web analytics
  

Reaktivasi Jalur Kereta, Kabar Baik untuk Jabar Selatan?

Sabtu, 22 September 2018 16:29 WIB Netizen Netizen
Netizen, Reaktivasi Jalur Kereta, Kabar Baik untuk Jabar Selatan?, Reaktivasi jalur kereta,kereta api,kereta

Ilustrasi kereta api.(Irfan Alfaritsi)

Barang siapa pernah menetap atau menjadi wisatawan di Jepang, tentu merasa tertolong dengan luasnya jaringan kereta api. Jaringan yang sampai menjangkau  kota-kota kecil. Kereta-kereta yang melayani jaringan terebut, walaupun berbeda kecepatannya, tetapi umumnya terawat baik, bersih, dan tepat waktu keberangkatan maupun ketibaan.   Yang menarik stasiun kereta umumnya berdekatan dengan pusat-pusat bisnis atau perbelanjaan. Ada pula yang berdekatan dengan kuil, tempat wisata yang berpemandangan indah, pemandian air panas dan rumah makan.   Tiap-tiap lokasi wisata punya keunikan yang berbeda satu sama lain. Manajemen rumah makan, misalnya menyediakan makanan atau minuman khas setempat. Mereka dengan bangga menyatakan, ikan ini didapat dari danau atau sungai.Bahan-bahan untuk bumbunya diambil dari kebun sendiri.    Disadari atau tidak, telah ada keterpaduan antara stasiun kereta api dengan tempat wisata, pusat perbelanjaan, toko suvernir, rumah makan, dan lainnya. Seorang pegawai perkeretapian Jepang di TV NHK menyatakan, keberadaan kereta api selalu disertai munculnya komunitas  masyarakat.    Bagaimana di Jabar ?   Beberapa waktu lalu,  Manajer Humas PT KAI Daop 2 Bandung, Joni Martinus, menyatakan PT KAI berencana mengaktifkan empat jalur kereta api yang telah mati di Jawa Barat. Jalur tersebut ialah Bandung-Ciwidey, Cibatu-Garut-Cikajang, Banjar-Pangandaran-Cijulang dan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari.    Untuk permulaan, jalur Cibatu-Garut yang panjang 19,3  yang akan digarap. Kemudian kelak Garut-Cikajang sepanjang 28,2 km. Rute ini seluruhnya mencapai 47,5 km, lanjutnya.   Katanya, tujuan dari penyelenggaraan perkeretaapian adalah untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat, tertib dan teratur, efisien, serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas, pendorong, dan penggerak pembangunan.   Berdasarkan tujuan itu, dapat dibayangkan pengaktifan kembali jalur kereta api itu akan membangkitkan perekonomian lokal khususnya dan provinsi Jawa Barat pada umumnya. Jadi rencana PT KAI Daop 2 ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pemerintah kabupaten, kota, desa maupun kecamatan sebagai fasilitator dan masyarakat  perlu bekerja sama agar potensi lokal dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.   Sejauh jalur kereta api yang dibuka itu selain terkait dengan kemudahan pengangkutan barang dan penumpang, juga berhubungan dengan pengembangan pariwisata daerah selatan. Bukankah pemandangan alam di sepanjang perjalanan sangat indah?   Kawasan selatan Jabar mempunyai berbagai berbagai obyek wisata yang sudah berkembang maupun perlu dikembangkan. Potensi ini bisnis ini akan tumbuh pesat bila Bandar Udara Kertajati makin diminati perusahaan penerbangan.      Terkait dengan pariwisata, yang perlu diingat adalah bahwa wisatawan domestik maupun asing  menginginkan kenyamanan. Mereka merasa kapok bila ditipu atau tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Promosi yang canggihpun tak berguna bila berbeda dengan kenyataan di lapangan     Wisatawan akan menceritakan dari mulut ke mulut bila ia telah membeli gemblong yang tidak garing atau strawberry yang sudah layu.  Sebaliknya mereka bersukacita menikmati teh hangat saat udara dingin di kawasan perkebunan. Dalam kaitan menjaga citra ini, Suku Dinas terkait dapat melakukan penyuluhan dan sosialisasi.    Hal-hal kecil yang perlu diperhatikan selain  kualitas makanan- minuman, kebersihan lingkungan maupun toilet adalah penggunaan electronic commerce yang menghubungkan para pihak terkait. E-commerce sangat mendukung kemajuan bisnis lokal.    Badan Pusat Statistik Jawa Barat Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengungkapkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Barat pada Januari 2018 turun 36,11%. Jika pada bulan Desember 2017 lalu jumlah kunjungan wisman mencapai 17.766 orang, maka bulan Januari 2018 turun menjadi 11.351 orang. Rata-rata menginap hampir dua hari.   Jumlah wisman diperkirakan meningkat seiring pelemahan rupiah terhadap matauang asing,terutama dolar AS, dan waktu liburan di manca negara. Wisman mungkin mengalihkan rencana perjalanan dari Lombok ke Jawa Barat. Siapa tahu?   Farid Khalidi  

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Editor Ayobandung

artikel terkait

dewanpers