web analytics
  

Liputan Khas Gunung Api: Sejarah Letusan Gunung Api di Jawa Barat

Rabu, 17 Oktober 2018 10:22 WIB Rizma Riyandi
Umum - Regional, Liputan Khas Gunung Api: Sejarah Letusan Gunung Api di Jawa Barat, Sejarah gunung api di Jabar, Gunung api, Erupsi di jabar, letusan gunung api di jabar, Ciremai, Gunung gede

Kawah Tangkuban Parahu (source : tempatwisataseru.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Kontur geografi Jawa Barat didominasi oleh dataran tinggi dan pegunungan. Maka itu tak heran, jka wilayah ini memiliki beberapa gunung berapi yang masih berpotensi aktif dan berpotensi erupsi. Guna menyadarkan serta mengingatkan kembali masyarakat Jawa Barat akan potensi bencana gunung api, ayobandung.com melakukan liputan khusus yang dikemas dalam tajuk "Liputan Khas Gunung Api".

Melalui tulisan ini, tim ayobandung.com mencoba merangkum sejarah letusan beberapa gunung berapi yang pernah terjadi di Jawa barat.

Gunung Gede, Cianjur

Pada 1747, letusan hebat Gunung Gede menghancurkan wilayah Desa Ciloto Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Erupsi tersebut menimbulkan ledakan, awan panas, dan abu yang menyebar ke seantero Cianjur.

Tercatat, letusan Gunung Gede merupakan salah satu erupsi terhebat seperti disebutkan oleh Junghun (1843) dan Taverne (1926) dalam Kusumadinata K dan Hamidi S (1979).

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunungapi Wilayah Barat, Kristianto menjelaskan, Gunung Gede memiliki periode erupsi terpendek kurang dari satu tahun yang terjadi pada 1899, dan beraktivitas beberapa kali. Antara lain pada 1888, 1889,dan 1891. Juga mengalami erupsi terpanjang sekitar 71 tahun.

"Dalam buku Data Dasar Gunung Api yang diterbitkan oleh Direktorat Vulkanologi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Penambangan dan Energi, terdapat 17 kali aktivitas tak biasa yang tercatat sepanjang tahun 1800-an. Awan raksasa yang mengepul sampai terlihat dari Bogor, membuat abunya tertiup angin sampai jarak 20 kilometer," katanya, Selasa (16/10/2018).

Pada 22 November 1840, tepat pukul 01.00, bumi berguncang dengan suara keras yang terlontar dari dari asap dan bongkahan lava. Keesokan harinya, puncak gunung menyala. Lapangan alang-alang bak terbakar menyongsong asap di ketinggian 2.000 meter di atas puncak gunung Gede.

Suara gemuruh api terus berulang di beberapa tahun setelahnya pada periode 1900-an. Namun, hanya erupsi pendek dan hujan abu tipis. Setidaknya, tercatat 10 kali erupsi pada periode tersebut.

Aktivitas Gunung Gede telah diamati sejak 1985. Peningkatan aktivitas terutama kegempaannya pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2000. Gunung yang dipanggil Gedeh atau Ageung ini juga memiliki 7 kawah yang membentuk lurusan sepanjang 1.000 meter dari arah utara ke barat laut. Gunung dengan tinggi 2598 mdpl ini berlokasi di sebagian wilayah Cianjur, Bogor, dan Sukabumi.

Gunung Tangkuban Parahu, Bandung

Sementara gunung api terdekat dari kawasan Bandung Raya, kata Kris, adalah Gunung Tangkuban Parahu. Gunungapi strato ini terletak di wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung. Dengan ketinggian 2.087 mdpl, 1.300 meter di atas dataran tinggi Bandung, Tangkuban Parahu menjadi gunung yang mesti diwaspadai.

"Gunung Tangkuban Parahu terbentuk dari Gunung api tertua yang disebut Gunung Sunda. Gunung Sunda memiliki kaldera besar, tetapi hanya sebagian dari kaldera yang tertutupi oleh endapan gunung api yang lebih muda. Dia menyisakan sebagian dinding kaldera pada Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Parahu," ujarnya.

Menurut van Bemmelen (1934), sesar Lembang terbentuk pada tahap setelah pembentukan kaldera Sunda. Berdasarkan corak, Tangkuban Parahu memiliki tiga fasa yaitu eksplosif, efusif, dan pembentukan.

Sejarah mencatat, pada abad 19, gunung ini tidak mengalami erupsi magmatik yang besar, kecuali erupsi abu tanpa leleran lava. Bahaya sekunder seperti banjir lahar tidak pernah terjadi dalam sejarah, tetapi longsoran lokal dapat terjadi di dalam kawah dan lereng atas yang terjal.

Kris memaparkan, erupsi Tangkuban Parahu berintensitas kecil yang kadang-kadang diselingi erupsi freatik dengan jarak letusan 2 sampai 50 tahun. Tercatat 9 kali peningkatan aktivitas dari tahun 1829 sampai 1957.

AYO BACA : Liputan Khas Gunung Api: Mengenal Gunung Api di Jawa Barat

Gunung Papandayan, Garut

Beralih ke Papandayan yang terletak di Kabupaten Garut. Dengan ketinggian 2665 mdpl, gunung ini pernah menghancurkan sekitar 40 perkampungan dan membunuh 2951 jiwa pada malam hari, 11 Agustus 1772. Erupsi besar dan awan panas menjadi akibat dari matinya ribuan jiwa di tanah Garut.

Tercatat 11 kali aktivitas tak biasa pada Papandayan. Pada tahun 1920-an, setiap 5 tahun berturut-turut ada catatan erupsi dan suara guntur yang digemakan. Terakhir, pada 11 November 2002, peningkatakan aktivitas vulkanik terjadi dengan munculnya erupsi besar.

"Akibatnya terjadi longsoran pada kawah Nangklak dan banjir di sepanjang aliran sungai Cibeureum hingga Cimanuk sepanjang 7 kilometer. Beberapa unit rumah terendam dan menyebabkan erosi di sepanjang aliran," tuturnya.

Gunung Ciremai, Kuningan

Pertumbuhan aktivitas vulkanik di Ciremai diawali oleh Gunung Putri dan Gunung Gegerhalang. Erupsinya tercatat sejak 1698 dan terakhir pada 1937. Selang waktu istirahat terpendek selama tiga tahun dan terpanjang 112 tahun. Hingga saat ini Gunung Ciremai sedang beristirahat selama 61 tahun.

"Gempa tektonik pernah melanda pada tahun 1947, 1955, dan 1973 yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara-barat laut. Gempa tektonik pun berulang lantas merusak sebagian bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat Ciremai pada 2001," kata Kris.

Gunung Galunggung, Tasikmalaya

Erupsi Gunung Galunggung pertama terjadi pada 5 April 1982 yang disertai halilintar, pijaran api, dentuman, dan kilatan. Kegiatan erupsi Galunggung menjadi salah satu yang terpanjang dalam catatan sejarah, lantaran berlangsung selama 9 bulan kemudian berakhir pada 8 Januari 1983. Gunung ini terletak di Kota Tasikmalaya dengan ketinggian 2249 mdpl.

Pada 24 Juni 1982, lanjut Kris, erupsi Galunggung sempat mengakibatkan pesawat terbang British Airway 747 melakukan pendaratan darurat sebab salah satu dari keempat mesin jetnya mati akibat kemasukan debu vulkanik.

Gunung Salak, Sukabumi

Gunung Salak yang terletak di Kabupaten Sukabumi dan Bogor memiliki ketinggian 2.211 mdpl. Aktivitas vulkanik dari gunung ini seperti erupsi normal, erupsi samping, dan erupsi magmatik yang merusak lingkungan pada tahun 1668-1699.

Setelah tahun tersebut, tercatat 9 kali aktivitas yang sama. Karakter letusan Gunung Salak adalah letusan freatik di kawah pusat dan erupsi samping. Letusan ini terjadi apabila akumulasi tekanan uap air yang sangat kuat di bawah permukaan bumi melebihi daya tahan dari lapisan permukaan tanah di atasnya.

Gunung Guntur, Garut

"Adapun Gunung Guntur yang berlokasi di Kabupaten Garut. Dengan tinggi  2249 mdpl, gunung ini juga sama seperti karakter letusan gunungapi lain di Jawa Barat mengalami letusan freatik dan erupsi," jelas Kris.

Menurutnya, sampai saat ini keadaan dan aktivitas gunung api di Jawa Barat masih tergolong normal. Aktivitas tak biasa akan selalu dilaporkan dari pos pengamatan di setiap wilayah yang terkoordinasi ke BPBD, Pemda, dan PVMBG.

AYO BACA : Liputan Khas Gunung Api: Mengeruk Rupiah dari Gunung Api

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers