web analytics
  

Jabar-Shizuoka Perkuat Kerja Sama Bisnis

Minggu, 9 September 2018 16:51 WIB Dadi Haryadi
Bandung Raya - Bandung, Jabar-Shizuoka Perkuat Kerja Sama Bisnis, Iwa Karniwa, kerja sama Jabar-Shizuoka, sister province

Istimewa

DAYANG SUMBI, AYOBANDUNG.COM--Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Prefektur Shizuoka, Jepang memperkuat kerjasama sister province dengan menyentuh sektor usaha. Pelaku usaha dari kedua belah pihak mulai melakukan penjajakan bisnis.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa mengatakan pihaknya telah menjalin hubungan baik dengan pemerintah prefektur Shizuoka dalam bidang ekonomi dan pengembangan Sumber Daya Manusia sejak ditandatanganinya MoU pada November 2017 lalu.

"Salah satu aktifitas kerjasama kedua belah pihak di antaranya, business matching antara pengusaha Jabar yang sebagian besar diwakili Hipmi dengan pengusaha asal prefektur Shizuoka," ujarnya usai peresmian Lembaga Persahabatan Jawa Barat-Shizuoka, Sabtu (9/9/2018) malam.

Pihaknya memilih pengusaha dari Hipmi karena punya respon cepat menangkap peluang untuk masuk ke pasar Jepang. Selain itu, pengusaha muda merupakan kalangan start up bisnis dan milenial yang punya inovasi luar biasa.

"Begitu kita tawarkan ini, mereka (Hipmi Jabar) langsung quick respons. Kami upayakan agar peluang ini bisa langsung ditindaklanjuti menjadi kerjasama business to business," katanya.

Menurutnya, peresmian Lembaga Persahabatan Jawa Barat-Shizuoka akan lebih mempermudah komunikasi antara pengusaha Jabar-Shizuoka.

Adapun Shizuoka memiliki pusat industri otomotif yang berada di Kota Hamamatsu yang bisa disentuh melalui industri turunannya.

Iwa berharap pengusaha Jabar bisa membangun kepercayaan dengan pengusaha dari 'Negeri Matahari Terbit' dengan cara menjaga dan menepati janji sesuai kontrak kesepakatan. Meliputi kualitas produk/jasa, pengiriman tepat waktu, pembayaran dan lainnya.

"Membangun kepercayaan merupakan langkah promosi efektif untuk memperluas jangkauan usaha. Kami juga akan senang karena bisnis pengusaha bakal semakin besar sehingga lebih banyak menyerap tenagakerja," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pokja Kewirausahaan BPD HIPMI Jabar, Helma Agustiawan mengaku saat ini pengusaha lokal tengah dipusingkan pelemahan nilai rupiah yang nyaris menembus Rp15.000 terhadap dolar AS sehingga menyulitkan pembelian bahan baku impor.

Selain itu, pelemahan rupiah membuat pengusaha memilih menunda dalam melakukan investasi. Misalnya pembelian mesin produksi yang  didatangkan dari luar negeri.

"Pusing deh. Ada beberapa pesanan kaos kaki dan seragam dari Malaysia. Harga penawaran yang kita kirim harus direvisi kembali. Mereka juga komplain karena harga naik 15-20%," bebernya.

Dia menilai kerjasama bisnis dengan Shizuoka punya arti penting untuk membuka pasar ekspor baru di luar pasar tradisional (Amerika). Selain itu juga untuk mendorong perdagangan luar negeri yang kini tengah lesu akibat perang dagang China-Amerika.

Tidak hanya itu, kerjasama business to business dengan pengusaha di Jepang diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap dollar. Pengusaha dari kedua negara bisa menentukan mata uang yang akan digunakan untuk transaksi, misalnya menggunakan Euro atau Yen.

"Selain Jepang, kami juga mengembangkan pasar ekspor ke Uni Eropa melalui Belanda dan Belgia. Salah satunya dengan ekspor ikan," pungkas Helma.

Editor: Andri Ridwan Fauzi

artikel terkait

dewanpers