web analytics
  

Tol Air Pagarsih, Solusi Atasi Banjir?

Rabu, 28 Februari 2018 12:29 WIB Arfian Jamul Jawaami
Bandung Raya - Bandung, Tol Air Pagarsih, Solusi Atasi Banjir?, Tol Air Pagarsih, Solusi, Banjir?

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Kota Bandung terus berupaya mengatasi permasalahan banjir yang kerap terjadi akibat tingginya curah hujan sejak akhir tahun 2017 lalu.

Salah satu bentuk konkret adalah dengan membangun tol atau basement air di Jalan Pagarsih yang dilakukan sejak akhir tahun 2017 dan rampung pada awal Februari 2018 lalu.

Tidak main-main lantaran Pemerintah Kota Bandung menghabiskan anggaran hingga mencapai Rp11 miliar untuk membangun tol air sepanjang 220 meter tersebut.

Alih-alih menyelesaikan permasalahan, kehadiran tol air justru dinilai tidak dapat menahan banjir di daerah Pagarsih. Bukti paling nyata terjadi beberapa hari lalu ketika Pagarsih tetap dilanda banjir setinggi 50 hingga 70 centimeter. Bahkan jalan tersebut sempat tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. 

"Tol air hanya akan memindahkan banjir ke tempat lain di hilir. Itu yang membuat tempat lain jadi banjir," ujar pengamat lingkungan dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin kepada ayobandung, Rabu (28/2/2018).

Artinya, tol tersebut memiliki fungsi untuk mengalirkan genangan di kawasan banjir menuju daerah sumber air seperti Sungai Citarum. Akan tetapi, banjir akan tetap terjadi jika air hanya dialirkan ke daerah lain di Kota Bandung lantaran jalur tol pendek. Itu hanya akan menambah daftar daerah yang tergenang banjir.

Permasalahan hadir lantaran jarak antara Pagarsih dengan Sungai Citarum terbilang cukup jauh. Sehingga dibutuhkan pompa dan jalur tol yang panjang untuk dapat mengalirkannya menuju Sungai Citarum.

"Kalau hanya dialirkan ke sekitar Kota Bandung akan sulit. Maka berikan ruang untuk jalan air agar dapat mengalir dengan bebas. Maka warga jangan membuang sampah ke selokan saat kemarau," ujar Sobirin.

Namun, kini beberapa kawasan sungai yang mengitari Kota Bandung seperti Citepus, Cicadas, Cikapundung dan lainnya ternyata sudah dipenuhi oleh bangunan beton. Sehingga jalur air menjadi sempit. 

"Tol air oke, tapi tidak cukup. Tetap, jalur sungai jangan dipersempit oleh rumah. Tidak ada jalan lain bagi Kota Bandung untuk memberikan ruang dan kesehatan pada 47 sungai yang mengitarinya," tutup Sobirin. 
 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers