web analytics
  

Salah, "Raja Mesir" Pematah Dominasi Ronaldo dan Messi

Kamis, 26 April 2018 09:33 WIB Arfian Jamul Jawaami
Olahraga - Sport, Salah,  "Raja Mesir" Pematah Dominasi Ronaldo dan Messi, mohamed salah, pemain sepak bola terbaik, mohamed salah asosiasi sepak bola inggris

Mohamed Salah. (Reuters)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Sadar atau tidak, dalam satu dekade terakhir, dunia sepak bola berjalan begitu monoton. Protagonis utama hanya menyertakan dua nama, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Dominasi keduanya dapat terlihat jelas dari daftar peraih gelar Ballon d'Or sejak tahun 2008. Menjadikan poros persaingan hanya milik Ronaldo dan Messi. Sementara nama sekaliber Neymar hingga Antoine Griezmann sebatas hadir sebagai orang ketiga. 

Tidak dapat ditampik bahwa persaingan antara Ronaldo dan Messi hadir sebagai yang paling ketat sepanjang sejarah sepak bola dunia. Namun, perlu disadari bahwa publik sudah merasa jenuh, sehingga sepak bola dunia tampaknya memerlukan figur dan raja baru.

Lalu bagaimana dengan tahun 2018? Seperti biasa. Bayern Munchen dan Paris Saint Germain masih menguasai liga domestik tanpa perlawanan berarti. Dari Spanyol, hadir Barcelona sebagai kandidat utama juara. Sementara Pep Guardiola sudah duduk nyaman setelah memastikan Manchester City menyegel gelar juara Premier League.

Tidak ada kejutan berarti selayaknya kisah Leicester City dua tahun lalu. Satu-satunya kejutan hadir lewat pemain berdarah Mesir yang kini tengah membela Liverpool. Tidak lain dan tidak bukan adalah Mohamed Salah.

Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai tahunnya Salah. Dia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika dan berhasil membawa Negeri Firaun menapaki Piala Dunia di Rusia. Salah juga terpilih sebagai Pemain Terbaik versi Asosiasi Sepak Bola Inggris. Bahkan, torehan gol yang dicetak Salah melebihi raihan Ronaldo dan Messi. Sampai saat ini, Salah telah mencetak 43 gol dari 47 penampilannya di semua liga. Sementara Ronaldo dan Messi, masing-masing mengemas 42 serta 40 gol.

"Dominasi Ronaldo dan Messi sudah harus berakhir. Salah adalah pemain tersebut. Dia bukan striker, tapi torehan golnya sangat luar biasa," ujar mantan pemain Arsenal, Ian Wright seperti dikutip dari Goal, Rabu (25/4/2018).

Apa yang dilakukan Salah bagi Liverpool di musim ini memang terbilang spektakuler. Salah membawa publik The Red kembali mengenang romansa Istanbul saat berhasil mengalahkan AC Milan secara dramatis dalam laga final Liga Champions tahun 2005.

Kenangan tersebut hadir ketika Salah mempersembahkan dua gol dan dua asist bagi Liverpool pada leg pertama semifinal Liga Champions melawan Roma. Pada laga tersebut, Liverpool berhasil menang 5-2 yang berarti menyimpan satu kakinya di laga final.

Seorang jurnalis BBC, John Bennett, menyebut bahwa Salah tidak hanya akan mendapatkan Ballon d'Or, tapi juga Nobel, Pulitzer (penghargaan untuk karya jurnalistik, sastra dan musik), hingga Turner (penghargaan untuk karya seni visual di Inggris). 

"Jika Mohamed Salah dapat mempertahankan performanya, maka dia akan meraih Ballon d'Or. Dia juga akan meraih Nobel, Pulitzer, bahkan Turner," ujar Bennett seperti dikutip dari BBC.

Pujian paling ekstrem yang dialamatkan kepada Salah adalah ketika para Liverpudlian bernyanyi dengan lirik sangat sensitif. Pasalnya, dalam nyanyian tersebut tersirat makna sebuah keberanian untuk menggadaikan keyakinan demi mendukung Salah.

"Mo Salah. Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Jika dia mencetak gol lagi, maka aku akan menjadi Muslim juga. Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Duduk di Masjid itulah tempat di mana aku ingin berada," begitulah kiranya lirik dalam nyanyian tersebut.

Terlepas dari permainannya di atas lapangan, Salah memang menjadi wajah Muslim di tengah isu Islamofobia yang melanda Eropa. Setidaknya Salah dapat menunjukan wajah Muslim yang selama ini luput dari media, yakni Islam yang damai dan modern.

Walau berhasil mencairkan suasana, tapi agenda tentang Islamofobia memang bukan tugas Salah. Namun, setidaknya sejarah mencatat bahwa pernah ada seorang anak muda Mesir yang tanpa kehendaknya dapat membuat sebagian penduduk Inggris bernyanyi tentang menjadi Muslim.

Editor: Asri Wuni Wulandari
dewanpers