web analytics

Kerupuk Edun, Omzet Rp400 Juta Per Bulan dari 10 Kilogram Aci

clockJumat, 4 Mei 2018 09:17 WIB userFathia Uqimul Haq
Gaya Hidup - Kuliner, Kerupuk Edun, Omzet Rp400 Juta Per Bulan dari 10 Kilogram Aci, kerupuk edun bandung, kerupuk edun banjaran, kerupuk gurilem bandung, pabrik kerupuk edun, pembuatan kerupuk edun

Kerupuk Edun. (Fathia Uqim/ayobandung)

BANJARAN, AYOBANDUNG.COM--Cucu Kholid (67) sedang duduk bersantai di teras rumah saat saya (pewarta ayobandung.com) bertandang ke rumahnya yang luas dan menyatu dengan pabrik pembuatan Kerupuk Edun. Dengan lengkung senyum di bibirnya, dia bercerita soal usaha kerupuk yang dimulainya sejak 1979 bersama sang istri.

Kerupuk Edun adalah kerupuk dari tepung tapioka yang disangrai kemudian diberi bumbu. Berbeda dengan gurilem khas Cililin, kerupuk ini adalah hasil karya khas buatan Cucu dan istrinya. 

Nama ‘Kerupuk Edun’ tak sengaja dibuat Cucu. Nama ini muncul dari sebutan konsumen sebagai ungkapan pujian atas nikmat dan gurihnya camilan buatan Cucu. Alhasil, sampai sekarang Cucu pun melabelinya dengan ‘Kerupuk Edun’.

Berawal dari 10-15 kilogram tepung tapioka, kini pembuatan kerupuk gopean itu mencapai satu ton per hari. “Saya sama istri beli 10 kilogram aci (tepung tapioka). Istri yang membuat dan menggoreng, saya yang memasarkan. Terus sampai akhirnya pembelian aci bisa ratusan kilo,” ujarnya saat ditemui ayobandung.com di Batukarut, Banjaran, Kabupaten Bandung, Kamis (3/5/2018).

Tahun 1980, Cucu memulai pembuatan Kerupuk Edun sebanyak 1 kuintal. Saat itu, dia masih menggaji pegawainya dengan Rp20 ribu. Mulanya hanya satu pegawai, tapi kini Kerupuk Edun telah diproduksi oleh 45 pegawai. Omzetnya pun telah mencapai Rp400 juta dalam sebulan.

Selain membuka lapangan kerja, Cucu ingin mensejahterakan tetangganya. Para pegawai pabrik adalah masyarakat sekitar Batukarut, Banjaran.

Proses Pembuatan Kerupuk Edun

Proses pembuatan diawali di ruang pengolahan aci yang diisi oleh lima lelaki. Ada yang mengaduk adonan, memotong adonan, menyimpan adonan di tempat kukusan, hingga proses mengukus di bawah bara api yang menyala.

Kemudian, kerupuk panjang putih tersebut dijemur di halaman luas tepat sebelah rumah Cucu. Setelah kering, kerupuk diangkat dan disangrai di ruangan yang lain.

Usai disangrai, kerupuk diberi bumbu di sebuah tong besar yang harus diputar supaya bumbu merata. Kemudian, para perempuan yang berkumpul menjadi 10 tim itu mengambil kerupuk dengan nampan anyaman untuk beras.

Sungguh cepat tangan para pengemas Kerupuk Edun. Tinggal pakai perasaan dan hati, kerupuk  dimasukkan ke plastik kecil lalu direkat menggunakan lilin. Ribuan Kerupuk Edun menggunung di sebelah mereka dalam beberapa jam. 

“Setiap hari bisa mencapai 70.000 buah kerupuk edun yang gopean itu,” kata Cucu.

Kerupuk Edun dikemas per 100 biji. Satu pak dibanderol Rp35.000. Ada juga yang dikemas dalam 80 biji dibanderol Rp26.000.

Saat ini rasa lelah Cucu sudah terbayar. Tak perlu susah memasarkan kerupuknya, lantaran distributor dari Tasikmalaya, Pangandaran, Pangalengan, dan sekitarnya langsung datang ke pabrik untuk mengambil kerupuk.

Kendati demikian, Cucu tetap melayani konsumen yang ingin membeli per plastik besar yang dihargai Rp10.000.

Harga tepung tapioka melambung tinggi, Kerupuk Edun mengecil

Bagaimana tidak? Dua bulan lalu harga tepung tapioka meroket hingga dua kali lipat. Dari harga Rp460.000 per kuintal, kini Cucu harus membeli dengan harga Rp1 juta per kuintal. Tentu tidak mudah bagi Cucu untuk memangkas karyawan, karena mereka harus tetap hidup. Akhirnya, kerupuk dikemas lebih sedikit lagi supaya harga tetap berada di Rp500. “Enggak mungkin, kan, kami naikkan harganya,” katanya.

Cucu kecewa karena tepung tapioka yang harganya melambung tinggi tidak banyak disuarakan di media. Pemerintah tidak memperhatikan harga tepung tapioka. Padahal, kata Cucu, banyak pengusaha yang memakai tepung itu sebagai bahan dasar. Selain pabrik kerupuk, ada pengusaha kue basah, pabrik kertas, lem, dan gula.

Meski porsi satu bungkus kerupuk dikurangi, bukan berarti Cucu mendapatkan untung. Pengurangan itu dilakukan hanya demi mempertahankan pekerjanya saja. “Bagaimana lagi,” ujar Cucu dengan gurat kecewa di wajahnya.

Selain harga pokok naik, kendala lainnya adalah liburan sekolah dan pedagang kerupuk lain. Namun, saingan bagi Cucu adalah sebuah kenikmatan. “Artinya kita enggak boleh berleha-leha,” ungkapnya.

Editor: Asri Wuni Wulandari

terbaru

Beradaptasi Saat Pandemi, Reynaldi Dwi Putra Sukses Dirikan Dimsum Gow

Kuliner Jumat, 23 Juli 2021 | 22:00 WIB

Dimsum Gow memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan dimsum lainnya.

Gaya Hidup - Kuliner, Beradaptasi Saat Pandemi, Reynaldi Dwi Putra Sukses Dirikan Dimsum Gow, Dimsum Gow,Dimsum,UMKM,Kisah Wirausaha,Kuliner,Kudapan,Makanan

Melahap 'Oldevud' Risoles Frozen dengan Berbagai Varian Rasa Unik

Kuliner Jumat, 23 Juli 2021 | 21:55 WIB

erbagai varian rasa yang bisa menemani kalian semua untuk nyemil ketika perut sedang laper.

Gaya Hidup - Kuliner, Melahap 'Oldevud' Risoles Frozen dengan Berbagai Varian Rasa Unik, Risoles,Makanan,Kudapan,Kuliner,Oldevud

Sejarah Moci Jepang di Indonesia, Kudapan Kenyal Khas Sukabumi

Kuliner Jumat, 23 Juli 2021 | 21:30 WIB

Sejarah moci pertama kali masuk di Indonesia bermula ketika Jepang melakukan penjajahan di Indonesia, khususnya di Sukab...

Gaya Hidup - Kuliner, Sejarah Moci Jepang di Indonesia, Kudapan Kenyal Khas Sukabumi, Sejarah,Moci,Jepang,Sukabumi,Kudapan,Makanan,Kuliner

Sate Koyor, Lezatnya Olahan Sate dari Gajih Sapi

Kuliner Kamis, 22 Juli 2021 | 19:40 WIB

Sate koyor terbuat dari lemak sapi atau gajih sapi dan tidak menggunakan daging sama sekali.

Gaya Hidup - Kuliner, Sate Koyor, Lezatnya Olahan Sate dari Gajih Sapi, Sate Koyor,Gajih Sapi,sate,Lemak Sapi,Kuliner,Iduadha,Daging Kurban

Sejarah, Resep, dan Cara Membuat Rabeg, Olahan Daging Kesukaan Sultan...

Kuliner Kamis, 22 Juli 2021 | 18:15 WIB

Jika bosan mengolah daging menjadi gulai atau rendang, Anda bisa mencoba mengolah daging kurban menjadi rabeg.

Gaya Hidup - Kuliner, Sejarah, Resep, dan Cara Membuat Rabeg, Olahan Daging Kesukaan Sultan Banten, Sejarah,Resep,Cara Membuat,Rabeg,Olahan Daging,Banten,rabigh

Ngidam Nasi Biryani dan Tagine? Simak Resep dan Cara Membuatnya

Kuliner Kamis, 22 Juli 2021 | 17:35 WIB

Kali ini, Ayobandung.com merekomendasikan nasi biryani dan tagine untuk menu liburan Iduladha.

Gaya Hidup - Kuliner, Ngidam Nasi Biryani dan Tagine? Simak Resep dan Cara Membuatnya, Nasi Biryani,Tagine,Resep,Cara Membuat,Kuliner,Makanan Khas

Bosan dengan Daging Saat Iduladha? Ini Makanan Pengganti dengan Protei...

Kuliner Rabu, 21 Juli 2021 | 19:45 WIB

Ada beberapa alternatif makanan pengganti daging yang mempunyai kandungan protein tinggi.

Gaya Hidup - Kuliner, Bosan dengan Daging Saat Iduladha? Ini Makanan Pengganti dengan Protein Tinggi, Daging,Iduladha,Makanan Pengganti,Protein Tinggi,Tahu,Tempe,Kacang,Susu,Telur

Resep Bumbu Rahasia Abang Pedagang Nasi Goreng: Wangi dan Enak!

Kuliner Rabu, 21 Juli 2021 | 17:55 WIB

Ternyata nasi goreng abang-abang pinggir jalan ini menggunakan bumbu rahasia.

Gaya Hidup - Kuliner, Resep Bumbu Rahasia Abang Pedagang Nasi Goreng: Wangi dan Enak!, Resep,Bumbu Rahasia,Abang Pedagang,Nasi Goreng,Kuliner,Cara Membuat
dewanpers
arrow-up