web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Bandung Pisan: Perajin Kaus Gang Pasantren Ingin Jadi Kawasan Wisata

Rabu, 31 Oktober 2018 01:00 WIB Fathia Uqimul Haq

Sejumlah perajin memanfaatkan bahan sisa garmen untuk kaus anak di Gang Pasantren, Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Selasa (30/10/2018). (Fathia Uqimul Haq/Ayobandung.com)

BOJONGLOA KALER, AYOBANDUNG.COM -- Sejak 1995, Amin (40) telah menjadi perajin kaus anak dari bahan sisa garmen. Dia mengaku limbah pabrik itu disulap menjadi baju dan celana anak. Dalam seminggu, dua kuintal bahan sisa dia buat menjadi kaus jadi.

"Baju dan celana anak kecil, seukuran 30 sentian. Dijual ke grosiran di depan," katanya di Gang Pasantren, Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Selasa (30/10/2018).

Lebih dari 20 tahun Amin merintis usaha ini. Rumahnya telah menjadi lautan bahan dan baju anak-anak yang kerap dibeli dengan harga miring. 7 pegawai pun turut menjadi perajin kaus di bawah Amin.

Amin mengaku setiap hari ada saja penjual bahan sisa garmen. Kadang dia membeli langsung dari penjaja, atau membeli dari langganan.

AYO BACA : Bandung Pisan: Cerita Krisna Sari, Pisang Bolen dari Bojongloa Kaler

"Seminggu bisa produksi 60 lusin. Dijual selusin Rp30.000 ke grosiran," ujarnya.

Namun, kurangnya pemasaran membuat penjualan tidak selalu mulus. Mimpi untuk menjadi kawasan wisata masih di angan-angan. Ditambah persaingan antar toko dan pemodal yang semakin menggeliat membuat perajin lainnya angkat kaki.

Perintis kaus anak dari bahan sisa garmen, Nandang Suhara (45) mengaku sulit  menyeragamkan visi dan misi untuk menjadikan Gang Pasantren sebagai kawasan wisata. Ruwetnya warga yang hanya ingin jalan di tempat membuat Nandang tak bisa berbuat apa-apa.

"Ya gitu warga mah enggak mau ribet, jadi sudah gini aja. Tidak ada kemauan," kata Nandang.

AYO BACA : Bandung Pisan: Sedekah Sampah ala Kecamatan Bojongloa Kaler

Terlebih perintis yang telah meninggal pada 2013, Arifin, membuat semangat menumbuhkan Gang Pasantren sebagai kawasan wisata semakin melempem.

Nandang menjelaskan, kesulitan Gang Pasantren adalah soal modal dan pemasaran. Istilah kuat-kuatan modal terus berkembang. Ketidakinginan warga untuk terlilit utang apalagi melangkah ke bank semakin tak keruan. Alhasil, perajin kaus dari sisa bahan garmen menyusut.

"Dari 100 perajin sekarang tinggal 50 perajin lagi," ucapnya.

Sebagai sekretaris RW 08, Nandang berharap supaya pemerintah turut mengembangkan Gang Pasantren menjadi salah satu destinasi wisatawan. Selain melihat proses produksi bahan limbah menjadi rupiah, kaus anak-anak dengan harga miring bisa menjadi pilihan pengunjung.

"Pelatihan kita suka ikuti. Pemkot juga suka memberi fasilitas pelatihan dan bazar. Kaya gitu sudah cukup, inginnya ada follow up lagi supaya kawasan kita dilirik oleh masyarakat. Atau ada suntikan modal untuk warga," pungkasnya.

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Bojongloa Kaler Jadi Pembina UMKM Terbaik se-Kota Bandung

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers