web analytics
  

Karyawan Ayo Media Network Maknai Hari Batik Nasional

Selasa, 2 Oktober 2018 12:02 WIB Andres Fatubun
Bandung Raya - Bandung, Karyawan Ayo Media Network Maknai Hari Batik Nasional, hari batik nasional, batik, ayo media network

Karyawan Ayo Media Network memakai pakaian kerja batik dalam peringatan hari Batik Naisonal, Selasa (2/10/2018). (Irfansyah/ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Batik memberikan nilai tambah pada pemakainya; bagi pria batik menambah kesan gagah, sedangkan bagi wanita membuat penampilan semakin anggun.

Begitulah kesan desainer grafis ayobandung.com Attia Dwi Pinasti, memaknai peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober. 

Bagi Tia, panggilan akrabnya, memakai batik tak sekadar soal kesan. Lebih dalam lagi, batik merupakan identitas diri untuk memudarkan pendapat sebagian orang yang menganggap batik itu kampungan. 

"Batik kini terlihat jauh lebih formal karena seiring berjalannya waktu batik digunakan dalam berbagai acara resmi," katanya di kantor Ayo Media Network, Jalan Terusan Halimun 50 Bandung, Selasa (2/10/2018).

Peringatan hari Batik Nasional dicetuskan pada 2 Oktober 2009 oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai tanggal ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Peringatan tersebut diapresiasi oleh Marcella Alexandria, staf marketing Ayo Media Network.

AYO BACA : Cinta Batik, bank bjb Gelar Festival Wastra Pasundan

"Hari batik nasional merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan untuk hasil budaya yang dihasilkan dari berbagai macam suku adat istiadat yang sangat beragam di Indonesia," katanya.

Hal yang sama ditegaskan Muhammad Naufal Hafiz. Jaka yang sehari-hari bekerja sebagai editor bahasa untuk ayobandung.com ini mengatakan, hari Batik Nasional selalu menjadi pengingat bahwa ada proses panjang untuk hasil maksimal. Tidak hanya itu, pesan dari kain hasil organik ini pun menyadarkan perlunya visi sebagai identitas di tengah zaman yang majemuk.

Makna lainnya diutarakan salah seorang social media officer Ayo Media Network, Yurizka Milantari. Baginya makna hari Batik Nasional itu sangat luar biasa, karena batik sudah menjadi ciri khas Indonesia bahkan telah mendunia dan menarik perhatian banyak orang.

"Mencintai batik harus ditanamkan sejak dini, terutama bagi generasi muda agar langgeng dalam melestarikan budaya Indonesia," jelas Yuri.

Batik asli Indonesia mulai mencuri perhatian internasional di era 1980-an saat dikenakan oleh tokoh dunia.

AYO BACA : Tantangan dan Tugas Berat Pelestari Batik

Dalam pertemuan tingkat tinggi Menteri Negeri ASEAN di Bali, 1 Mei 1986, Presiden ke-40 Amerika Serikat Ronald Reagen yang hadir sebagai  undangan datang dengan mengenakan batik. Begitu pula istrinya, Nancy.

Penampilan bule mengenakan batik asli Indonesia saat itu adalah pemandangan yang tidak biasa. Apalagi dikenakan oleh orang nomor satu AS.

Tokoh dunia lainnya yang kerap menggunakan batik dan bahkan memopulerkannya adalah mendiang Presiden Afrika Selatan dan tokoh pembebasan, Nelson Mandela.

Disitat dari BBC Indonesia, Mandela berkunjung ke Indonesia pada akhir Oktober 1990 atau beberapa bulan setelah ia dibebaskan dari penjara Pulau Roben. Kedatangannya itu sebagai wakil ketua organisasi Kongres Nasional Afrika. 

Saat itu pemerintah Indonesia memberikan baju batik pada Mandela. 

Tujuh tahun kemudian, Mandela untuk kedua kalinya mengunjungi Indonesia. Tak disangka, hadiah batik yang dulu diterimanya dipakainya saat bertemu dengan presiden Suharto. Foto saat dirinya memakai batik ini menjadi perbincangan hangat dunia.

Sejak itu, tokoh dunia yang berkunjung ke Indonesia kerap mengenakan batik. Bahkan dalam acara yang bersifat internasional yang digelar di Indonesia seperti forum APEC, busana yang dikenakan harus batik.   

AYO BACA : Si Reunceum, Referensi Batik Zaman Now dari Bandung

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers