web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Taman Inklusi "Di Mata" Tunanetra

Selasa, 31 Juli 2018 11:28 WIB Fathia Uqimul Haq

Aris, Yogi, dan Angga sedang menikmati Taman Inklusi. (Fathia Uqim/ayobandung)

CITARUM, AYOBANDUNG.COM--Kehadiran 26 taman tematik di Bandung tidak bisa membuat semua orang bahagia, terutama bagi kaum disabilitas. Bagi mereka, taman-taman tersebut tidak ubahnya seperti fasilitas umum lainnya yang miskin penanda. Bahkan taman yang khusus diperuntukkan bagi mereka pun sulit diakses.

Taman Inklusi yang bersatu dengan Taman Maluku adalah taman yang dibuat untuk para disabilitas supaya mereka bisa berkegiatan dan bermain di sana. Ayunan yang didesain khusus untuk para tunadaksa, seluncuran pendek dengan papan yang lebar, serta mainan putar-putaran yang luas dan muat untuk beberapa kursi roda.

Sayangnya, belum apa-apa akses masuk ke Taman Inklusi ini sudah terhalang oleh tiga patok besi. Bagaimana para tunadaksa yang bergerak menggunakan kursi roda dapat masuk taman dengan mudah?

Begitulah kata Yogi Prayoga (22), seorang tunanetra yang sedang bermain bersama kedua temannya di Taman Inklusi. 

Kesejukan yang berasal dari rerimbunan pohonan memang membuat dia nyaman. Namun, jalanan yang tidak rata dan patahan andesit membuat Yogi dan teman-temannya perlu ekstra hati-hati melangkah. 

Yogi adalah orang dengan low vision. Dia sangat membutuhkan tanda yang tajam supaya berjalan lebih jelas. Menurutnya tanda-tanda atau warna mencolok di Taman Inklusi belum cukup memadai untuk membawanya berkeliling. 

AYO BACA : 900 Tunanetra Tadarus Al-Quran Braile

“Tapi cukup enak fasilitasnya,” kata Yogi kepada ayobandung.com beberapa waktu lalu.

Lelaki kelahiran 1996 ini baru pertama kali datang ke Taman Inklusi meskipun sudah mendengar kabarnya sejak dulu. Dia menyayangkan, saat pembuatan taman, ia tidak diajak bicara oleh pemerintah.

Yogi memutari taman, mengorientasi jalan, dan mencoba meraba papan yang tak ada tanda huruf braillenya. Penanda suara sekalipun tidak ada.

“Di persimpangan taman kurang jelas, penunjuk jalan paving blok-nya saat belokan kurang terasa, sebaiknya ada blok-blok tulisan braille di situ,” ujarnya.

Lelah berkeliling, ia berusaha mencari tempat duduk namun itupun butuh waktu lama. Sebab, tak ada penanda jelas di mana lokasi kursi taman berada. 

Selain minim tanda, terdapat sebuah solokan kecil yang menjadi pembatas antara Taman Maluku dan Taman Inklusi. Masalahnya, solokan tersebut tak memiliki cukup tanda untuk diketahui Yogi. Sewaktu-waktu bila lengah, ia dan teman lainnya bisa saja jatuh tergelincir.

AYO BACA : Sepak Bola Tunanetra

Berdasarkan pengalamannya, dia merasakan sebagian besar taman di Bandung tidak ramah bagi disablitas. Beberapa kali ia pernah mengunjungi taman tematik lainnya dan merasakan sulitnya berorientasi dengan lingkungan taman. 

“Waktu itu pernah ke teras Cikapundung, belum ada akses tangga malah tiba-tiba ada turunan tajam. Di sana masih kurang aksesibel,” tuturnya.

Hal sama dirasakan Aris (28). Menurutnya, Taman Inklusi hanya bisa diakses oleh penyandang tunanetra, bukan tunadaksa.

“Kalau taman-taman di Bandung enggak inklusi berarti kita enggak bisa ke sana dong?” ungkap Aris.

Aris menjelaskan inklusi seharusnya untuk semua, tanpa ada perbedaan.

Lelaki yang aktif menyuarakan hak untuk para disabilitas ini sering bermain ke berbagai taman di Bandung. Sebut saja Taman Film, Taman Jomblo, Taman Musik, sampai Hutan Babakan Siliwangi. Namun, semua taman tersebut belum memiliki penanda yang memadai untuk para disabilitas bernavigasi.

“Belum dapat suasana nyamannya taman kota,” ujarnya.

AYO BACA : Siswa Tunanetra mandikan Jenazah

Editor: Andres Fatubun
dewanpers