web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Bandoeng Baheula: Dari 25 Keluarga Jadi 1.203.287 Jiwa

Rabu, 24 Oktober 2018 01:00 WIB Rahim Asyik

Ilustrasi orang sedang menyeberangkan penduduk dengan rakit di Sungai Citarum zaman Bandoeng baheula. (Sumber: Buku Jawa Tempo Doeloe)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Seperti apa wajah kawasan yang sekarang dikenal sebagai Bandung pada empat abad silam? Berapa jumlah penduduk Bandoeng baheula?

Menurut Haryoto Kunto (Wajah Bandoeng Tempo Doeloe), jumlah penduduk Bandung pada 1641 antara 25-30 keluarga. Itu sebenarnya data Juliaen de Silva. Haryoto menduga, Juliaen adalah bule pertama yang keluyuran di Bandung.

Waktu itu, Bandung masih lebih kecil dari dusun. Akses dari Batavia baru terbuka setelah Daendels membuat Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Daendels adalah gubernur jenderal Hindia Belanda yang berkuasa dari 1808-1811.

Kendati sudah ada jalan yang bisa dilewati kereta kuda, Bandoeng baheula masih terbilang sepi.

Tahun 1852, Bandung sudah lebih besar daripada dusun. Dalam disertasinya, Sobana A. Hardjasaputra (Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906) menyebut, luas Bandung saat itu kurang dari 5 km2.

Charles Walter Kinloch, warga Bengal, Inggris, yang datang ke Bandung tahun 1852 menyebut, hampir seluruh desa Bandung ditanami kopi. Batas antara kebun kopi adalah rumpun kembang sepatu yang dipangkas rapi.

Untuk melihat desa Bandung, orang harus naik bukit dulu. Baru dari ketinggian terlihat “desa yang dikelilingi kebun kopi dan rimbun oleh tanaman perdu" (De Zieke Reizeger; Or Rambles in Java and the Straits in 1852).

AYO BACA : Inilah Asal Kata dan Kota Bandung

Berburu Rusa Zaman Bandoeng Baheula

Badak, rusa, dan hewan liar masih berkeliaran dalam jarak 15 kilometer dari Bandoeng baheula. Satu perburuan yang berlangsung dari pukul 08.00-12.00 pada 1858, berhasil membunuh 49 ekor rusa.

Rusanya juga bukan sembarangan. Ukurannya setara dengan rusa Skotlandia berbulu merah.

Kalau sedang musim berburu September-Oktober, kata James William Bayley Money (Java, or How to Manage a Colony), hasil buruan rusa bisa ratusan dalam sehari.

Rakyat umumnya, kata Money, terlihat hidup bahagia dan berkecukupan. Tak ada pengemis.

"Pengemis, apakah karena alasan keagamaan atau kebutuhan, pastilah sangat langka, kami tak melihat seorang pun pengemis selama kami tinggal di pulau ini," tulis Money.

Bandoeng Baheula Berkembang Pesat

AYO BACA : Bandung Tempo Doeloe: Seabrek Cagar Budaya yang Bernilai Tinggi

Perkembangan pesat Bandoeng Baheula dimulai setelah ibu kota Keresidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke Bandung pada 1864.

Hingga awal abad ke-20, Bandung sudah dipasarkan di luar negeri lewat buku wisata. Destinasi yang ditawarkan biasanya pemandangan alam hutan, gunung, sawah, dan perkebunan yang elok. Tentu saja termasuk hotelnya.

Buku Guide Through Netherlands India yang terbit tahun 1911 misalnya, merekomendasikan tempat menginap di Hotel Homann, Thiem, Wilhelmina, dan Phoenix. Tempat wisata yang direkomendasikan adalah pemandian ”Tjiampelas”, ”Tjoeroek-Dago”, (Curug) ”Penganten”, (Kawah) ”Patoeha”, ”Kawah Tji Widej”, ”Kawah Poetih”, dan ”Telaga Patengan”.

Satu demi satu kantor dan toko dibuka di sepanjang Jalan Raya Pos dan Jalan Braga. Diresmikannya jalur kereta api Batavia-Bandung pada 17 Mei 1884, mempermudah lalu lintas orang dari dan ke Bandung.

Wacana pemindahan ibu kota negara ke Bandung yang bikin heboh pada 1920-an, tak pelak meningkatkan daya magnetis Bandung.

Tempat yang dua abad sebelumnya berisi 25-30 rumah itu, mulai disesaki pendatang.

Sebagai catatan, pada 1901, penduduk Bandoeng baheula hanya 28.963 orang. Pada 1906, jumlah penduduk Bandung sudah 38.400 jiwa. Kemudian naik jadi 1.203.287 jiwa pada 1930.

Menurut Edi S. Ekadjati (Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah), bersama Jakarta, Jatinegara, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, dan Indramayu, Bandung jadi tujuan urbanisasi.

Mungkin sejak itu, semakin terasa Bandung jadi heurin ku tangtung.

AYO BACA : Bandung Pernah Hampir Jadi Ibu Kota Indonesia

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers