web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Ramadan Tiba, Kota Bandung Mulai Diserbu PMKS Musiman

Kamis, 24 Mei 2018 14:32 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, Tono Rusdiantono. (Eneng Reni/ayobandung)

JALAN ACEH, AYOBANDUNG.COM--Kehadiran Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti halnya pengemis, anak jalanan, ataupun manusia silver di bulan Ramadan hingga Idul Fitri menjadi masalah musiman di Kota Bandung

Dari 26 jenis penyandang PMKS yang diklasifikasikan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, PMKS yang terdata setidaknya ada sebanyak 80.000 orang. 

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, Tono Rusdiantono, memprediksi kehadiran pengemis, anak jalanan ataupun manusia silver ini biasanya mulai menumpuk seminggu sebelum lebaran. Dari yang terciduk dalam razia, 70% dipastikan berasal dari luar Kota Bandung.

"Kalau kita merazia terus kita dapat, itu 70% orang luar kota. Seperti tahun lalu yang tergaruk itu 200 orang dan 70 persen itu pasti dari luar kota seperti Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung," ungkap Tono usia Bandung Menjawab di Taman Sejarah Kota Bandung, Kamis (24/5/2018).

Dari 80.000 PMKS di Kota Bandung, sekitar 172 orang adalah anak jalanan dan pengemis. Sisanya merupakan PMKS yang terkategori fakir miskin,‎ anak berhadapan hukum, anak terlantar dan sebagainya. 

"Karena ibarat kata di Kota Bandung itu ada gula, manis, jadi dikerubuti semut, artinya sangat ramai pengunjung makanya pada datang," beber Toni.

Untuk mengantisipasi serbuan PMKS, Dinsos Kota Bandung telah menyiapkan posko pemantauan di 10 titik yang dinilai rawan sebagai tempat PMKS beroperasi. Tindak lanjut ininpun kata dia bakal dilakukan penertiban secara cepat.

"Awalnya 32 titik yang disiapkan tapi karena posko 22 ini ini sering terpantau. Sisanya yang 10 yang jarang terpantau. 10 posko ini salah satunya ada Pasir Koja, Pasteur-Hasan Sadikin, Riau-Ahmad Yani, Riau-Gatot Subroto, dan sebagian di Ujung Berung," lanjutnya.

Dalam pemantauan ini, Dinsos akan dibantu oleh pihak lain yang tergabung dalam sebuah tim bersiaga di setiap posko. ‎Toni juga meminta partisipasi dari masyarakat untuk memberikan informasi tentang kehadiran PMKS musiman, terutama yang berasal dari luar Kota Bandung.

"Personel yang dilibatkan cukup banyak ratusan orang karena aparat kewilayahan terlibat, Unit Sosial Respons Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial, pekerja sosial, tagana, dan yang lainnya," bebernya.

Tono menuturkan, pesoalan yang dihadapi Dinsos bukan hanya menjaring PMKS dengan melakukan penertiban di jalanan. Namun juga dilakukan pembinaan agar tidak kembali ke jalan. Lantaran kata dia pihaknya kerap mendapati sejumlah anak jalanan yang turun ke lapangan justru karena disuruh oleh orangtuanya sendiri.

"Misal manusia silver itu sudah ditangkap semuanya, sudah dikasih pelajaran dikirim ke Lembang tapi keluar lagi karena disuruh orang tuanya, kita sudah tahan orang tuanya seminggu dan saya ancam karena mereka eksploitasi anak," ujarnya.

Oleh karenanya, ungkap Tono, fokus utama Dinsos bukan hanya sebatas melakukan penertiban, tetapi memberikan pembinaan kepada PMKS. Sebab, dia menilai persoalan yang mengakar dari para PMKS terletak pada pola pikirnya sehingga terus berulang.

"Bukan berarti PMKS ini kita lakukan perlakukan atau razia secara kasar, tidak. Kita menggaruknya atau merazianya kita dengan lembut. Kita bawa ke rumah singgah dan berikan terapi. Intinya tidak kembali ke jalan dan bisa mengubah pola pikirnya. Apalagi 70% mereka bukan warga Kota Bandung. Kalau warga Kota Bandung pasti kita berikan diklat untuk usaha,‎" katanya.

Oleh karena itu, pihaknya pun meminta bantuan kepada masyarakat atau wisatawan untuk tidak memberi donasi kepada gelandangan atau pengemis yang ada di jalanan. Selain itu, pihaknya pun melarang masyarakat memberikan sumbangan uang atau barang kepada mereka.

"Biasanya suka ada di tepi jalan yang meminta sumbangan untuk perbaikan jalan, atau yatim piatu. Sepanjang tidak ada izin dari Dinsos itu jangan dikasih karena tindakan itu akan membunuh dan membuat mereka menjadi malas bekerja dan hanya mengandalkan mengemis," tandasnya.

Editor: Andres Fatubun

artikel lainnya

dewanpers