web analytics
  

Ayo Selesaikan Status Guru Honorer!

Minggu, 16 September 2018 16:41 WIB Netizen Netizen
Netizen, Ayo Selesaikan Status Guru Honorer!, guru honorer,guru honor,guru honorer garut,hirohito

Ilustrasi: Aksi guru honorer di depan Gedung Sate 2 Juni 2018.(Ramdhani)

Yang dilakukan Kaisar Jepang Hirohito seusai Perang Dunia II, adalah menanyakan kepada para jenderalnya, berapa jumlah guru yang tersisa?

Yang mendengar kebingungan. Mengapa guru yang ditanya bukan yang lain? Bukankah negara ini tengah  babak belur akibat perang.

Dalam pandangan Kaisar, guru merupakan tumpuan pembangunan kembali negara. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan, guru juga mengajarkan perilaku dan budi pekerti yang membentuk karakter bangsa.

Jadi bila bangsa Jepang kini dikenal peduli dengan ketertiban dan kebersihan, jujur,punya rasa malu, menjaga tradisi, pekerja keras, mendahulukan kepentingan kelompok, dan inovatif. Maka sebagian besar berkat jerih payah guru dan visi kaisar ke-124 itu.

Sudah menjadi pemandangan sehari-hari bila kita melihat mereka membungkuk sebagai tanda hormat. Mengucap maaf walau tidak bersalah. Berkata-kata dengan suara yang rendah dan banyak senyum. Antre di berbagai tempat termasuk warung ramen.

Seorang diplomat Jepang di Jakarta mengatakan akan memukul anaknya bila tidak mengaku atau berbohong.

Buku jatuh dari rak dan tak ada yang mengaku siapa yang menjatuhkan, katanya. Pandai tak pandai itu wajar, tetapi berbohong sama sekali tidak diperbolehkan.

AYO BACA : Rotasi Guru untuk Tingkatkan Pemerataan Kualitas Sekolah

Berimbang 

Dunia mengakui walaupun Jepang menduduki peringkat ketiga ekonomi terbesar di dunia dengan   Produk Domestik Bruto (PDB) US$4,5 triliun dan PDB per Kapita  sekitar US$38.200 , namun budayanya tak pernah hilang. Kesenian Kabuki dan olahraga Sumo masih banyak penontonnya, berdampingan dengan kemajuan produk-produk teknologi  elektronika di Akihabara, Tokyo.

Mengagumkan, melihat para awak kereta api cepat Shinkansen yang baru selesai bertugas berdiri berjajar di emplasemen peron. Mereka serempak membungkuk ketika kereta mulai bergerak.

Profesi yang Dihargai

Calon guru harus melewati serangkaian tes  yang ketat. Setelah lulus memperoleh gaji yang memadai sekitar 450.000 yen  sekitar Rp50 juta per bulan, sedangkan ketika pensiun pada usia 60 mendapat US$85 jutaan setiap bulan.  Ditambah lagi masyarakat dan pemerintah mendukung serta menghormati profesi guru.

Pemerintah menempatkan guru pada bagian penting untuk membentuk manusia Jepang agar memiliki nilai-nilai seperti di atas. Kalau muridnya melanggar peraturan, seperti mencuri maka yang  lebih dulu dipanggil polisi adalah gurunya bukan orang tua murid.

Guru bekerja sebelas jam sehari dengan rincian, tujuh jam bersama murid sedangkan sisanya dengan rekan-rekannya untuk menyamakan cara pengajaran dan sebagainya.  Jadi setelah murid-murid pulang, guru kembali belajar dan melakukan evaluasi.

AYO BACA : Guru Honorer Kategori Dua Datangi Wakil Wali Kota Bandung

Tidak Ada Ujian

Lantaran tujuan utamanya membentuk karakter, maka kabarnya mulai kelas 1-4 tidak ada ujian. Pada saat itu mereka selalu mengucapkan terima kasih kepada guru dan yang memasak untuk makan siang. Saling membantu mempersiapkan makan siang dan makan pun serentak, tak boleh saling mendahului. Setelah selai, kemudian mengumpulkan peralatan makan-minum, mengepel lantai, tangga, dan lain-lain.

Kebersamaan diperlihatkan dalam keseharian. Anak-anak kecil berkulit putih bermata sipit, jalan bergandengan tangan menuju taman. Di tempat-tempat pariwisata, serombongan murid Jepang menjadi tontonan. Mereka berjongkok menunggu. Diam, tak ada yang bercanda. Hanya guru yang berdiri sambil memegang bendera.

Hasilnya

Pola pendidikan yang baik pada tingkat dasar dan menengah memberi input yang bagus untuk pendidikan tinggi.Pada akhirnya mereka membuka usaha sendiri atau ditampung perusahaan dan instansi-instansi pemerintah.

Faktanya, para penyedia lapangan kerja itu lebih mengutamakan menerima lulusan lembaga pendidikan dalam negeri. Mungkin dengan dalih adanya pembinaan karakter sejak awal.

Jadi sebetulnya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi pemerintah menentukan maju-mundurnya dunia pendidikan di Indonesia. Kalau ada ribuan guru yang berstatus honorer selama bertahun-tahun maka segera memecahkan persoalan ini. Jangan sampai mereka berdemo sebab guru itu, semua pihak tahu, posisinya sangat strategis.

Kita memprihatinkan apa yang terjadi di Garut dan tempat-tempat  lain.

Farid Khalidi

AYO BACA : Guru PAUD Bandung Ingin Dapat Kesejahteraan Dari Pemkot

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Editor Ayobandung

artikel terkait

dewanpers