web analytics
  

Bandung Pernah Hampir Jadi Ibu Kota Indonesia

Selasa, 20 Februari 2018 12:58 WIB Arfian Jamul Jawaami

Gedung Sate. (Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)

TAMANSARI, AYOBANDUNG.COM -- "Batavia adalah Ibu Kota Hindia Belanda. Sementara Bandung adalah ibu kota perjuangan," ujar tokoh masyarakat Jawa Barat, Tjetje Hidayat Padmadinata beberapa waktu lalu.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, terdapat tiga kota yang pernah dijadikan sebagai ibu kota negara selain Jakarta yakni Yogyakarta, Bukittinggi dan Bireuen di Aceh walau hanya berlangsung selama satu minggu.

Namun jauh sebelum itu, Pemerintahan Hindia Belanda sempat berencana menjadikan Bandung sebagai ibu kota negara. Rencana tersebut terjadi sekitar tahun 1920. 

Bahkan saat kependudukan Nazi Jerman di Belanda, Pemerintah Negeri Tulip memiliki ide untuk menjadikan Bandung sebagai pusat Kerajaan Belanda di pengasingan.

Adapun pemindahan ibu kota dari Jakarta menuju Bandung didasarkan pada beberapa faktor, salah satunya berkat saran dari seorang ahli kesehatan lingkungan di Semarang bernama Tillme. 

Lewat studinya, Tillme mengungkapkan bahwa kualitas fisik Jakarta dan beberapa kota lain di pantai utara Pulau Jawa kurang sehat dan tidak ideal bagi pusat administrasi pemerintahan. Sehingga disarankan untuk memindahkan ibu kota ke daerah yang lebih pedalaman yang lebih segar.

"Tillme mengatakan bahwa Batavia dan kota di pesisir pantai sudah tidak sehat dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Maka dipilihlah Bandung mengingat letaknya yang jauh dari pantai," ujar Koordinator Komunitas Aleut, Rulfhi Alimudin pada ayobandung, Senin (19/2/2018).

Pembangunan Gouvernements Bedrijven atau Gedung Sate menjadi bukti dan penanda bahwa Pemerintah Hindia Belanda berencana memindahkan ibu kota menuju Bandung. 

Pasalnya Gedung Sate memiliki peran layaknya Dinas Pekerjaan Umum yang akan merancang beberapa bangunan pusat pemerintahan lainnya. "Rencananya, dari Gedung Sate sampai Monumen Perjuangan akan dijadikan komplek pemerintahan," ujar Rulfhi.

Selain Gedung Sate, pembangunan lain yang menjadi bukti rencana pemindahan ibu kota tersebut adalah pendirian Stasiun Kereta Api yang beroperasi sejak tahun 1884 serta Jalan Raya Pos oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Sementara di sektor pendidikan mulai dibangun beberapa sekolah semisal Kweekschool di tahun 1866, pendidikan Pamongpraja MOSVIA dan OSVIA pada 1879 serta Technische Hoogesschool (kini Institute Teknologi Bandung) pada tahun 1920.

"Di Bandung juga didirikan pusat militer bagi Hindia Belanda yang kini bangunannya digunakan oleh Kodam III Siliwangi. Lalu pabrik produksi senjata Pindad juga dipindahkan ke Bandung dari Surabaya," ujar Rulfhi.

Namun rencana pemindahan ibu kota tersebut meski gagal lantaran terjadi krisis global malaise yang melanda pada tahun 1930. "Krisis malaise membuat rencana Hindia Belanda tidak jadi," ujar Rulfhi.

Selanjutnya Bandung terus mengalami pembangunan infrastruktur yang terbilang pesat. Menjadikan status Bandung semula sebagai gemeente menjadi stadsgemeente atau kota besar. 

Pada dasarnya Bandung memang lahir berkat sebuah rencana yang matang. Di usianya yang terbilang muda, Bandung telah menjadi salah satu kota penting, baik bagi Hindia Belanda maupun Indonesia di saat ini.

Salah satu buktinya adalah perpindahan Ibu Kota Priangan yang ketika itu berada Cianjur menuju Bandung oleh Residen Van der Moore lantaran meletusnya Gunung Gede pada tahun 1864.

Akan tetapi pada awal Maret 1942, Kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda sempat berpindah ke Bandung selama beberapa hari. Pasalnya, ketika itu posisi Belanda tengah terdesak oleh invasi Pemerintah Jepang ke Indonesia. 

Pasca kemerdekaan, Presiden Soekarno pernah melirik Bandung sebagai ibu kota Indonesia. Rencana tersebut telah disiapkan sejak tahun 1951 melalui blueprint berisi peta dan gedung pemerintahan.

Rencana tersebut pernah dijadikan headline pemberitaan oleh surat kabar Pikiran Rakyat edisi 23 September 1957 dengan judul "Bandung Sudah Siap Dengan Nota dan Blueprint Ibu Kota."
 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers