web analytics
  

Agama Diprediksi Bakal Punah di 9 Negara Ini

Minggu, 18 Maret 2018 19:30 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Umum - Internasional, Agama Diprediksi Bakal Punah di 9 Negara Ini, Agama, punah

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah studi yang menggunakan data sensus dari sembilan negara menunjukkan bahwa agama di sembilan negara tersebut diprediksi bakal mengalami kepunahan. Studi ini menemukan kenaikan pada mereka yang mengklaim tidak memiliki afiliasi keagamaan.

Model matematika dicoba untuk mempertanggungjawabkan keterkaitan antara jumlah responden religius dan motif sosial menjadi satu kajian. Hasilnya, penelitian yang dilaporkan pada pertemuan American Physical Society di Dallas, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa agama akan mati di negara-negara tersebut.

Tim tersebut mengambil data sensus yang membentang sejauh satu abad dari negara-negara di mana sensus tersebut. Selain itu, tim juga menanyakan afiliasi keagamaannya, yakni di negara Australia, Austria, Kanada, Republik Cheska, Finlandia, Irlandia, Belanda, Selandia Baru dan Swiss.

Cara mereka menganalisis data sensus dengan menggunakan dinamika nonlinier, yakni pendekatan matematis yang telah digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena fisik dengan sejumlah faktor yang berperan.

Salah satu anggota tim, Daniel Abrams dari Northwestern University mengemukakan, model penelitian serupa pada tahun 2003 untuk menempatkan basis numerik di balik kemunduran bahasa dunia yang kurang diucapkan telah digunakan. Hal serupa didapat. Intinya adalah kompetisi antara penutur bahasa yang berbeda, dan "utilitas" untuk berbicara satu sama lain.

"Ide yang diambil memang sangat sederhana," kata Richard Wiener dari Research Corporation for Science Advancement dan University of Arizona.

Richard berpendapat bahwa kelompok sosial yang memiliki lebih banyak anggota akan lebih menarik untuk bergabung, layaknya studi afiliasi keagamaan. Pasalnya ia berpendapat bahwa kelompok sosial memiliki status sosial atau utilitas. 

"Misalnya dalam bahasa, bisa ada utilitas atau status yang lebih besar dalam berbicara bahasa Spanyol dan bukan Quechuan di Peru. Hal serupa bisa digunakan pada semacam status atau utilitas untuk menjadi anggota sebuah agama atau tidak," katanya.

Richard melanjutkan, di sejumlah besar negara demokrasi sekuler modern laiknya sembilan negara tersebut, ada kecenderungan bahwa orang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang yang tidak berafiliasi dengan agama

Bahkan data yang terangkum yakni di Belanda jumlahnya 40%, sementara yang  menjadi tertinggi ada di Republik Ceko, di mana jumlahnya 60%.

Tim kemudian menerapkan model dinamika nonlinier mereka untuk menyesuaikan parameter untuk kepentingan sosial dan utilitarian relatif dari keanggotaan kategori "non-religius".

Mereka menemukan bahwa parameter tersebut serupa di semua negara yang dipelajari, negara Australia, Austria, Kanada, Republik Cheska, Finlandia, Irlandia, Belanda, Selandia Baru dan Swiss. Ke sembilan negara ini menunjukkan bahwa perilaku serupa. Dan di semua negara, indikasi bahwa agama menuju kepunahan.

Namun, Richard mengatakan bahwa timnya terus berusaha memperbarui model dengan "struktur jaringan" yang lebih representatif dari yang bekerja di dunia saat ini.

"Tentunya kita tidak begitu percaya data ini adalah struktur jaringan masyarakat modern, di mana setiap orang dipengaruhi secara merata oleh  orang lain di lingkungan masyarakatnya," katanya.

Namun, dia mengatakan kepada BBC News, jika menurutnya itu adalah hasil sugestif. "Sangat menarik bahwa model yang cukup sederhana ini bisa menangkap data. Dan jika gagasan sederhana itu benar, itu menunjukkan ke mana arah ini," katanya.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers