web analytics
  

Mencicipi Manisan Kopi Khas Gunung Palasari

Minggu, 12 Agustus 2018 15:08 WIB Adi Ginanjar Maulana
Gaya Hidup - Kuliner, Mencicipi Manisan Kopi Khas Gunung Palasari, Manisan kopi,manisan kopi palasari,kopi jalu palasari,kopi jalu,kopi palasari,kopi bandung

Manisan kopi khas Gunung Palasari.

CILENGKRANG, AYOBANDUNG.COM--Selama ini sebagian besar masyarakat mengenal tanaman kopi hanya dibuat untuk minuman. Padahal, komoditas ini bisa diolah menjadi berbagai macam produk makanan, salah satunya manisan.   Kelompok Tani Hutan Giri Senang, Kampung Legok Nyenang, Desa Girimekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung berhasil mengolah kopi menjadi manisan.   Kampung ini merupakan salah satu dari sekian banyak kampung edukasi yang dimiliki Kabupaten Bandung, yang pernah diganjar penghargaan dari Dinas Lingkungan Hidup di bidang edukasi lingkungan.    Pengurus Kelompok Tani Hutan Giri Senang, Ruswan, mengatakan produksi manisan kopi sudah dimulai sejak 2015. Saat itu, para pengurus berinisiatif mengolah kopi tidak hanya menjadi minuman biasa.   Alhasil, kopi yang masih berupa biji ceri dikeringkan terlebih dulu sebelum diolah menjadi manisan. Selanjutnya, ceri diolah dengan gula agar rasanya tidak terlalu pahit.   Rasa dari manisan kopi asli Gunung Palasari ini manis dan sedikit asam. Para pecinta kuliner pasti ketagihan dengan rasanya.   "Butuh waktu cukup lama sekitar tiga hari untuk mengolahnya," ujarnya kepada ayobandung.com, Minggu (12/8/2018).   Dalam sebulan, pihaknya masih memproduksi manisan kopi dalam jumlah sedikit hanya 10 kilogram. Hal ini disebabkan produksi tidak menggunakan bahan pengawet.   "Waktu kedaluwarsa hanya tiga bulan. Produksinya pun kalau ada pesanan saja," ujarnya.   Pihaknya tidak berani memakai bahan pengawet untuk memproduksi manisan kopi. Sebab, bisa menimbulkan penyakit bagi konsumen. "Pengawet itu kan kimia, jadi kami tidak mau. Karena bisa menyebabkan penyakit," ujarnya.   Adapun pasar manisan kopi saat ini yang dibanderol Rp30.000 per 100 gram masih di sekitar Bandung Raya. Ke depan, pihaknya akan mencoba mengembangkan pasar ke seluruh Indonesia bahkan luar negeri.   Kendati demikian, Ruswan mengaku akan melakukan riset pasar agar manisan kopi dapat diterima konsumen.   "Kalau kami produksi banyak khawatir tidak laku di pasaran," katanya.   Di samping itu, Kelompok Tani Hutan Giri Senang saat ini terus menggenjot produksi kopi jalu sebagai andalannya. Saat ini produksi kopi jalu mencapai 120 kilogram per bulan dengan harga Rp350.000 per kilogram.   "Kami juga menjual yang 100 gram seharga Rp40.000," katanya.   Ruswan mengklaim saat ini kopi jalu sudah banyak diminati pasar ekspor mengingat Pemerintah Kabupaten Bandung yang terus bekerja sama mempromosikannya.   Rasa kopi jalu sendiri sedikit asam dan pahit yang menjadi ciri khas kopi asli Jawa Barat yakni java preanger.   Meski rasanya mirip dengan java preanger pada umumnya, namun kopi ini mempunyai cita rasa khas tersendiri. "Rasanya tidak terlalu asam dan tidak terlalu pahit. Pokoknya beda dengan yang lain," katanya.   Soal produksi, Kelompok Tani Hutan Giri Senang saat ini memiliki perkebunan kopi hingga 250 hektare, dengan jumlah produksi 1.000 ton per sekali panen.
Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers