya, sebagai catatan tambahan. Jika hanya memotret bintang, mungkin bisa kapan saja. Tapi ingat bahwa bumi kita ini berputar pada porosnya (rotasi). Ada kalanya milky way tidak terlihat dari tempat kita berdiri. Untuk mengecek posisi milky way, dibutuhkan aplikasi khusus seperti stellarium, sky guide, dan banyak sekali di app store.

Searching aja ya. Konon, paling enak memotret milky way itu adalah saat April – September di arah selatan. Milky way juga akan sulit terlihat jika ada bulan (polusi cahaya juga). Jadi, lebih baik kita memotret saat bulan baru muncul, sehingga malam gelap akan lebih panjang.

Langit mulai cerah sementara udara menjadi sangat dingin. Sekujur tubuh perlahan membeku. Kami mulai melakukan pengecekkan posisi milky way menggunakan aplikasi stellarium. Setelah dilakukan pengecekkan di aplikasi, posisi rasi bintang Sagitarius berada dibawah horizon.

Artinya, milky way telah melewati kami. Untuk meyakinkan, kami melakukan pemotretan lagi ke berbagai sudut. Hasilnya memang benar, milky way tak nampak dari hasil foto-foto itu. Kecewa, pastinya. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu pagi. Sambil berharap, fajar nanti menjadi fajar yang istimewa. Kami yakin, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian.

Harapan kami terwujud. Saat sunrise muncul, kabut-kabut menambah keindahan. Sungguh pemandangan landscape yang jarang sekali kami temukan. Kami berburu sunrise. Menangkap momen matahari terbit (dan terbenam) memang mempunyai tantangan tersendiri.

Perlengkapan dan persiapan kami arahkan untuk menangkap setiap momen yang datang. Perubahan kondisi cahaya yang cepat menuntut untuk menyesuaikan diri dalam waktu yang singkat pula. Jika tidak bertindak cepat, warna benderang matahari terbit akan memudar. Terlambat berarti kehilangan moment, begitu bukan?

Berburu milky way berubah menjadi berburu matahari terbit. Apa pun itu, bagi saya, ini hunting bareng pertama kali yang berkesan. Banyak sekali ilmu dan pengalaman yang didapatkan, serta yang terpenting, menjalin silaturahmi dengan teman-teman.

 

Herry P.

Kanwil DJP Jawa Barat I

AYO BACA : Lima Tempat Vakansi Cantik nan Menggoda Asal Ciwidey

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Dadi Haryadi

terbaru

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

Sudah Tahu Instrumen Investasi Kalangan Kpopers? Harganya Luar Biasa!

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:35 WIB

Segala hal langka yang diincar para Kpopers bisa dihargai amat mahal.

Netizen, Sudah Tahu Instrumen Investasi Kalangan Kpopers? Harganya Luar Biasa!, Instrumen Investasi Kalangan Kpopers,Kpopers,Korean Pop,photocard,photobook

Dilecehkan di Ranah Daring, Pengguna Internet Harus Bagaimana?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 11:55 WIB

Kejahatan di ranah digital yang saat ini banyak dilaporkan adalah Kekerasan Berbasis Gender Online, atau yang biasa dise...

Netizen, Dilecehkan di Ranah Daring, Pengguna Internet Harus Bagaimana?, Ranah Daring,Pelecehan,Kekerasan Berbasis Gender Online,KBGO,psikologis,Mental

Menjadi Pion Utama di Bawah Nasib Buruk Perfilman Indonesia

Netizen Senin, 3 Mei 2021 | 14:10 WIB

Sebab, pion utama dalam sebuah film ialah seorang produser.

Netizen, Menjadi Pion Utama di Bawah Nasib Buruk Perfilman Indonesia, Perfilman Indonesia,Nasib Buruk Perfilman Indonesia,Pion Utama,Produser,Film

artikel terkait

dewanpers