web analytics
  

Begini Hukumnya Update Status Ibadah di Media Sosial

Senin, 28 Mei 2018 12:11 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Umum - Ramadhan, Begini Hukumnya Update Status Ibadah di Media Sosial, Medis sosial, posting foto, riya

Dosen dari Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam,

DAGO, AYOBANDUNG.COM--Saat ini banyak pengguna media sosial yang sengaja berfoto saat sedang beribadah lalu diunggah. Tak hanya itu, tak jarang banyak juga orang yang memajang di akun media sosial miliknya ketika ia sedang bersedekah. Fenomena ini marak terjadi dan bahkan mungkin sadar tidak sadar, kita juga pernah melakukannya. 

Keberadaan media sosial memang sering membuat banyak orang bebas untuk menampilkan status dan cerita pribadi masing-masing. Tiap orang memiliki haknya sendiri untuk menggunakan akun media sosialnya pribadi. 

Lantas berdasarkan pandangan agama, bagaimana hukumnya jika seseorang pamer beribadah di media sosialnya? Dosen dari Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam, "Ma'had Al-Imarat" Kota Bandung, Ade Abdullah, mempunyai jawaban menarik.

Ade menjelaskan, riya adalah amalan yang bisa menghilangkan pahala sebuah ibadah. Maka jika di era modern ini, dengan kemudahan teknologi, dengan media sosial banyak orang beribadah lalu pamer dengan tujuannya agar diagungkan orang, atau agar dianggap hebat dan pintar, maka sesungguhnya pahalanya akan hilang.

"Rasulullah bersabda, orang yang riya itu ibaratnya orang menanam sesuatu atau menaruh air di atas batu di tengah padang pasir lalu diterpa angin, hilang tak berbekas," beber Ade.

Dalam situasi lain, sebaliknya jika informasi postingan itu berupa foto atau video yang sedang salat atau bersedekah tujuannya untuk berdakwah, mengajak pada kebaikan, membangkitkan spirit kebaikan. Bisa saja alasannya adalah untuk syi'ar dan mengajak pada kebaikan. 

"Jadi semua tergantung hati dan niatnya masing-masing karena ada yang posting niatnya untuk berdakwah, mengajak padahal kebaikan, mengajak berbagi atau berbaur. Jadi Kita tidak bisa menilai ibadah orang dari postingan medsosnya," ungkapnya.

Menurutnya, semua yang dilakukan untuk keagamaan sebaiknya memang dilandasi niat ibadah karena Allah Swt. Karena secara lahiriah, masalah apakah niat seseorang mengunggah foto salat dan sedekah itu untuk pamer atau tidak memang sukar diketahui secara pasti. 

"Tapi kalau untuk ibadah, sebaiknya tidak diposting. Ada situasi-situasi tertentu yang bisa diposting, ada yang tidak. Jadi diutamakan, hanya momen-momen tertentu saja cukup hanya Allah dan kita saja yang tahu," ujarnya.

Urusan hati dan niat seseorang, lanjutnya, tidak bisa ditebak begitu saja. Karena itu, di bulan suci ini, Ade mengingatkan semua orang yang akan menjalankan ibadah atau yang mau memberikan sedekah dan infak agar selalu mengucapkan niat lillahi ta'ala dari hati. 

"Bagaimana pun setiap perbuatan yang kita lakukan itu juga dinilai dari niatnya, bukankah begitu?" tandasnya.

Editor: Andri Ridwan Fauzi
dewanpers