web analytics
  

Metode Montessori, Bebaskan Anak Bereksplorasi

Minggu, 28 Oktober 2018 11:23 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Gaya Hidup - Sehat, Metode Montessori, Bebaskan Anak Bereksplorasi, Metode Montessori, Mengasuh Anak,  Praktisi PAUD Vidya Dwina Paramita, Seminar Parenting,

(Ilustrasi Pixabay)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Menjadi orangtua yang baik bagi anak memang tidak ada sekolahnya. Namun bukan berarti tidak bisa mempelajarinya.

Vidya Dwina Paramita, seorang praktisi PAUD, memperkenalkan prinsip parenting dari Maria Montessori dalam Seminar parenting "Pengasuhan damai dengan Filosifi Montessori" yang digelar oleh Modernmom Bandung di Grand Tjokro, Minggu (28/10/2018).

Dia menjelaskan Montessori merupakan sebuah nama seorang pendidik dan ilmuwan berkebangsaan Italia yang lahir pada 1870-an, bernama Maria. Metode pendidikan yang diajarkan pada anak-anak masa itu masih relevan bahkan hingga kini.

Maria mengembangkan metode pendidikan anak-anak dengan cara memberi mereka kebebasan dan mengatur kegiatan harian mereka sendiri. Metode ini kemudian dikenal sebagai Metode Montessori.

Vidya menekankan pentingnya pengasuhan damai dengan filosifi montessori oleh orang tua di masa emas seorang anak, yaitu usia 0-6 tahun. Hal ini sangat penting karena merupakan tonggak awal kehidupan seorang manusia.

AYO BACA : Tujuh Pola Asuh Anak yang Unik di Dunia

Dalam masa ini terdapat salah satu masa kepekaan atau periode sensitif. Di masa ini pula ada kepekaan anak terhadap pada keteraturan. Pengasuhan pada masa inilah yang menentukan karakter anak tersebut ketika beranjak dewasa.

"Anak itu sangat butuh keteraturan. Keteraturan ini bisa bikin anak secure dan kalau ada ketidakteraturan akan membuat anak tumbuh menjadi insecure. Makanya yang punya anak di bawah 6 tahun jangan banyak perubahan. Misal pindah rumah, pindah sekolah, perceraian, atau pernikahan ulang," ungkap Vidya.

Sebaliknya jika orangtua tidak bisa memanfaatkan fitrah kepekaan dari sang anak, hal ini merupaka pola asuh yang salah dari orangtua sendiri. Alhasil kesalahan ini bisa jadi malah  menumbuhkan ketidakpedulian anak dengan lingkungan.

"Sehingga kuncinya orang tua sendiri lah yang menentukan pola penurunan kepekaan itu. Kepekaan anak nanti di masa dewasanya dipengaruhi pola saat masih kecil," lanjutnya.

Bukan hanya itu melalui metode Montessori ini, Vidya juga menjelaskan bahwa anak-anak berada dalam prepared environment. Maksudnya adalah anak-anak berada dalam lingkungan atau ruangan yang aman, bersih, mendukung anak mengeksplorasi. Meski begitu terdapat aturan yang jelas dan bebas berbatas.

AYO BACA : Empat Selebgram Peduli Masalah Ibu dan Anak

"Temasuk kalau punya anak 0-6 tahun harus sering membangkitkan kepeduliannya dengan sekitar. Jadi enam tahun pertama ini kepekaannya di tinggiin karena masa itu masa yang paling baik," sambungnya.

Dengan konsep dasar seperti ini pun kata Vidya, anak-anak bebas belajar apa pun dengan teratur. Anak-anak boleh berkreasi dengan berbagai detail kecil dengan teratur dan nyaman. Metode ini juga sangat mendukung anak untuk mengeksplorasi semua hal yang dilakukannya. Pasalnya, anak-anak belajar sesuatu dengan menggunakan seluruh indera yang dimilikinya. Anak pun akan menikmati proses belajarnya.

“Biarkan anak untuk mengeksplorasi proses yang dilakukannya sehingga ia mampu menemukan sesuatu berdasarkan pengalaman langsungnya," paparnya.

Sementara itu Vidya menyebut, orang tua dan guru hanya sebagai fasilitator atau observer.  jangan ikut ‘masuk’ ke dalam kegiatan si anak. Meski memang dalam metode montessori pun ada pola kebebasan yang berbatas. Artinya berikan kesempatan untuk berekspolorasi tapi beri pagar pula untuk menjaga keamanan dan norma sopan santun.

"Namun, jika kegiatan anak sudah membahayakan dan menjauhi norma kesopanan atau nilai kebaikan, barulah kita ‘masuk’ dan kegiatan anak harus langsunh dihentikan,” ujar Vidya.

Sekadar informasi, Vidya berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini sebagai pengajar sejak tahun 2007. Setelah mendapat gelar sarjana humaniora dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya di Universitas Indonesia, ia mendalami metode Montessori melalui program Diploma Internasional di Modern Montessori International.

Pada tahun 2012, ia diminta untuk meramu metode dan kurikulum serta melakukan monitoring dan pelatihan bagi guru, manajemen, dan orang tua murid di Sekolah Ibu Kelinci, sebuah sekolah untuk anak usia dini di Tangerang Selatan. Ia menjabat sebagai Direktur Akademis di Sekolah Ibu Kelinci hingga tahun 2015.

Pada tahun 2012 pula, ia menjadi Wakil Kepala Sekolah di Sekolah Inklusi Montessori Aluna. Kemudian pada tahun 2016 ia ditugaskan sebagai Penanggung Jawab di Sekolah Harmony Montessori.

AYO BACA : Kasih Sayang Yuli Bersama Anak-Anak Terlantar

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers