web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Pelemahan Rupiah, Pengusaha Tahu Cibuntu Menjerit

Kamis, 6 September 2018 10:46 WIB Fathia Uqimul Haq

Salah satu pegawai sedang memproduksi tahu cibuntu, Kamis (6/9/2018).(Fathia)

CIBUNTU, AYOBANDUNG.COM--Perajin tahu cibuntu menjerit menyusul harga kedelai yang terus merangkak dari Rp6.800/kg menjadi Rp7.600/kg yang dipicu pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyaris tembus Rp15.000/US$. 
 
Seperti diketahui, hingga saat ini Indonesia masih mengimpor kedelai dari Amerika Serikat.
 
Pemilik pabrik tahu cibuntu Family Si Icikiwir, Iis Nata mengatakan kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak Mei lalu.
 
"Kemarin sempat turun Rp50 dari Rp7.600 menjadi Rp7.550," ujarnya kepada ayobandung.com, Kamis (6/9/2018). 
 
Tak cuma kedelai, kunyit pun hampir setara harganya mencapai Rp7.000/kg. Begitu pun dengan garam yang diam di harga Rp100.000 per karung. "Tapi setahun lalu garam sempat Rp55.000 per karung, pernah sampai Rp200.000 per karung," ujarnya.
 
Iis yang sudah tujuh tahun mengelola pabrik itu mengatakan biasanya dalam sehari bisa memproduksi minimal 800 kg. 
 
"Pedagang tahu enggak mau ambil kalau harga naik, soalnya mereka juga bakal susah jualan ke ibu-ibu," ujar wanita 34 tahun itu. 
 
Kedelai  dan kunyit bahan utama yang sangat dibutuhkan dalam jumlah yang banyak oleh perajin tahu. Tak dapat dihindari, mereka harus lapang dada melihat fenomena ini. 
 
Sebanyak 500 kilogram kedelai bisa menghasilkan 250 papan. Setiap jirangan bisa menghasilkan 12 kilogram atau 5 papan. Biasanya Iis bisa memproduksi 250-300 papan. Hari ini dia hanya mampu 175 papan saja. 
 
"Pasti susah kalau harga pokok naik, mau 50 perak naik pun susah. Sudah risikonya seperti ini. Perajin merugi, untung turun drastis," katanya. 
 
Antisipasinya, Iis mengurangi dari jumlah kiloan. Namun, itu tetap sulit baginya. Jalan terakhir adalah meraup untung yang tak lagi penuh seperti biasa.
 
"Kalau harga kita naik, orderan sedikit. Pembeli bisa pergi ke yang lain kan di sini banyak pabrik tahu. Pasaran ke luar kota juga tetap sama harganya padahal biaya produksi sedang naik. Pengelola pasti rugi," ungkapnya.  
 
Wanita pemegang tombak generasi keenam ini hanya berharap  rupiah stabil kembali. Supaya bahan utama produksi yaitu kedelai, kunyit, dan garam dapat turun lagi. Perbedaan harga yang cukup jomplang membuat Iis dan pengrajin tahu lainnya gigit jari. 
 
"Sedangkan segala rupa kita kan butuh. Apalagi kedelai, naiknya lebih lama ketimbang waktu turunnya yang bisa diitung jari. Harapan semua pengrajin sama pasti ingin rupiah stabil," harapnya. 
Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers